Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Advertisement

9 Keris pusaka paling sakti dan paling dicari ditanah Jawa

Hartalangit.com – Keris merupakan benda pusaka yang syarat akan makna tentang nilai-nilai kehidupan dan juga kental dengan muatan spiritual. Sebagai orang Jawa, tentunya kita perlu memahami makna/filosofi dan ajaran-ajaran yang terkandung secara simbolis dari Keris pusaka yang merupakan warisan budaya adiluhung dari para leluhur tanah Jawa, serta berupaya untuk melestarikannya agar generasi berikutnya bisa mengenal budayanya dan tidak salah kaprah dalam memahami budayanya sendiri.

Baca juga: Keris dan Syirik

Selain syarat akan makna, Keris juga merupakan benda pusaka yang memiliki kekuatan ghaib atau kesaktian yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan tertentu. Cerita tentang Kesaktian Keris juga selalu mengiringi perjalanan Negeri ini dari masa ke masa,  mulai dari cerita tentang kesaktian Keris Empu Gandring milik Ken Arok, Keris Kyai Brongot Setan Kober milik Arya Penangsang, Keris Korowelang milik Pangeran Samber Nyowo, Keris Kyai Nogo Siluman milik Pangeran Dipo Negoro dan masih banyak lagi kisah-kisah lain tentang Keris yang hampir semuanya dikisahkan memiliki kesaktian yang digunakan oleh pemiliknya dalam perjuangan membela Negara atau untuk meraih tujuan-tujuan besar.

Keris bukanlah senjata biasa, karena Keris memang sengaja dibuat bukan hanya sebagai senjata untuk bertarung/berperang saja, tapi lebih dikhususkan sebagai sipat kandel sehingga dalam proses pembuatannya memang berbeda dengan proses pembuatan senjata-senjata lain yang hanya berfungsi sebagai senjata fisik saja.

Keris dibuat menggunakan beberapa logam pilihan yang sudah memiliki energi alami, kemudian logam-logam yang berbeda jenis dan energinya tersebut disatukan/diramu dengan cara tempa lipat berkali-kali, bahkan ada yang sampai ribuan kali. Pada setiap lipatannya akan disisipkan mantra-mantra atau doa-doa yang dipanjatkan kepada SANG PENCIPTA dan di iringi dengan ritual serta laku tirakat tertentu yang dilakukan oleh sang empu sebelum mulai membabar Keris. Jika semua proses tersebut, dari mulai laku tirakat, ritual sampai proses pembuatan Keris berjalan dengan sempurna maka akan tercipta sebilah Keris yang ampuh seperti yang diharapkan.

Baca juga: Proses panjang pembuatan sebilah Keris

Ada beberapa dhapur Keris yang sangat terkenal dengan keampuhan atau kesaktiannya sehingga banyak dicari untuk dijadikan sebagai sanana melanggengkan kekuasaan, untuk menambah kewibawaan, untuk penundukan, untuk menghindari masalah,untuk  kejayaan, untuk kerejekian, atau untuk tujuan-tujuan lainnya. Karena banyaknya orang yang mencari biasanya nilai mahar untuk Keris-Keris tersebut menjadi sangat tinggi.

Berikut ini 9 Keris pusaka paling ampuh dan paling dicari di tanah Jawa sejak jaman dulu hingga sekarang:

1. Keris Nogo Sosro

gambar keris nogo sosro asli sepuh
Keris Nogo Sosro

Keris Nogo Sosro adalah salah satu dhapur Keris Naga yang paling populer dan sangat legendaris. Bentuk Keris ini sangat indah, ber-luk 13 dengan gandhik berbentuk kepala Naga memakai mahkota narpati lengkap dengan badan utuh bersisik yang menghiasi bilah Keris dari bawah sampai ujung Keris dan biasanya juga dihiasi kinatah emas serta pada bagian mulut Naga yang menganga sering disumpal dengan butiran emas atau batu mulia.

Baca juga: Perbedaan bentuk dan tuah Keris Nogo Sosro, Nogo Rojo dan Nogo Siluman

Keris ini banyak dicari oleh para kolektor Tosan Aji karena merupakan sebuah kebanggan jika dapat memiliki koleksi Keris Nogo Sosro yang asli dan sepuh. Keris ini juga banyak dicari oleh para pemimpin dan para pejabat tinggi untuk dijadikan sebagai ageman karena menurut kepercayaan masyarakat Jawa, konon seorang pemimpin tidak akan dapat bertahan lama menduduki singgasana kekuasaannya tanpa didukung dengan ageman/piandel berupa pusaka-pusaka sakti. Salah satu pusaka yang tuahnya paling kuat untuk menopang kekuasaan adalah Keris Nogo Sosro.

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa, hal ini di anggap lumrah dan sudah menjadi kepercayaan turun temurun dari jaman dahulu, bahkan sampai sekarang masih banyak yang meyakini bahwa seorang pemimpin harus memiliki pusaka untuk memangku atau menopang kekuasaanya agar tidak cepat runtuh dan memiliki wibawa yang besar dimata rakya atau bawahannya.

Ini bukan hanya cerita tentang para Raja dan Sultan di masa lalu saja, karena pada kenyatannya para pemimpin dan para pejabat tinggi Negeri ini sampai sekarang masih banyak yang memiliki ageman berupa benda-benda pusaka seperti Keris atau yang lainnya, karena mereka percaya dengan memiliki piandel pusaka maka apa yang menjadi tujuannya akan lebih mudah tercapai.

Tapi memang kenyataannya sampai saat ini hanya orang-orang keturunan Jawa saja yang dapat memimpin Negeri ini dalam waktu yang lama, dan rata-rata pasti memiliki Keris atau benda-benda pusaka ampuh lainnya sebagai pegangan/piandelnya.

Di kalangan para penganut spiritual Kejawen, ada sebuah kepercayaan bahwa pusaka paling sakti yang bisa membantu melanggengkan kekuasaan setingkat Raja atau Pimpinan Negara adalah Keris Nogo Sosro, karena Keris yang di anggap sebagai Rajanya pusaka ini memang dibuat khusus untuk kewibawaan seorang Raja dan pengayoman.

Keris Nogo Sosro pertama kali diciptakan oleh Pangeran Sedayu (Empu Supo Mandrangi) atas titah dari Prabu Brawijaya karena pada saat itu Kerajaan Majapahit sedang dalam keadaan genting akibat banyaknya pemberontakan dan bencana dimana-mana. Maka untuk meredam pagebluk tersebut Prabu Brawijaya memerintahkan Empu Supo Mandrangi untuk membabar sebilah Keris pusaka yang bermotifkan Naga dengan 1000 sisik yang memiliki makna bahwa pusaka tersebut merupakan perlambang kekuatan untuk menolak dan membentengi Kerajaan dari 1000 macam bencana dan masalah.

Nogo Sosro juga merupakan simbol kepemimpinan yang adil dan bijaksana, maknanya bahwa Naga yang merupakan simbol kekuasaan harus mampu mengayomi rakyatnya dari semua kalangan dan semua golongan tanpa pandang bulu yang disimbolkan dengan sisik 1000.

Sedangkan butiran emas atau batu mulia yang sering digunakan untuk menyumpal mulut Naga dimaksudkan untuk meredam aura panas dari Keris tersebut. Tapi makna sesungguhnya dari emas atau batu mulia yang disumpalkan pada mulut Naga adalah sebagai pesan agar segala sesuatu yang keluar dari mulut seorang pemimpin hendaknya adalah sesuatu yang baik atau mulia karena ucapan seorang Raja merupakan sabda (Sabdo pandhito ratu tan keno wola-wali).

Dengan keterampilan dan kesaktian Empu Supo Mandrangi, maka terciptalah sebilah Keris pusaka yang bentuknya sangat indah yang dinamakan Keris Nogo Sosro. Keris Nogo Sosro bukanlah Keris biasa seperti kebanyakan Keris pusaka lainnya. Konon Keris ini mewakili wahyu/pulung kekuasaan karena orang yang dapat memiliki Keris Nogo Sosro yang asli berarti orang tersebut ketempatan wahyu/pulung kekuasaan.

Keris Nogo Sosro yang memiliki aura perbawa sangat besar yang tidak dimiliki oleh Keris-Keris lainnya karena Keris ini bukan merupakan ageman untuk orang biasa, tapi merupakan pusaka untuk memangku sebuah Negara. Jadi hanya seorang pemimpin Negara atau calon pemimpin Negara saja yang dapat memilikinya. Tapi tentunya hanya Keris Nogo Sosro yang asli saja yang memiliki tuah sehebat itu, bukan Keris berdhapur Nogo Sosro yang dibuat sebagai souvenir atau yang dibuat hanya menonjolkan keindahan nilai seninya saja tanpa melalui ritual apapun karena Keris berdhapur Nogo Sosro jaman dulu juga banyak dipesan oleh orang-orang kaya yang ingin memiliki Keris mewah bertahtakan emas untuk menunjukkan status sosialnya.

Karena kehebatannya itulah yang menjadikan Keris Nogo Sosro banyak diburu oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan, mereka lupa bahwa wahyu/pulung kekuasaan tidak bisa dicari, karena wahyu/pulung kekuasaan hanya akan datang pada orang-orang terpilih saja (isi kang nggoleki wadah, dudu wadah kang nggoleki isi).

Dari kepercayaan itulah kemudian banyak orang yang datang kepada paranormal dan para praktisi supranatural untuk mencari Keris Nogo Sosro meskipun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit sebagai maharnya. Padahal kebanyakan Keris Nogo Sosro yang ada saat ini merupakan Keris buatan baru yang tidak memiliki tuah apapun karena Keris tersebut dibuat oleh pengrajin Keris tanpa melalui ritual apapun. Tapi kadang meskipun Keris buatan baru, garapnya begitu halus dan rapi, bahkan ada yang menggunakan material dari Keris-Keris tua yang dilebur dan diproses kembali menjadi Keris baru serta memakai kinatah emas asli. Jika sudah diproses, maka Keris baru tersebut akan sangat mirip dengan Keris sepuh.

Ambisi untuk memiliki Keris Nogo Sosro seringkali membuat orang keblondrok membeli Keris Nogo Sosro baru atau palsu yang dikatakan sepuh dan asli dengan nilai yang sangat fantastis. Banyaknya peminat Keris Nogo Sosro yang kebanyakan merupakan orang-orang kelas atas, kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan dengan memesan Keris dhapur Nogo Sosro baru kepada para pengrajin Keris lalu diproses lagi sedemikian rupa agar terlihat seperti Keris sepuh dan dijual dengan harga yang tinggi.

Praktek pen!puan seperti ini sudah ada sejak lama dan sampai saat ini masih tetap berlangsung karena keuntungan yang didapat dari bisnis ini memang sangat menggiurkan. Padahal Keris Nogo Sosro termasuk Keris langka karena pada jaman dahulu hanya para penguasa dan orang-orang kalangan atas saja yang bisa memiliki Keris ini sehingga jumlahnya sangat terbatas.

2. Keris Sabuk Inten

gambar keris sabuk inten asli sepuh
Keris Sabuk Inten

Keris Sabuk inten adalah salah satu dhapur Keris luk 11 dengan ukuran panjang bilah normal. Permukaan bilahnya ada yang nglimpo dan ada juga yang nggigir sapi karena memakai odo-odo. Ricikan pada Keris Sabuk inten, antara lain: kembang kacang, jalen, lambe gajah satu, sogokan rangkap, tikel alis, sraweyan, ri pandan dan greneng.

Keris Sabuk inten adalah salah satu Keris yang sangat populer dan banyak dicari para penggemar Tosan Aji karena dipercaya memiliki tuah untuk kemakmuran dan kejayaan. Dulu Keris Sabuk inten hanya dimiliki oleh orang-orang kalangan atas saja sebagai simbol status sosialnya. Keris Sabuk inten adalah lambang kemakmuran, kekayaan, kemuliaan, dan kemewahan.

Pada jaman Kerajaan Majapahit Keris Sabuk inten diciptakan untuk mewakili kaum pemilik modal atau orang-orang kaya sebagai simbol karahayon Kerajaan yang berdampingan dengan Keris Nogo Sosro yang mewakili kaum penguasa.

Dan sampai saat inipun secara filosofi hubungan kaum Sabuk inten (pengusaha) dengan kaum Nogo Sosro (penguasa) masih tetap harmonis dan bahkan para pemilik modal (pengusaha) terkesan dapat mengendalikan kaum penguasa dengan kekuatan finansialnya.

Hal itu dapat kita lihat dari kondisi politik dan ekonomi saat ini dimana kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah lebih banyak berpihak atau lebih menguntungkan kaum pemilik modal (pengusaha) daripada kaum bawah atau rakyat kecil (para buruh dan karyawan).

Dari situ dapat kita simpulkan bahwa Keris Sabuk inten adalah Keris yang paling sakti dibanding Keris-Keris lainnya, bahkan lebih sakti dari Keris Nogo Sosro yang mewakili kewibawaan dan kekuasaan, Keris Sengkelat yang mewakili kekuatan dan kewibawaan, Keris Singo Barong yang mewakili keberanian dan kesaktian, dan masih banyak Keris-Keris lainnya yang sekarang ini sudah tidak punya taji lagi untuk melawan kekuatan Keris Sabuk inten. Jaman kolo bondho, siapa yang punya banyak harta (bondho), dialah yang akan menang dan terhormat.

Apalagi dijaman sekarang ini yang semuanya dinilai dengan materi, maka kesaktian Keris Sabuk inten secara filosofi semakin tidak tertandingi oleh Keris-Keris lainnya. Semuanya bisa dipastikan tidak berdaya menghadapi kaum pemilik modal yang disimbolkan bersabuk intan. Semuanya bisa dipastikan silau dengan gemerlapnya intan (harta benda) yang dimiliki para kaum Sabuk inten.

Orang yang memakai sabuk/ikat pinggang dari intan adalah gambaran dari orang yang sudah bergelimang harta kekayaan karena pada umumnya intan dan permata hanya dipakai sebagai mata cincin atau liontin kalung. Jika intan dibuat menjadi sabuk/ikat pinggang berarti orang yang memakainya sudah kelebihan harta. Dan semua kekuasaan, kewibawaan, kekuatan serta kesaktian bisa dipastikan akan tunduk dihadapan orang yang memakai Sabuk inten atau orang yang memiliki kekuatan finansial.

Itulah filosofi keampuhan Keris Sabuk inten yang merupakan Keris paling sakti dari jaman dahulu hingga sekarang yang tetap bisa berdampingan mesra dengan penguasa dan bahkan cenderung mengendalikannya.

Tapi selain untuk menggambarkan kondisi sosial masyarakat dari masa ke masa, sebetulnya ada makna lain dari Keris Sabuk inten yang merupakan tuntunan hidup bagi pemiliknya agar dapat meraih "kamulyan" atau kejayaan.

Jika dilihat dari arti katanya, "Sabuk" atau ikat pinggang bagi orang Jawa adalah perlambang suatu usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh serta laku prihatin untuk mencapai cita-cita, atau istilahnya: mengencangkan ikat pinggang. Dalam istilah Jawa "sregep iku agawe kamulyan" artinya, berusaha dengan sungguh-sungguh itu akan menjadikan kemuliaan/kejayaan. Sedangkan kemewahan duniawi, kekayaan, kemakmuran dan kemuliaan disimbolkan dengan "Inten" atau intan.

Inten/intan adalah batu mulia yang indah gemerlapan bernilai tinggi dan hanya orang-orang kalangan atas saja yang dapat memiliki perhiasan mewah seperti intan dan permata. Oleh sebab itulah kehidupan yang bergelimang harta kekayaan di ibaratkan seperti gemerlapnya inten/intan. Keris Sabuk inten adalah simbol harapan agar orang yang memiliki Keris ini dapat memiliki kehidupan yang mulia, kaya raya dan bisa meraih semua cita-citanya.

Keris Sabuk inten juga merupakan sebuah pesan atau pelajaran bagi pemiliknya agar senantiasa mawas diri bahwa hidup ini adalah kawelasan/belas kasih dari TUHAN yang disimbolkan dengan luk 11 yang dalam bahasa Jawa disebut "sewelas" dan dimaknai sebagai kawelasan.

Oleh karena itu, kita juga harus memancarkan sifat kawelasan atau welas asih itu terhadap sesama, karena Manusia yang mampu menjadikan belas kasih sebagai sabuk kehidupan, maka dia akan berhasil menempuh kehidupan dengan baik, karena kehidupannya akan selalu dinaungi kawelasan atau belas kasih dari TUHAN.

Keris Sabuk inten adalah sebuah semangat dan harapan untuk dapat hidup penuh kemuliaan dengan semangat kerja keras mengencangkan ikat pinggang dan tentu saja dengan selalu mengharapkan kawelasan/belas kasih TUHAN YANG MAHA KUASA.

Dengan memiliki semangat dan harapan maka kita akan bisa menggali semua potensi yang ada untuk dapat meraih cita-cita, dan tentu saja dengan tetap mengharapkan kawelasan/belas kasih TUHAN agar dapat menjadi kaum Sabuk inten atau orang yang bergelimang harta dan kemewahan.

Itulah tuah dari Keris Sabuk inten yang merupakan manifestasi dari do'a-do'a yang dipanjatkan dan juga laku tirakat yang dilakukan oleh Empu pembuatnya agar pemilik Keris Sabuk inten selalu mendapat kawelasan/belas kasih dari TUHAN YANG MAHA KUASA untuk bisa menjadi orang yang bergelimang harta, kemewahan, kemuliaan, dan kejayaan.

3. Keris Sengkelat

gambar keris sengkelat asli sepuh
Keris Sengkelat

Keris Sengkelat adalah salah satu dhapur Keris luk 13 yang paling terkenal keampuhannya. Ukuran panjang bilahnya normal dengan permukaan bilah ada yang nglimpo dan ada juga yang nggigir sapi karena memakai odo-odo. Ricikan Keris ini, antara lain: kembang kacang, jalen, lambe gajah satu, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng.

Baca juga: Perbedaan Keris Sengkelat dan Keris Parung Sari (Bentuk, Filosofi dan Tuah)

Nama Sengkelat adalah singkatan dari "sengkel atine" atau "sengkeling ati" yang artinya dongkol hatinya (marah/kecewa). Awalnya, Keris Sengkelat dibuat untuk mewakili kondisi rakyat Majapahit yang merasa tidak puas dengan kebijakan pemerintah atau penguasa yang lebih mengutamakan kepentingan kaum pemilik modal atau para pengusaha yang dilambangkan dengan Keris Sabuk inten.

Cerita tentang pertarungan Keris Sengkelat melawan Keris Sabuk inten dan Keris Nogososro merupakan gambaran dari kondisi masyarakat pada waktu itu. Bahkan kondisi tersebut sebetulnya juga masih terjadi sampai saat ini.

Keris Nogososro yang melambangkan Penguasa dan Keris Sabuk inten yang melambangkan pengusaha/kaum pemilik modal memiliki hubungan yang harmonis dan hal itu membuat Keris Sengkelat yang mewakili masyarakat bawah menjadi meradang dan melakukan perlawanan.

Itulah salah satu keistimewaan Keris yang tidak dimiliki oleh senjata-senjata lainnya. Keris bukan hanya berfungsi sebagai senjata fisik saja, tapi juga merupakan alat politik dan dakwah yang ampuh.

Pesan sesungguhnya dari Keris Sengkelat adalah untuk mengingatkan para penguasa agar tidak mengabaikan nasib rakyatnya, agar para penguasa tau bahwa rakyatnya sedang "sengkel atine" atau kecewa karena pemimpinannya tidak mengutamakan kepentingan rakyatnya tapi justru lebih mengutamakan kepentingan dirinya dan golongannya dengan membuat kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil.

Keris Sengkelat adalah sebuah pesan tersirat untuk para penguasa agar mau melihat dan turun kebawah, supaya mereka lebih memperhatikan kondisi rakyatnya yang "sengkel atine". Jangan sampai rakyatnya merasa tidak puas dengan kepemimpinannya, jangan sampai rakyatnya marah karena sudah sekian lama merasa "sengkel atine" melihat perilaku para penguasa dan aparatur Negara yang tidak berpihak pada rakyat kecil, jangan sampai rakyat mengerahkan kekuatannya dan melakukan perlawanan karena kekuatan rakyat yang marah tidak akan bisa dibendung.

Itulah kenapa Keris Sengkelat yang pertama kali dibuat oleh Mpu Supo Mandrangi diberikan kepada Prabu Brawijaya, tujuannya agar sang Raja mengerti dengan kondisi rakyatnya yang merasa "sengkel atine" karena kondisi kerajaan Majapahit pada waktu itu sedang tidak stabil.

Angka 13 sendiri dalam khasanah Jawa dimaknai sebagai "las-lasaning urip", masa-masa akhir kehidupan atau melambangkan kasepuhan.

Ada pengertian lain bahwa luk 13 juga memiliki arti "tri welas", yaitu: welas ing sesami, welas ing sato iwen, lan welas ing tetuwuhan. Semua ini diarahkan kepada keselarasan antara Manusia, lingkungan dan TUHAN.

Angka 13 juga dianggap sebagai penolak bala, karena terdiri dari angka 1 (angka pertama) yang memiliki makna permulaan, tunggal dan ke-Esa-an yang melambangkan ke-Tuhanan. Sedangkan angka 3 adalah angka ganjil yang mencerminkan keseimbangan hidup. Dalam kehidupan ini ada 3 perkara yang selalu berkaitan dengan Manusia, contohnya:

- Ada 3 perkara dalam hidup yang tidak mungkin kembali, yaitu: waktu, ucapan dan kesempatan. Jadi sebisa mungkin manfaatkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, menjaga ucapan kita agar tidak menyakiti orang lain (karena mulutmu adalah harimaumu) dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

- Ada 3 perkara yang tidak kita mengerti dengan pasti, yaitu: rejeki, umur dan jodoh.

- Ada 3 perkara dalam hidup yang pasti terjadi, yaitu: tua, sakit dan mati. Oleh karena itu persiapkanlah masa-masa itu dengan sebaik-baiknya karena ketika Manusia sudah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do'a anak yang sholeh.

Dari sisi isoteri, Keris Sengkelat memang diciptakan dengan tuah kewibawaan yang sangat besar untuk menandingi kekuatan Keris Nogo Sosro dan Keris Sabuk inten, sehingga secara wujud fisik Keris Sengkelat memang memiliki perbawa yang sangat besar.

Kesan pertama ketika menghunus Keris Sengkelat dari warangkanya adalah pancaran perbawa yang begitu besar dari Keris ini. Maka tidak heran jika Keris ini menjadi sangat populer dikalangan para penggemar Tosan Aji dan banyak dicari oleh para pemimpin dan para pejabat tinggi yang memiliki banyak bawahan sebagai sarana atau piandel untuk menambah kewibawaan dan kharisma agar selalu dihormati dan disegani oleh para bawahannya serta orang-orang disekitarnya.

Orang yang memiliki Keris Sengkelat akan memiliki wibawa dan kharisma yang sangat besar sehingga akan dihormati dan disegani oleh semua orang. Sebagai seorang atasan, maka perintah dan keputusannya akan dipatuhi karena aura kewibawaannya yang besar akan membuat orang lain tunduk dan "pekewuh" dengan pemilik Keris Sengkelat.

4. Keris Singo Barong

gambar keris singo barong asli sepuh
Keris Singo Barong

Keris Singo Barong adalah salah satu Keris yang sangat terkenal kesaktiannya. Keris ini banyak diburu para penggemar dan kolektor Tosan Aji serta para pejabat pemerintah. Keris Singo Barong memiliki ciri khas pada gandhiknya yang diukir dengan hiasan berbentuk singa dengan kelamin tegang sebagai simbol kejantanan dengan ricikan tambahan berupa sraweyan, ri pandan dan greneng.

Biasanya mulut singa pada gandhik Keris Singo Barong sering disumpal menggunakan butiran emas atau batu permata. Tujuannya untuk meredam aura panas atau sifat galak dari Keris Singo Barong tersebut. Tapi makna sesungguhnya dari disumpalnya mulut singa adalah agar apa yang keluar dari mulut seorang pemimpin atau apa yang di ucapkannya adalah segala hal yang sifatnya mulia yang dilambangkan dengan batu mulia atau logam mulia.

Berbeda dengan Keris Nogo Sosro yang melambangkan kewibawaan dan kekuasaan seorang Raja/Pemimpin Negara, Keris Singo Barong merupakan simbol kekuasaan, ketegasan dan keberanian yang tidak hanya dimiliki oleh seorang Raja/Pemimpin tertinggi saja, tapi juga para Patih dan Senopati.

Keris Singo Barong merupakan pesan untuk para pemimpin, meskipun memiliki kekuasaan, kekuatan dan pengaruh yang besar tapi tetap harus bisa bersikap sebagai penghibur yang dapat memberikan kebahagiaan bagi orang-orang yang dipimpinnya, seperti Singo Barong (barongan), meskipun terlihat menyeramkan tapi tetap bisa menghibur.

Salah satu benda pusaka yang banyak diburu oleh para pecinta dan para kolektor Tosan Aji serta para pejabat Negara adalah Keris pusaka Singo Barong. Sejak dulu, Keris dengan gandhik berbentuk Singa jantan ini memang diyakini memiliki tuah dan perbawa yang sangat besar.

Tuah Keris Singo Barong akan membuat pemiliknya memiliki karakter tegas, pemberani dan kuat bagaikan singa jantan yang penuh kekuatan dan keberanian. Selain itu juga akan membuat pemilik atau pemegang Keris ini memiliki kewibawaan dan kharisma yang sangat besar.

Tuah Keris yang paling dasar adalah untuk perlindungan dari serangan ghaib/kejahatan. Jadi, selain tuah kesaktian dan kewibawaan, Keris Singo Barong juga akan memberikan tuah perlindungan bagi pemiliknya.

Keris Singo Barong termasuk salah satu Keris yang di anggap istimewa dan sangat langka. Energi ghaib pada Keris ini tergolong sangat kuat, dan jika kekuatan Keris ini sudah menyatu dengan pemiliknya, maka orang yang memegang Keris ini akan memiliki kekuatan dan karakter yang sangat kuat seperti singa jantan sehingga akan disegani oleh semua orang, baik kawan maupun lawan.

Tapi perlu diketahui bahwa tidak semua orang bisa cocok memiliki atau memegang Keris Singo Barong sebab Keris ini memiliki karakter yang keras/galak/panas, sehingga tidak cocok dimiliki oleh orang yang memiliki sifat keras dan emosional karena akan menjadikannya semakin brangasan dan tidak terkrontrol emosinya.

Efek negatif dari sebilah Keris akan muncul ketika Keris tersebut tidak cocok dengan pemiliknya, karena setiap Keris pusaka memiliki karakter yang berbeda-beda. Jadi, ketika karakter Keris tidak selaras dengan karakter pemiliknya, maka Keris tersebut tidak akan bisa dirasakan manfaatnya, bahkan terkadang justru akan membawa efek negatif bagi pemiliknya.

Oleh karena itu, sebaiknya pilihlah Keris pusaka untuk ageman yang benar-benar sesuai dengan karakter dan profesi kita agar Keris tersebut bisa dirasakan tuahnya, daripada memburu Keris-Keris dengan dhapur yang terkenal tapi tidak sesuai dengan karakter dan profesi kita. Jangan hanya karena ambisi dan kebanggaan kita jadi mengabaikan efek negatif yang ditimbulkan.

5. Keris Sempono Bungkem

gambar keris sempono bungkem asli sepuh
Keris Sempono Bungkem

Keris Sempono Bungkem adalah salah satu dhapur Keris Sempono yang agak berbeda dan paling istimewa dari Keris dhapur Sempono pada umumnya karena Keris ini memiliki luk 7, bukan berluk 9 seperti pakem Keris dhapur Sempono.

Ciri khas dari Keris Sempono Bungkem adalah pada ricikan kembang kacangnya yang bungkem atau menempel pada ghandiknya. Itulah kenapa Keris ini disebut Sempono Bungkem karena kembang kacangnya memang sengaja dibuat bungkem.

Keris Sempono Bungkem termasuk Keris yang sangat langka dan jarang sekali dijumpai tapi peminatnya sangat banyak karena Keris ini dipercaya memiliki tuah yang ampuh untuk penundukan dan pambungkem sehingga banyak dicari oleh orang-orang yang berprofesi sebagai hakim, jaksa, pengacara, sampai para pejabat tinggi pemerintahan.

Keris Sempono Bungkem dipercaya memiliki tuah ampuh yang dapat mempengaruhi atau menundukkan lawan bicara sehingga akan patuh dan tunduk pada semua perkataan pemilik Keris ini. Banyak yang percaya jika Keris Sempono Bungkem cocok dimiliki oleh orang-orang yang profesinya mengharuskan selalu berdebat atau beradu argumen, misalnya seorang Pengacara atau Pejabat yang memiliki banyak bawahan.

Keris Sempono Bungkem juga banyak dicari oleh orang-orang yang terjerat masalah hukum atau masalah hutang piutang karena mereka percaya dengan tuah Keris Sempono Bungkem sebagai salah satu sarana dukungan dari sisi supranatural, maka masalah-masalah yang sedang dihadapi akan bisa selesai dengan mudah seperti filosofi bungkem, yaitu terbungkam atau tertutup. Bahkan orang yang berniat jahat atau orang yang akan menagih hutang, ketika berhadapan dengan pemilik Keris Sempono Bungkem maka mulutnya seperti terbungkam tidak bisa berkata apa-apa dan lupa dengan tujuannya.

Karena kepercayaan akan tuah ampuh Keris Sempono Bungkem itulah yang menjadikan Keris ini terkenal dan banyak dicari, bahkan banyak orang yang rela membayarnya dengan harga (mahar) fantastis untuk ukuran sebilah Keris.

Kondisi tersebut kemudian banyak dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk mendapatkan keuntungan dengan cara memalsukan Keris lain menjadi Keris Sempono Bungkem. Misalnya saja Keris Sempono luk 9 dipotong menjadi luk 7 dan kembang kacangnya ditarik/ditekan sampai menempel pada gandhiknya sehingga menjadi bungkem, atau dijadikan kembang kacang pogok agar menyerupai Keris Sempono Bungkem yang asli.

Dalam bahasa Jawa, luk 7 disebut luk "pitu" yang dalam jarwo dosok, "pitu" dikaitkan dengan konsep "pitulungan" atau pertolongan. Sehingga apapun yang berkaitan dengan angka 7 bagi orang Jawa memiliki filosofi bahwa kita "nyuwun pitulungan" atau memohon pertolongan kepada TUHAN.

Bungkem artinya bungkam/diam yang memiliki makna bahwa kita sebagai Manusia harus belajar untuk bisa diam. Kembang kacang bungkem menjadi ciri khas atau penanda dari Keris Sempono Bungkem yang memiliki makna sangat dalam.

Tapi pemahaman umum yang terlanjur melekat pada Keris Sempono Bungkem adalah pada tuahnya yang dipercaya dapat membungkam atau menundukkan lawan bicara. Artinya, orang yang kita ajak bicara akan mendengarkan semua kata-kata kita, tunduk pada perintah kita dan tidak berani membantah ucapan kita jika kita memiliki Keris Sempono Bungkem.

Tapi sebetulnya jika mengkaji lebih dalam tentang makna pada Keris Sempono Bungkem, ada sebuah "piwulang" atau ajaran yang tersirat pada Keris Sempono Bungkem, yaitu mengajarkan kita untuk belajar diam.

Manusia mau tidak mau akan selalu terkait pada hukum sebab-akibat. Diam seharusnya tidak sekedar akibat, tapi diam seharusnya justru membuktikan laku hidup pada segala situasi, yaitu diam untuk menenangkan, membersihkan dan menjernihkan hati. Diam juga merupakan bagian penting dari sebuah komunikasi untuk mendengarkan orang lain. Keadaan ini juga sekaligus memberi ruang bagi kita untuk berpikir dan juga menanggapi.

Diam mengandung kehendak refleksi, karena diam itu adalah olah kesabaran, diam mengajarkan kita untuk mawas diri, diam itu mengejawantah diri. "Langit tidak perlu bersusah payah untuk menjelaskan bahwa dirinya tinggi, dan sampah tidak perlu berbicara bahwa dirinya kotor".

6. Keris Nogo Siluman

gambar keris nogo siluman asli sepuh
Keris Nogo Siluman

Keris Nogo Siluman adalah salah satu Keris berdhapur Naga yang cukup populer dan sangat terkenal kesaktiannya. Ciri khas pada Keris ini adalah pada gandhiknya yang berbentuk kepala Naga bermahkota sumping dan mamakai kalung sampai sebatas leher, tapi bagian badan dan ekornya menghilang menyatu dengan bilah Keris. Selain itu ricikan lainnya adalah sraweyan, ri pandan dan greneng. Biasanya pada bagian mulut Naga juga disumpal dengan butiran emas atau batu mulia.

Naga Jawa biasanya digambarkan dalam wujud Naga yang mengenakan mahkota dan tanpa kaki serta ujung ekornya berbentuk kudhup bunga melati. Naga dipercaya sebagai sosok pelindung atau pengayom, sehingga ukiran bentuk Naga sering ditemukan terdapat pada pintu gerbang atau undak-undakan tangga sebagai perlambang perlindungan dan pengayoman.

Sedangkan "Siluman" atau "Seluman" memiliki arti makhluk halus atau mahluk jadi-jadian yang dapat menghilang dan dapat berubah wujud menyerupai apapun, bisa berwujud Manusia, binatang, atau wujud lainnya. Penggunaan nama Siluman juga bisa berarti sesuatu yang tersamar, tersembunyi atau tidak terlihat.

Makna simbolis dari bentuk Keris Nogo Siluman dapat diartikan bahwa sebagai seorang pemimpin hendaknya jangan bertindak sewenang-wenang dengan menonjolkan kekuasaan atau wewenangnya karena apa yang dimilikinya adalah "Sampiraning Urip" (titipan sementara dalam hidup).

Sedangkan mulut Naga yang terbuka dan sering disumpal dengan butiran emas atau batu mulia diyakini dapat meredam aura negatif atau energi panas dari Keris Nogo Siluman tersebut. Tapi makna sesungguhnya dari disumpalnya mulut Naga menggunakan butiran emas atau batu mulia merupakan sebuah pesan tersirat agar sebagai Manusia pada umumnya dan khususnya seorang pemimpin harus mampu mengendalikan ucapannya, hendaknya semua yang keluar atau terucap dari mulut seorang pemimpin adalah sesuatu yang mulia dan bermanfaat.

Masyarakat Jawa mengenal ungkapan yang berbunyi "Ajining diri soko kedaling lati", artinya kehormatan diri seseorang berasal dari ucapan atau kata-katanya.

Jika dihubungkan dengan sifat-sifat kepemimpinan, pesan yang tersirat yaitu bahwa sabda seorang pemimpin tidak boleh berubah-ubah (Sabdo pandito ratu tan keno wola-wali). Dengan demikian kemulian seorang pemimpin tercermin dari kemampuannya untuk menyelaraskan antara perkataan dengan perbuatannya.

Cerita tentang kesaktian Keris Nogo Siluman memang sudah melegenda sejak jaman dahulu. Keris ini dikenal memiliki kekuatan ghaib atau kesaktian untuk menghilang, atau lebih tepatnya menyamarkan/mengelabuhi/mengalihkan pandangan musuh sehingga tidak bisa melihat keberadaan pemilik Keris Nogo Siluman (panglimunan). Oleh karena itulah Keris Nogo Siluman banyak dimiliki oleh para pejuang kemerdekaan seperti Pangeran Diponegoro dan Jendral Soedirman sebagai piandel dalam peperangan melawan penjajah.

Tuah ghaib Keris Nogo Siluman juga dipercaya dapat menghindarkan pemiliknya dari segala macam masalah sehingga pemilik Keris ini dapat selalu lolos dari berbagai masalah/kasus seperti filosofi tubuh Naga yang menghilang pada bilahnya. Selain itu, tuah Keris Nogo Siluman juga dapat menambah aura kewibawaan dan kesaktian pemiliknya.

7. Keris Pandhowo Cinarito

gambar keris pendhowo cinarito asli sepuh
Keris Pandhowo Cinarito

Keris Pandhowo Cinarito adalah salah satu dhapur Keris luk lima dengan ukuran panjang bilah normal. Bentuk bilahnya ada yang nglimpo dan ada juga yang nggigir sapi karena memakai odo-odo. Ricikan pada Keris ini, antara lain: kembang kacang, jalen, lambe gajah dua, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng.

Keris Pandhowo Cinarito termasuk Keris yang cukup populer dan terkenal ampuh karena dianggap memiliki tuah untuk membantu pemiliknya lancar dalam berkomunikasi sehingga setiap perkataannya akan dipercaya oleh orang lain.

Keris Pandhowo Cinarito cocok dimiliki oleh orang-orang yang profesinya lebih banyak berbicara atau bekomunikasi dengan banyak orang. Keris ini dulu banyak dimiliki oleh para Dalang Wayang dan sampai saat ini masih banyak dicari karena keyakinan akan tuahnya yang bisa digunakan untuk mempengaruhi orang lain.

8. Keris Pasopati

gambar keris pasopati asli sepuh
Keris Pasopati

Keris Pasopati adalah salah satu dhapur Keris lurus yang cukup populer dan banyak dicari oleh para kolektor dan penggemar Tosan Aji serta orang-orang yang ingin menduduki jabatan tinggi. Ricikan yang terdapat pada Keris dhapur Pasopati, antara lain: kembang kacang pogog yang menjadi ciri khasnya, jalen, lambe gajah satu, sogokan rangkap, tikel alis, sraweyan dan greneng. Ada juga yang memakai odo-odo sehingga permukaan bilahnya nggigir sapi.

Pasopati identik dengan senjata andalan Arjuna, salah seorang dari kesatria penengah Pandawa dalam cerita pewayangan. Tapi Pasopati dalam cerita pewayangan bukan berwujud sebilah Keris, tapi berwujud senjata panah.

Pasopati adalah simbol keteguhan dan kerendahan hati, seperti yang dikisahkan dalam cerita pewayangan ketika Arjuna bertapa karena bentuk kesadarannya sebagai seorang kesatria yang ingin melakukan dharma kewajibannya di tengah masyarakat.

Arjuna merupakan lambang pemimpin yang rela mengorbankan jiwa, raga dan harta bendanya demi Negaranya. Dalam tapanya Arjuna di uji oleh Dewa, apakah tapanya tersebut hanya demi ambisi pribadi atau benar-benar demi pengabdian yang murni.

Ujian pertama datang dalam wujud tujuh Bidadari utusan Bathara Indra dengan kecantikan yang tidak tertandingi menggoda Arjuna yang sedang bertapa di Gunung Indrakila. Tapi Arjuna tidak tergoda oleh godaan para Bidadari yang cantik jelita tersebut.

Selanjutnya Bathara Indra sendiri yang menguji keyakinan Arjuna untuk memastikan apakah niatnya benar-benar tulus sebagai bentuk dharma, ataukah hanya seseorang yang melarikan diri dari keduniawian.

Bathara Indra menyamar sebagai seorang Resi tua yang memperolok dan menggugah rasa kesatriaan Arjuna. Dia muncul dalam bentuk seorang Resi yang menghardik Arjuna, bahwa dengan segala tapa bratanya tersebut, Arjuna belum mencapai kesempurnaan karena sebetulnya Arjuna hanya mengejar pembebasan dirinya sendiri (ego-spiritualis).

Tapi dengan teguh Arjuna menjawab, bahwa tujuannya bukanlah untuk keselamatan dirinya sendiri dan juga bukan untuk kepentingan keluarga Pandawa, melainkan untuk menyelamatkan kebenaran dalam peperangan akhir antara dharma melawan adharma. Demi dharmanya itu Arjuna berani menghadapi apa saja, bahkan kematian sekalipun akan dihadapinya.

Resi tua tersebut kembali pada wujudnya sebagai Bathara Indra. Bathara Indra merasa bahagia karena telah menemukan seorang kesatria berbudi luhur yang akan mampu menghadapi Niwatakawaca, yaitu Raksasa Angkara Murka yang mengancam Khayangan yang merupakan Istana para Dewa.

Ujian berikutnya adalah Mamang Murka, yaitu raksasa utusan Prabu Niwatakawaca berwujud babi hutan raksasa yang menyerang Arjuna dengan ganas. Akhirnya babi hutan tersebut mati dipanah oleh Arjuna.

Tapi persoalan timbul karena babi hutan tersebut mati karena dua buah anak panah yang menancap ditubuhnya. Ternyata ada seorang kesatria lain yang juga membidikkan anak panahnya ke tubuh babi hutan tersebut.

Sebetulnya sudah selayaknya Arjunalah yang berhasil membunuh babi hutan raksasa tersebut karena dia yang bertarung keras, bertanding penuh luka dengan babi hutan tersebut sampai akhirnya berhasil membunuhnya. Seharusnya Arjuna merasa lebih berjasa dari pada kesatria asing yang tanpa melakukan perkelahian sebelumnya dan langsung memanah babi hutan raksasa tersebut.

Sang kesatria menantang Arjuna untuk perang tanding mengadu kesaktian. Akan tetapi bagi Arjuna, nama bukanlah yang utama, karena siapapun yang mendapatkan nama dan berhak mendapat karunia bukan menjadi pertimbangan Arjuna. Arjuna berkata kepada kesatria "Wahai kesatria, jika kamu merasa berhak sebagai pembunuh Mamang Murka, dan mau melaporkannya ke Khayangan, silahkan saja. Bagiku, ada adharma yang mati sudah memadai, karena itu adalah bentuk kasihku terhadap kebenaran".

Kesatria tersebut merasa di permalukan dengan pernyataan Arjuna yang menohok kesombongannya, dia lantas menyerang Arjuna sehingga terjadilah perang tanding yang luar biasa. Akhirnya baju perang Arjuna hancur, akan tetapi Arjuna berhasil mendekap kedua kaki musuhnya, sehingga musuhnya terjatuh dan perkelahian terhenti. Tiba-tiba kesatria tersebut berubah wujud menjadi Bathara Guru.

Bathara Guru sangat terkesan atas kerendahan hati Arjuna. Arjuna telah lulus ujian akhir dan oleh Bathara Guru (Kuasa Pengajar Sejati), kemudian Arjuna diberi hadiah berupa seperangkat senjata panah bernama Pasopati.

Pasopati berasal dari dua kata, yaitu "Pashu/Pasu" yang artinya hewan, dan "Pati" yang artinya mati/kematian. Jadi Pasopati memiliki makna matinya sifat/watak binatang dalam diri Manusia.

Pasopati merupakan ajaran atau pesan untuk menaklukkan sifat binatang dalam diri Manusia, dan merupakan senjata bagi mereka yang sudah sadar akan adanya sitat hewan didalam dirinya yaitu "nafsu dan amarah" yang harus ditaklukkan.

Begitu luhur pemaknaan yang bisa di ambil dari kisah Arjuna dan pusaka saktinya yaitu "Pasopati". Oleh karena itu, para pemilik Keris Pasopati harus bisa menghayati makna yang ada pada Keris dhapur Pasopati yang merupakan pelajaran untuk bisa menjadi Manusia yang lebih baik, karena itulah tuah Keris Pasopati yang sesungguhnya.

Pasopati memiliki makna yang dalam untuk mengingatkan Manusia bahwa sifat hewan dalam dirinya harus dimatikan untuk bisa menjadi Manusia yang ungul, terutama bagi para pemimpin agar bisa mengesampingkan ego dan kepentingan pribadinya demi kepentingan rakyat dan Negaranya. Pasopati adalah pesan bagi para pemimpin agar bisa memberi pengayoman untuk rakyat yang di pimpinnya dan merupakan simbol kepemimpinan sejati.

Nama Keris sendiri berasal dari kata "kekeran" dan "aris". Kekeran memiliki makna pengendalian, sedangkan Aris memiliki makna bijaksana. Dua kata tersebut disingkat menjadi Keris yang memiliki makna dari gabungan kedua kata tersebut yaitu pengendalian diri serta bijaksana dalam tindakan maupun ucapan.

Maka dari itu, jangan pernah meremehkan budaya kita sendiri dan justru lebih mengagungkan budaya orang lain. Jangan menyudutkan orang yang masih mau melestarikan budaya adiluhung tanah Jawa karena jika tidak ada yang melestarikan, kita akan kehilangan jati diri kita sebagai bangsa yang memiliki budaya dan peradaban tinggi di masa lalu.

9. Keris Omyang Jimbe

gambar keris omyang jimbe asli sepuh
Keris Puthut Kembar

Keris berdhapur Puthut Kembar atau yang biasa disebut sebagai Keris Omyang Jimbe memiliki banyak versi. Meski sebetulnya penyebutan/penamaan Omyang Jimbe itu kurang tepat, karena Omyang sendiri sebetulnya adalah nama seorang Empu bernama Omyang yang hidup pada jaman Kerajaan Pajang. Tapi penyebutan Keris Omyang Jimbe untuk Keris berdhapur Puthut Kembar sudah terlanjur akrab dan menjadi nama pasaran dikalangan masyarakat perkerisan.

Ada beberapa jenis Keris dhapur Puthut Kembar yang biasa di sebut Keris Omyang, diantaranya:

- Omyang Jimbe (untuk menarik dana ghaib)

- Omyang Tagih (untuk menagih hutang)

- Omyang Beras (dapat menambah beras)

- Omyang Cungpet (untuk memadamkan api)

- Omyang Panimbal (untuk memanggil rejeki)

Jika menilik dari penamaan Keris ini, maka dapat disimpulkan jika tujuan utama dari dibuatnya Keris Omyang adalah untuk mendapatkan bantuan ghaib dari khodam Keris tersebut.

Keris Omyang buatan Empu Omyang (Pajang) memiliki bentuk gonjo yang datar dan tergolong gonjo wuwung. Lalu bagaimana dengan Keris yang dikenal masyarakat dengan sebutan "Omyang Jimbe" yang dikenal memiliki isoteri/tuah ampuh untuk melindungi harta pemiliknya dan memudahkan untuk menagih hutang. Bahkan konon ada beberapa Keris Omyang Jimbe yang dapat di manfaatkan untuk menarik dana ghaib karena tuah saktinya.

Sebetulnya tidak semua Keris dhapur Puthut Kembar dibuat oleh Empu Omyang di jaman Kerajaan Pajang. Hanya saja pada era tersebut Empu Omyang sangat terkenal dengan karya-karyanya yang rata-rata adalah Keris berdhapur Puthut Kembar yang dikenal memiliki tuah sakti, sehingga Keris dhapur Puthut kembar menjadi ciri khas dari Empu Omyang dan identik sebagai karyanya, sehingga nama dhapur Puthut Kembar lebih familiar disebut Keris Omyang. Tentunya hal itu adalah kesalahan persepsi tentang Keris berdhapur Puthut Kembar yang sudah terlanjur tertanam dibenak masyarakat.

Keris dhapur Puthut Kembar karya dari Empu Omyang memiliki ciri khas dibagian pesinya yang terdapat lubang seperti lubang jarum dan rata-rata hanya berpamor wos wutah, wengkon, toyo mambeg, lawe saukel, dan kelengan. Tapi seiring dengan perkembangan dunia Tosan Aji, Keris dhapur Puthut kembar/Omyang banyak di kembangkan menjadi berpamor lain yang lebih beragam, terutama untuk Keris-Keris kamardhikan.

Keris-Keris karya Empu Omyang dipercaya memiliki kekuatan mistis yang sangat ampuh dan jika dipergunakan untuk bisnis keuangan akan menguntungkan karena orang yang berhutang akan merasa tidak tenang jika tidak membayar hutangnya karena selalu diganggu oleh dhemit dan khodam yang bersemayam di dalam Keris Omyang tersebut.

Ciri khas Keris Omyang Jimbe pada bagian sor-sorannya tampak mbekel (buncit) seperti perut Bethara Narada atau "ngedhe" karena luknya berjalan kekiri, bukan kekanan seperti lazimnya Keris-Keris lain pada umumnya. Walaupun menurut para pakar perkerisan, ada juga Keris Omyang yang memiliki luk biasa dan ada juga yang berbilah lurus.

Pada umumnya Keris-Keris tangguh Pajang memiliki bahan besi mentah, terkesan kurang tempaan dan Pamornya mubyar (menyala) putih seperti perak, baja sedang, luk terlihat rapat (kekar), gonjo umumnya besar, sirah cecak juga besar, tantingannya agak berat, lebih berat dari Keris-Keris tangguh Mataram.

Ciri khas dari Keris dhapur Puthut Kembar atau Keris Omyang yaitu terdapat ukiran/relief sepasang Manusia (Puthut/Badjang) di sebelah kanan dan kiri gandhiknya. Posisi Sepasang Puthut tersebut saling membelakangi dengan tangan menyembah atau menengadah ke atas seperti sedang berdo'a. Ciri lainnya terdapat tulisan aksara jawa, relief pohon beringin, relief payung, dan ukiran padi kapas pada bilahnya. Ukiran aksara Jawa pada bilah Keris Omyang terbaca "Humyang Jimbe", inilah yang kemudian menjadikan Keris dhapur Puthut Kembar disebut sebagai Keris "Omyang Jimbe".

simbol-simbol pada keris omyang jimbe
Ukiran Aksara Jawa Pada Keris Omyang Jimbe

Ada juga yang mengatakan jika nama Keris Omyang adalah sebutan untuk sepasang puthut/badjang yang merupakan khodam Keris. Dinamakan Omyang karena konon kedua Puthut yang menjadi khodam Keris tersebut selalu "Ngomnyang" (umek, sibuk, ngomel dan terus berceloteh atau marah-marah). Jadi, sepasang Puthut/Cantrik pada gandhik Keris Omyang tersebut dianggap sebagai "Prewangan" yang dapat membantu pemilik Keris dalam menyelesaikan urusannya.

Dulu banyak pemilik Keris Omyang Jimbe yang mengasapi Kerisnya dengan asap kemenyan setiap malam Rabu pon yang dipercaya sebagai hari meninggalnya Empu Omyang. Pengasapan dengan asap kemenyan tersebut dimaksudkan agar tuah dari Keris Omyang Jimbe tetap terpelihara. Namun sedikit demi sedikit kebiasaan itu mulai ditinggalkan dan sekarang ini sudah sangat jarang ada orang yang melakukan ritual tersebut.

Baca juga: Jenis-jenis sesaji untuk menambah kekuatan khodam Keris pusaka

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Keris Omyang Jimbe yang legendaris tersebut dikalangan para pecinta Keris lebih dimaknai sebagai benda pusaka yang lebih condong dimanfaatkan sisi isoterisnya dibandingkan sisi eksoterisnya.

Keris Omyang Jimbe lebih dimaknai sebagai benda klenik yang sangat akrab dengan dunia perdukunan. Penggemar Keris ini kebanyakan dari kalangan pengusaha atau pedagang yang menginginkan bantuan ghaib dari khodam Keris Omyang untuk melancarkan usahanya.

Padahal jika kita memahami secara mendalam tentang makna dari dhapur Puthut Kembar, maka kita bisa menggali banyak sekali nilai filosofis dari Keris dhapur Puthut Kembar tersebut dibandingkan dengan hanya sekedar mengharapkan tuah dari sebuah benda mati.

Keris sejatinya adalah hasil karya seni yang juga merupakan bentuk lain dari bahasa atau alat komunikasi dengan bahasa yang tersirat dalam simbol-simbol pada bagian-bagian dan ricikannya. Bahasa adalah sebuah simbol, dan sebagai sebuah bahasa, bentuk dan gambar pada ricikan Keris berbicara untuk mewakili sesuatu yang memiliki kandungan makna mendalam yang tersirat.

Dalam istilah Jawa, puthut dapat di artikan sebagai murid/santri/cantrik, yaitu seseorang yang sedang berguru atau belajar pada seorang guru/resi/pandhita dan lainnya. Bentuk relief Puthut pada Keris Omyang tersebut konon berasal dari sebuah cerita legenda tentang cantrik yang diminta/ditugaskan untuk menjaga sebuah pusaka oleh gurunya. Puthut/Cantrik tersebut ditugaskan untuk berjaga sambil terus berdoa dan memohon pertolongan serta kekuatan dari Yang Maha Kuasa yang disimbolkan dengan ukiran bentuk Puthut yang sedang duduk bersilah sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas seperti sedang berdo'a.

Bentuk Puthut laki-laki dan perempuan melambangkan keseimbangan dan juga perpaduan, bahwa semua yang ada didunia ini selalu berpasang-pasangan, seperti laki-laki dan perempuan, siang dan malam, gelap dan terang, hitam dan putih, sedih dan gembira, baik dan jahat, dan lainnya.

Pada keris dhapur Puthut Kembar bisa kita amati bahwa bentuk wajah puthut tersebut adalah seorang laki-laki dibagian depan (gandhik) dan seorang perempuan di bagian belakang (wadidang), dan keduanya tampak sama-sama mengenakan gelungan ikat kepala.

Posisi duduk dengan bersimpuh (sikap duduk bertapa) dengan menengadahkan tangan ke atas seperti posisi sedang berdo'a. Sebagai seorang murid yang sedang menimba ilmu, untuk mencapai tingkat tertentu dari suatu ilmu, maka kita harus menjalaninya dengan proses tirakat dan semedi untuk mencapai keheningan, kebersihan batin, tawakal, dan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa.

Jika hati dan jiwa kita bersih, maka kita akan dengan mudah menyerap ilmu yang sedang kita pelajari. Maka sebagai seorang murid, atau orang yang sedang belajar maka kita harus bisa menjauhkan diri dari sifat sombong, congkak atau sifat merasa tahu/sok tahu (ojo rumongso bisa tapi kudu biso rumongso).

Seorang murid perlu membuka wawasan, mawas diri, rendah hati, sederhana, andhap asor, dan mau belajar dari orang lain. Itulah laku yang harus dijalankan oleh seorang murid/santri/cantrik dari jaman dulu, kemarin, sekarang sampai pada jaman yang akan datang, karena itulah pakem seorang murid.

Dengan mendalami makna dari ukiran sepasang puthut pada dhapur Keris tersebut maka kita bisa membedakan makna dari kata Puthut dan Omyang. Dengan memahami dan menghayati arti yang berbeda pada relief tersebut maka kita akan memiliki energi dan pemahaman yang berbeda pula dalam menjalani kehidupan.

Jika kita condong memahami Keris tersebut sebagai "bocah ngomnyang" yang lebih dimaknai sebagai klenik dan urusan rejeki atau usaha yang berkaitan dengan urusan rejeki dan duniawi maka energi kita juga akan lebih kemrungsung dalam urusan harta benda dan keduniawian. Tapi jika kita melihat ukiran sepasang bocah sebagai puthut/cantrik maka kita akan bersikap lebih andhap asor dan mendudukkan diri sebagai murid dihadapan Yang Maha Kuasa, sesama Manusia, dan lingkungan.

Posisi sikap kedua Puthut tersebut sama, yaitu sama-sama duduk dan menengadahkan tangan ke atas (menyembah/berdo'a). Keduanya sama-sama memohon kepada TUHAN tapi dengan tujuan yang berbeda, yang satu memohon pemahaman hidup (sejatining urip) dan yang lain memohon jaminan kekayaan duniawi/materi.

Selain memiliki ciri khas berupa ukiran sepasang puthut/cantrik pada gandhik dan wadidangnya, Keris Omyang Jimbe juga memiliki ciri lain berupa ukiran Aksara Jawa, Kapas dan Padi, Pohon Beringin, dan Payung Tertutup.

Simbol-simbol yang terdapat pada bilah Keris Omyang Jimbe tentunya bukan hanya sebagai penghias bilah Keris saja, tapi masing-masing dari simbol-simbol tersebut memiliki makna tersirat yang merupakan pesan atau ajaran sebagai tuntunan hidup.

Makna dari simbol-simbol pada Keris Omyang Jimbe:

- Kapas dan Padi

Kapas dan padi melambangkan sandang dan pangan, yaitu kebutuhan lahiriah dalam kehidupan Manusia. Sandang lebih didahulukan, sedangkan pangan di nomor duakan.

Hal itu mengandung ajaran filosofis bahwa sandang berhubungan dengan kesusilaan sehingga lebih di utamakan, sedangkan pangan berhubungan dengan lahiriah sehingga dinomor duakan.

Oleh karena itu, Manusia hendaknya harus lebih mengutamakan kesusilaan daripada masalah pangan/materi meskipun memang kehidupan Manusia didunia memang tidak dapat lepas dari kebutuhan-kebutuhan duniawi. Simbol kapas dan padi juga melambangkan kesuburan dan kemakmuran, dan diharapkan dengan memiliki Keris Omyang tersebut dapat membawa kemakmuran bagi pemiliknya.

- Pohon Beringin

Pohon beringin adalah lambang kesuburan dan perlindungan. Rindangnya cabang dan daun pohon beringin bisa mengayomi dan membuat orang merasa betah dan terlindungi ketika berteduh dibawahnya.

Pohon beringin juga dipandang sebagai simbol pemelihara kehidupan (lingkungan). Karena dengan adanya pohon beringin dipercaya dapat menjaga ketersediaan air dilingkungan sekitar pohon tersebut tumbuh karena phon ini memiliki kemampuan untuk menyimpan banyak air, maka tidak heran jika pohon beringin cukup berperan terhadap kelestarian lingkungan. Oleh karena itulah, manfaat dari adanya pohon beringin kemudian menjadi dasar yang menyatakan bahwa pohon beringin adalah simbol pengayoman.

Di Pulau Bali banyak terdapat pohon beringin yang berukuran besar dan sudah berusia ratusan tahun dan biasanya selalu dibalut dengan kain bercorak kotak-kotak dengan warna hitam putih. Pohon beringin bagi orang Hindu di Bali memiliki arti yang penting, karena selain bisa memberikan keteduhan, pada jaman Kerajaan Bali dahulu pohon beringin merupakan tempat khusus untuk menunggu dan berteduh bagi seseorang yang belum mendapatkan ijin untuk menghadap Raja.

Bagi umat Hindu di Bali, peranan pohon beringin sangat penting dalam upacara "Memukur" yang biasanya diselenggarakan pada 42 hari setelah upacara Ngaben. Jiwa orang yang telah meninggal dunia dan telah dibebaskan dari raganya (di Ngaben) untuk sementara waktu tinggal diantara daun dan cabang-cabang pohon beringin. Selama upacara "Memukur",  jiwa tersebut dibawa turun dari pohon beringin dan kemudian dilarung ke laut sehingga menjadi murni dan kemudian di disemayamkan di tempat suci keluarga (Merajan). Mereka dipercaya telah menjadi Betara dan Betari (leluhur yang telah disucikan) yang akan memberikan tuntunan kepada keturunannya didunia.

Pohon beringin juga melambangkan wibawa karena kerap mengisyaratkan "Keangkeran/Kesungkeran" dari suatu tempat yang ada pohon beringinnya. Hal itu karena pengaruh tradisi/budaya pada masa animisme. Pohon dianggap sebagai representasi budaya animisme nenek moyang dan dipercaya memiliki kekuatan ghaib.

Karena ketergantungan pada alam yang begitu besar, Manusia merasa wajib menghormati dan menjaga keseimbangan alam, dan pemujaan terhadap pohon pun menjadi salah satu perwujudannya. Tapi untuk Manusia modern, hal itu terkesan berlebihan. Padahal sejatinya, menghormati dan memelihara alam merupakan suatu keharusan jika Manusia ingin selamat dan terhindar dari murka alam/bencana alam.

Pohon memiliki konteks sosial dan menjadi entitas Manusia prasejarah yang seharusnya juga tetap menjadi keprihatinan Manusia modern untuk memeliharanya. Tidak mengherankan jika ada beberapa jenis pohon yang dikeramatkan sampai saat ini, dan salah satu jenis phon yang sering dikeramatkan adalah pohon beringin.

- Payung tertutup

Payung adalah alat perlindungan dari hujan dan terik Matahari. Payung sejak dulu memang dikaitkan dengan simbol kepemimpinan yang mengayomi dan sebagai simbol kehormatan serta kekuasaan karena hanya keluarga Kerajaan atau pejabat tinggi Kerajaan saja yang boleh memakai payung pada saat itu.

Simbol payung tertutup pada Keris Omyang Jimbe bisa dikatakan sebagai simbol kesiap siagaan/selalu berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang akan datang seperti panas dan hujan serta merupakan simbol kepemimpinan, kekuasaan, dan kehormatan. "Sedia payung sebelum hujan", mungkin itu ungkapan yang tepat atas simbol payung tersebut.

- Aksara Jawa

Ukiran aksara Jawa pada bilah Keris Omyang adalah tanda/identitas dari Keris tersebut yang merupakan susunan kata yang terbaca "Humyang Jimbe".

Baca juga: Pengertian tentang Keris Tayuhan dan cara menayuh Keris

Demikian sedikit informasi tentang 9 Keris pusaka paling sakti dan paling dicari ditanah Jawa yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar benda-benda pusaka, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat

Terima kasih


Post a Comment for "9 Keris pusaka paling sakti dan paling dicari ditanah Jawa"

Untuk Pemesanan Benda Pusaka, Call/Sms: 0858-7027-7889 atau Chat via WA: