Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Advertisement

Sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit dan masa keruntuhannya

gambar pintu gerbang majapahit di trowulan
Pintu gerbang Majapahit (Trowulan)

Hartalangit.com – Majapahit adalah Kerajaan terbesar yang pernah berjaya di Nusantara dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia hingga saaat ini. Tapi sayangnya hanya terdapat sedikit bukti fisik dari sisa-sisa Kerajaan Majapahit, dan bukti sejarahnya juga tidak jelas.

Sumber utama yang digunakan oleh para sejarawan adalah Kitab Pararaton (Kitab Raja-Raja) dalam bahasa Kawi dan Nagarakertagama dalam bahasa Jawa kuno.

Kitab Pararaton menceritakan tentang Ken Arok (Pendiri Kerajaan Singhasari) dan juga memuat beberapa bagian pendek mengenai terbentuknya Kerajaan Majapahit.


Sedangkan Nagarakertagama merupakan puisi Jawa kuno yang ditulis pada masa keemasan Kerajaan Majapahit dibawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk.

Selain itu, terdapat beberapa prasasti dalam bahasa Jawa kuno maupun catatan sejarah dari Tiongkok dan Negara-Negara lain mengenai Majapahit.

Majapahit adalah Kerajaan Hindu yang berada di Jawa Timur. Kerajaan ini termasuk kerajaan kuno di Indonesia yang berdiri pada tahun 1293 - 1500 M. Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada tahun 1293 M.

Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14, yaitu pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350 - 1389 M) yang didampingi oleh Maha Patih Gadjah Mada (1331 - 1364 M).

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu terakhir di Semenanjung Malaya dan merupakan Kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia.

Majapahit bahkan dapat menguasai Kerajaan-Kerajaan lainnya di Semenanjung Malaya, Borneo, Sumatera, Bali, dan Filipina.

Sebelum Kerajaan Majapahit berdiri, Singhasari telah menjadi Kerajaan paling kuat di Jawa. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi ke Singhasari untuk menuntut upeti.

Raja Kertanagara, penguasa Kerajaan Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya. Kubilai Khan marah kemudian mengirim ekspedisi besar ke Jawa pada tahun 1293.

Ketika itu, Jayakatwang (Adipati Kediri) sudah berhasil menggulingkan dan membunuh Kertanegara. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Prabu Kertanegara yang datang menyerahkan diri.

Kemudian, Aria Wiraraja mengirim utusan ke Daha yang membawa surat berisi pernyataan bahwa Raden Wijaya menyerah dan ingin mengabdi kepada Jayakatwang.

Pernyataan tersebut disambut dengan senang hati oleh Jayakatwang dan Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik.

Kemudian Raden Wijaya membuka hutan tersebut dan membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit yang di ambil dari nama buah yang terdapat dihutan tersebut, yaitu buah maja yang rasanya pahit.


Ketika pasukan Mongol tiba, Raden Wijaya kemudian bersekutu dengan pasukan Mongol untuk bertempur melawan Jayakatwang. Setelah berhasil menjatuhkan Jayakatwang, kemudian Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Mongol sehingga membuat mereka kalang kabut dan menarik pasukannya kembali ke Negerinya.

Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar bisa pulang, karena jika tidak segera berlayar mereka harus menunggu enam bulan lagi untuk bisa berlayar pulang ke Negerinya.

Tanggal pasti yang digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari penobatan Raden Wijaya sebagai Raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang bertepatan dengan tanggal 10 November 1293. Raden Wijaya dinobatkan sebagai Raja Majapahit dengan gelar resmi Kertarajasa Jayawardhana.

Paada awal-awal pemerintahannya Kerajaan Majapahit banyak menghadapi masalah karena beberapa orang kepercayaan Raden Wijaya, termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak melawannya, meskipun padaa akhirnya pemberontakan tersebut dapat ditumpas.

Pemberontakan Ranggalawe didukung oleh Panji Mahajaya, Ra Arya Sidi, Ra Jaran Waha, Ra Lintang, Ra Tosan, Ra Gelatik, dan Ra Tati. Semua nama tersebut disebutkan didalam Kitab Pararaton.

Namun ternyata Mahapatih Halayudha-lah yang melakukan konspirasi (persekongkolan) untuk menjatuhkan orang-orang kepercayaan Raja. Hal itu dilakukan agar dapat mencapai posisi tertinggi dalam pemenintahan. Tapi setelah kematian pemberontak terakhir (Kuti), Halayudha ditangkap dan dipenjara lalu dihukum mati.

Raden Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309 dan kekuasaannya diteruskan oleh Putranya, yaitu Jayanegara. Dalam Kitab Pararaton disebutkan bahwa nama kecil Jayanegara adalah Kala Gemet yang berarti "penjahat lemah".

Pada suatu hari dalam masa pemerintahan Prabu Jayanegara, seorang pendeta dari Italia bernama Odorico da Pordenone mengunjungi Keraton Majapahit.

Pada tahun 1328 Prabu Jayanegara tewas dibunuh oleh tabibnya yang bernama Tanca. Ibu tirinya, yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya menggantikan posisinya sebagai penguasa Majapahit, akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi Bhiksuni.

Rajapatni menunjuk anak perempuannya Tribhuwana Wijayatunggadewi untuk menjadi Ratu Majapahit. 

Pada tahun 1336, Tribhuwana Tunggadewi menunjuk Gajah Mada sebagai Mahapatih. Pada saat pelantikannya Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang menunjukkan tekadnya untuk melebarkan kekuasaan Majapahit dan membangun sebuah Kemaharajaan.


Selama kekuasaan Ratu Tribhuwana Tunggadewi, Kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di kepulauan Nusantara. Tribhuwana Tunggadewi berkuasa di Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun 1350 dan diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk.

Prabu Hayam Wuruk yang juga disebut Rajasanagara memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya pemerintahannya Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan Mahapatih Gajah Mada.

Dengan kepiawaian Mahapatih Gajah Mada (1313 - 1364), Kerajaan Majapahit dapat menguasai lebih banyak wilayah. Menurut Kakawin Nagarakertagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan sebagian kepulauan Filipina. Sumber ini menunjukkan batas terluas sekaligus puncak kejayaan Kemaharajaan Majapahit.

Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, bahkan juga mengirim duta-dutanya ke Tiongkok.

Selain melancarkan serangan dan ekspedisi militer, Majapahit juga menempuh jalan diplomasi dan menjalin persekutuan.

Kemungkinan karena didorong alasan politik, Prabu Hayam Wuruk berniat untuk mempersunting Citraresmi (Diah Pitaloka), putri Kerajaan Sunda sebagai permaisurinya.

Pihak Sunda menganggap lamaran ini sebagai perjanjian persekutuan. Pada 1357 rombongan Raja Sunda beserta keluarga dan para pengawalnya berangkat ke Majapahit mengantarkan Diah Pitaloka untuk dinikahkan dengan Prabu Hayam Wuruk.

Akan tetapi Mahapatih Gajah Mada melihat hal ini sebagai peluang untuk memaksa Kerajaan Sunda takluk dibawah kekuasaan Majapahit. Akhirnya pertarungan tidak seimbang antara keluarga Kerajaan Sunda dengan pasukan khusus Majapahit di lapangan Bubat tidak terelakkan.

Meski dengan gagah berani memberikan perlawanan, akhirnya pihak Kerajaan Sunda kewalahan dan dapat dikalahkan dan hampir semua pengawal dan pihak keluarga Kerajaan Sunda tewas.

Putri Diah Pitaloka sangat kecewa dan akhirnya melakukan "bela pati", atau bunuh diri untuk membela kehormatan Negaranya.

Kisah Pasundan Bubat menjadi tema utama dalam naskah Kidung Sunda yang disusun pada zaman kemudian di Bali dan juga naskah Carita Parahiyangan. Kisah ini disinggung dalam Pararaton tetapi sama sekali tidak disebutkan dalam Nagarakretagama.

Kakawin Nagarakretagama yang disusun pada tahun 1365 menyebutkan budaya Keraton yang adiluhung, anggun, dan canggih, dengan cita rasa seni dan sastra yang halus dan tinggi, serta sistem ritual keagamaan yang rumit.

Sang pujangga menggambarkan Majapahit sebagai pusat mandala raksasa yang membentang dari Sumatera ke Papua, mencakup Semenanjung Malaya dan Maluku. Tradisi lokal diberbagai daerah di Nusantara masih mencatat kisah legenda mengenai kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Administrasi pemerintahan yang dikendalikan langsung oleh Kerajaan Majapahit hanya mencakup wilayah Jawa Timur dan Bali, sedangkan selain kedua wilayah itu hanya semacam pemerintahan otonomi luas dengan pembayaran upeti berkala dan pengakuan kedaulatan Majapahit atas mereka.
Akan tetapi segala pemberontakan atau tantangan bagi kekuasaan Majapahit atas daerah-daerah tersebut dapat mengundang reaksi keras dari pihak Majapahit.

Pada tahun 1377, beberapa tahun setelah kematian Mahapatih Gajah Mada, Kerajaan Majapahit melancarkan serangan laut untuk menumpas pemberontakan di Palembang.

Meskipun penguasa Majapahit memperluas kekuasaannya ke berbagai pulau dan terkadang juga menyerang Kerajaan tetangga, namun perhatian utama Majapahit nampaknya adalah mendapatkan porsi terbesar dan mengendalikan perdagangan di kepulauan Nusantara. Pada saat itulah pedagang muslim dan para penyebar agama Islam mulai berdatangan memasuki kawasan ini.

Setelah mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur mulai melemah. Setelah wafatnya Prabu Hayam Wuruk pada tahun 1389, Majapahit memasuki masa kemunduran akibat konflik perebutan tahta.

Pewaris tahta Prabu Hayam Wuruk adalah putri mahkota Kusumawardhani yang menikahi sepupunya sendiri, yaaitu pangeran Wikramawardhana.

Prabu Hayam Wuruk juga memiliki seorang putra dari selirnya yang bernama Wirabhumi yang juga menuntut haknya atas tahta Majapahit.

Perang saudara yang disebut Perang Paregreg diperkirakan terjadi pada tahun 1405 - 1406 antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Wikramawardhana meskipun memakan banyak sekali korban dari pihak Majaphit, semetara Wirabhumi akhirnya ditangkap dan dihukum dipancung.


Perang saudara ini melemahkan kendali Majapahit atas daerah-daerah taklukannya dipulau seberang. Pada masa pemerintahan Wikramawardhana, serangkaian ekspedisi laut Dinasti Ming yang dipimpin oleh laksamana Cheng Ho, seorang jenderal muslim China tiba di Jawa beberapa kali antara kurun waktu 1405 sampai 1433.

Sejak tahun 1430 ekspedisi Cheng Ho ini telah menciptakan komunitas muslim China dan Arab di beberapa kota pelabuhan pantai utara Jawa, seperti di Semarang, Demak, Tuban, dan Ampel sehingga agama Islam mulai memiliki pijakan yang kuat dipantai utara Jawa.

Wikramawardhana memerintah Majapahit hingga tahun 1426 dan diteruskan oleh putrinya, yaitu Ratu Suhita yang memerintah Majapahit pada tahun 1426 sampai 1447. Ia adalah putri kedua Wikramawardhana dari seorang selir yang juga putri kedua Wirabhumi.

Pada tahun 1447, Ratu Suhita wafat dan tahta Kerajaan Majapahit dilanjutkan oleh Kertawijaya, adik laki-lakinya. Ia memerintah hingga tahun 1451.

Setelah Kertawijaya wafat, Bhre Pamotan menjadi Raja dengan gelar Rajasawardhana dan memerintah di Kahuripan. Ia wafat pada tahun 1453 AD. Terjadi jeda waktu selama tiga tahun tanpa Raja akibat krisis pewarisan tahta. Girisawardhana, putra Kertawijaya naik tahta pada tahun 1456. Ia wafat pada 1466 dan digantikan oleh Singhawikramawardhana.

Pada tahun 1468 pangeran Kertabhumi memberontak terhadap Singhawikramawardhana dan mengangkat dirinya sebagai raja Majapahit.

Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama Islam sudah mulai memasuki Nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit diseluruh Nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah Kerajaan Islam baru, yaitu Kesultanan Malaka mulai muncul dibagian barat Nusantara.


Dibagian barat Kemaharajaan yang mulai runtuh ini, Majapahit tidak kuasa lagi membendung kebangkitan Kesultanan Malaka yang pada pertengahan abad ke-15 mulai menguasai Selat Malaka dan melebarkan kekuasaannya hingga ke Sumatera.

Sementara itu beberapa jajahan dan daerah taklukan Majapahit didaerah lainnya di Nusantara, satu per satu mulai melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.

Setelah mengalami kekalahan dalam perebutan kekuasaan dengan Bhre Kertabumi, akhirnya Singhawikramawardhana mengasingkan diri ke pedalaman di Daha (bekas ibu kota Kerajaan Kediri) dan terus melanjutkan pemerintahannya disana hingga digantikan oleh putranya Ranawijaya pada tahun 1474.

Pada 1478 Ranawijaya mengalahkan Kertabhumi dengan memanfaatkan ketidakpuasan umat Hindu dan Budha atas kebijakan Bhre Kertabumi serta mempersatukan kembali Majapahit menjadi satu Kerajaan.

Ranawijaya memerintah pada kurun waktu 1474 hingga 1498 dengan gelar Girindrawardhana hingga ia digulingkan oleh Patih Udara.

Akibat konflik dinasti yang berkepanjangan ini, Majapahit menjadi lemah dan mulai bangkit kekuatan kerajaan Demak yang didirikan oleh keturunan Bhre Wirabumi di pantai utara Jawa.

Waktu berakhirnya Kemaharajaan Majapahit berkisar pada kurun waktu tahun 1478 (tahun 1400 saka, berakhirnya abad dianggap sebagai waktu lazim pergantian dinasti dan berakhirnya suatu pemerintahan) hingga tahun 1518.

Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi “sirna ilang kretaning bumi”. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Kerajaan Majapahit dan dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi.

Arti sengkala ini adalah "sirna hilang kemakmuran bumi". Namun yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bhre Kertabumi, Raja ke-11 Majapahit oleh Girindrawardhana.

Raden Patah yang saat itu adalah Adipati Demak sebetulnya berupaya membantu ayahnya dengan mengirim bala bantuan yang dipimpin oleh Sunan Ngudung, tetapi pasukannya mengalami kekalahan, bahkan Sunan Ngudung meninggal ditangan Raden Kusen adik Raden Patah yang memihak Ranawijaya hingga para dewan wali menyarankan Raden Patah untuk meneruskan pembangunan masjid Demak.

Hal ini diperkuat oleh prasasti Jiyu dan Petak, Ranawijaya mengaku bahwa ia telah mengalahkan Kertabhumi  dan memindahkan ibu kota ke Daha (Kediri). Peristiwa ini memicu perang antara Ranawijaya dengan Kesultanan Demak, karena penguasa Demak adalah keturunan langsung dari Prabu Kertabhumi.

Sebenarnya perang ini sudah mulai mereda ketika Patih Udara melakukan kudeta ke Girindrawardhana dan mengakui kekuasan Demak, bahkan menikahi anak termuda Raden Patah, tetapi peperangan berkecamuk kembali ketika Patih Udara meminta bantuan Portugis.

Pada tahun 1518 Demak melakukan serangan ke Daha yang mengakhiri sejarah Majapahit. Sejumlah besar abdi istana, seniman, pendeta, dan anggota keluarga Kerajaan Majapahit banyak yang mengungsi ke pulau Bali. Pengungsian ini kemungkinan besar untuk menghindari pembalasan dan hukuman dari Demak karena selama ini mereka mendukung Ranawijaya melawan Kertabhumi.

Dengan jatuhnya Daha yang dihancurkan oleh Demak pada tahun 1518, kekuatan Kerajaan Islam pada awal abad ke-16 akhirnya mengalahkan sisa-sisa Kerajaan Majapahit. Demak dibawah pemerintahan Raden Patah (Fatah) kemudian diakui sebagai penerus Kerajaan Majapahit.

Menurut Babad Tanah Jawi dan tradisi Demak, legitimasi Raden Patah ini karena ia adalah putra Raja Majapahit Brawijaya V dengan seorang putri China.

Catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis (Tome Pires), dan Italia (Pigafetta) mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.


Demak memastikan posisinya sebagai kekuatan regional dan menjadi Kerajaan Islam pertama yang berdiri di tanah Jawa. Saat itu setelah Kerajaan Majapahit runtuh, sisa Kerajaan Hindu yang masih bertahan di Jawa hanya tinggal Kerajaan Blambangan di ujung timur serta Kerajaan Sunda yang beribukota di Pajajaran dibagian barat.

Perlahan-lahan Islam mulai menyebar seiring mundurnya masyarakat Hindu ke pegunungan dan ke Bali. Beberapa kantung masyarakat Hindu Tengger hingga kini masih bertahan dipegunungan Tengger, kawasan Bromo dan Semeru.

Konsep Teritorial Kerajaan Majapahit:

Saat Majapahit memasuki era Kemaharajaan Thalasokrasi ketika Gajah Mada menjadi Mahapatihnya, beberapa Negara bagian diluar Negeri juga termasuk dalam lingkaran pengaruh Majapahit, dan sebagai hasilnya konsep teritorial yang lebih besar-pun terbentuk, yaitu:

- Negara Agung

Adalah Negara Utama/inti Kerajaan. Area awal Majapahit atau Majapahit Lama selama masa pembentukannya sebelum memasuki era Kemaharajaan. Yang termasuk area ini adalah ibukota Kerajaan dan wilayah sekitarnya dimana Raja secara efektif menjalankan pemerintahannya.

Area ini meliputi setengah bagian timur Pulau Jawa dengan semua provinsinya yang dikelola oleh para Bhre (bangsawan) yang merupakan kerabat dekat Raja.

- Mancanegara

Adalah area yang melingkupi Negara Agung. Area ini secara langsung dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan wajib membayar upeti tahunan pada Majapahit. Akan tetapi, area-area tersebut biasanya memiliki penguasa atau Raja pribumi yang kemungkinan membentuk persekutuan atau menikah dengan keluarga Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit menempatkan birokrat dan pegawainya diwilayah-wilayah tersebut dan mengatur kegiatan perdagangan luar Negeri mereka serta mengumpulkan pajak, namun mereka menikmati otonomi internal yang cukup besar.

Wilayah Mancanegara termasuk didalamnya seluruh daerah Pulau Jawa lainnya seperti Madura, Bali, dan juga Dharmasraya, Pagaruyung, Lampung dan Palembang di Sumatra.

- Nusantara

Adalah area yang tidak mencerminkan kebudayaan Jawa tapi termasuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit dan mereka harus membayar upeti tahunan.

Mereka menikmati otonomi yang cukup luas dan kebebasan internal. Pihak Kerajaan Majapahit tidak merasa penting untuk menempatkan birokratnya atau tentara militernya di daerah-daerah tersebut, akan tetapi tantangan apapun yang terlihat mengancam kekuasaan Majapahit atas wilayah tersebut akan menuai reaksi keras dari Majapahit.

Termasuk dalam area ini adalah Kerajaan-Kerajaan kecil di Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.

Ketiga kategori teritorial Majapahit tersebut masuk ke dalam lingkaran pengaruh Kerajaan Majapahit. Akan tetapi Majapahit juga mengenal lingkup keempat yang didefinisikan sebagai hubungan diplomatik luar Negeri, yaitu:

- Mitreka Satata

Secara harafiah berarti "mitra dengan tatanan (aturan) yang sama". Hal itu menunjukkan Negara independen luar Negeri yang dianggap setara oleh Majapahit, bukan sebagai bawahan dalam kekuatan Majapahit.

Menurut Negarakertagama pupuh 15, bangsa asing adalah Syangkayodhyapura (Ayutthaya di Thailand), Dharmanagari (Kerajaan Nakhon Si Thammarat), Marutma, Rajapura dan Sinhanagari (kerajaan di Myanmar), Kerajaan Champa, Kamboja (Kamboja), dan Yawana (Annam).

Mitreka Satata di anggap sebagai aliansi Majapahit karena Kerajaan asing di luar Negeri seperti China dan India tidak termasuk dalam kategori ini meskipun Majapahit telah melakukan hubungan luar Negeri dengan kedua bangsa ini.

Pola kesatuan politik khas sejarah Asia Tenggara purba seperti ini kemudian di identifikasi oleh sejarahwan modern sebagai "mandala", yaitu kesatuan yang sistem politiknya ditentukan oleh pusat atau inti kekuasaannya daripada perbatasannya, dan dapat tersusun atas beberapa unit politik bawahan tanpa integrasi administratif lebih lanjut.

Daerah-daerah bawahan yang termasuk dalam lingkup mandala Majapahit, yaitu wilayah Mancanegara dan Nusantara yang umumnya memiliki pemimpin pribumi daerah tersebut yang menikmati kebebasan internal cukup luas.

Wilayah-wilayah bawahan ini meskipun sedikit-banyak dipengaruhi oleh Majapahit, tapi mereka tetap menjalankan sistem pemerintahannya sendiri tanpa terintegrasi lebih lanjut oleh kekuasaan pusat di ibu kota Majapahit.

Pola kekuasaan mandala ini juga ditemukan dalam Kerajaan-Kerajaan sebelumnya, seperti Kerajaan Sriwijaya dan Angkor, serta mandala-mandala tetangga Majapahit yang sezaman yaitu Ayutthaya dan Champa.


Demikian sedikit informasi tentang sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit dan masa keruntuhannya yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar sejarah Nusantara, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Tonton juga videonya:

Video YouTube: Harta Langit Channel

Dukung Harta Langit Channel dengan cara like, subscribe, komen dan share video ini agar kami dapat terus berkarya untuk mengenalkan dan melestarikan warisan budaya leluhur kita.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit dan masa keruntuhannya"

Untuk Pemesanan Benda Pusaka, Call/Sms: 0858-7027-7889 atau Chat via WA: