Advertisement

Pusaka-pusaka ampuh peninggalan Kerajaan Majapahit

Hartalangit.com – Majapahit merupakan sebuah Kerajaan besar yang pernah berjaya di Nusantara dan merupakan kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Sisa-sisa kejayaan Kerajaan Majapahit juga masih banyak yang tersisa, baik berupa bangunan maupun benda-benda bersejarah, termasuk benda-benda pusaka yang hingga kini masih ada.

Ada banyak sekali cerita legenda yang berkaitan dengan benda pusaka, terutama Keris yang seringkali digunakan untuk menggambarkan atau mewakilkan suatu kondisi tertentu, contohnya cerita tentang pertarungan antara Keris Sabuk Inten, Keris Condong Campur dan Keris Sengkelat yang menggambarkan kondisi masyarakat Majapahit pada waktu itu.

Oleh karena itulah kemudian Keris menjadi benda pusaka yang dihormati karena Keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tajam saja, tapi merupakan benda pusaka yang penuh makna simbolik sebagai sarana dakwah dan politik yang mengiringi perjalanan Negeri ini dari masa ke masa. Maka sudah selayaknya jika Keris kita hargai sebagai benda warisan leluhur yang perlu dilestarikan.

Baca juga: Nama-nama dhapur Keris dan Tombak lengkap menurut pakem Jawa

Berikut ini beberapa benda pusaka Kerajaan Majapahit yang paling terkenal sepanjang sejarah:

1. Keris Nogo Sorso

keris nogo sosro
Ilustrasi Keris Nogo Sosro

Keris Nogo Sosro merupakan pusaka utama Kerajaan Majapahit yang menjadi simbol penguasa.

2. Keris Sabuk Inten

keris sabuk inten
Ilustrasi Keris Sabuk Inten

Golongan masyarakat yang pertama disimbolkan dengan Keris Sabuk Inten untuk mewakili masyarakat kelas atas yang bergelimang harta dan kemewahan atau golongan pemilik modal.

3. Keris Sengkelat

keris sengkelat
Ilustrasi Keris Sengkelat

Golongan masyarakat yang kedua adalah masyarakat kelas bawah atau rakyat kecil yang kecewa dengan kesenjangan yang terjadi, atau yang dalam bahasa Jawa disebut "Sengkel Atine" yang disimbolkan dengan Keris Sengkelat.

4. Keris Condong Campur

keris condong campur
Ilustrasi Keris Condong Campur

Keris Condong Campur merupakan suatu perlambang keinginan untuk menyatukan perbedaan dan kesenjangan. Condong berarti miring yang mengarah ke satu titik, atau bisa bermakna keberpihakan, sedangkan Campur berarti perpaduan. Maksud dari Condong Campur adalah keinginan untuk menyatukan suatu keadaan tertentu.

Pada masa-masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit, terjadi banyak sekali perbedaan yang menyebabkan terjadinya perpecahan ditengah-tengah masyarakat baik dari aspek agama maupun aspek budaya.

Keris Condong Campur merupakan simbol untuk menyatukan kedua golongan masyarakat tersebut agar terjalin kedamaian dan keharmonisan. Konon Keris Condong Campur dibuat oleh 100 orang Empu dari seluruh penjuru Kerajaan secara bersama-sama.

Bahan untuk membuat Keris ini konon juga diambil dari berbagai tempat kemudian disatukan menjadi sebilah Keris yang pada akhirnya menjadi Keris pusaka yang sangat ampuh tapi sayangnya memiliki watak yang jahat.

Kondisi masyarakat Majapahit tersebut kemudian disimbolkan dengan kisah pertarungan antara Keris Sabuk Inten, Keris Condong Campur dan Keris Sengkelat. Dikisahkan bahwa Keris Sabuk Inten yang merasa terancam pada akhirnya memerangi keris Condong Campur, tapi dalam pertikaian tersebut Keris Sabuk Inten mengalami kekalahan. Keris Sengkelat yang merasa sangat tertekan dengan kondisi ini pada akhirnya memerangi Keris Condong Campur dan akhirnya mampu mengalahkannya.

Keris Condong Campur yang sudah kalah kemudian melesat ke angkasa menjadi Lintang Kemukus atau komet berekor dan bersumpah akan kembali ke bumi setiap 500 tahun sekali untuk membuat huru-hara atau yang dalam istilah Jawa disebut Ontran-ontran.

Tapi pada kenyataannya, masyarakat Majapahit tetap menunjukkan perpecahan baik dikalangan masyarakat maupun didalam istana. Kondisi tersebut menyebabkan Kerajaan Majapahit menjadi lemah dan pada akhirnya dapat dikalahkan oleh Kerajaan Demak yang merupakan Kerajaan Islam pertama di Jawa yang baru didirikan oleh Trah Majapahit itu sendiri.

Baca juga: 9 Keris pusaka paling sakti dan paling dicari ditanah Jawa

5. Tombak Pataka Sang Dwija Naga Nareswara

tombak pataka sang dwija naga nareswara
Ilustrasi Tombak Pataka Sang Dwija Naga Nareswara

Pataka Sang Dwija Naga Nareswara merupakan pusaka dari Kerajaan Majapahit yang berbentuk Tombak Pataka Nagari sebagai perwujudan dari Naga kembar penjaga Tirta Amertha. Tombak ini terbuat dari bahan tembaga yang di buat pada era Kerajaan Singhasari (abad 12 - 13 Masehi) yang kemudian diwarisi oleh Kerajaan Majapahit (Wilwatikta).

Tombak Pataka Sang Dwija Naga Nareswara  merupakan satu-satunya Tombak Pataka Kerajaan Singhasari yang dapat diselamatkan oleh Sangrama Wijaya pada saat keruntuhan Kerajaan Singhasari akibat serangan Kerajaan Gelang-gelang. Sedangkan Tombak Pataka lainnya berhasil dikuasai dan diboyong ke Kerajaan Gelang-gelang oleh Raja Jayakatwang.

Pada Tombak Pataka inilah pertama kali dipasang bendera Kerajaan Wilwatikta (Majapahit) ketika di proklamirkan dihutan Tarikh setelah penyerbuan pasukan Tartar dan pasukan Sang Ramawijaya atas Kerajaan Gelang-gelang. Bendera tersebut dinamakan Gulo - Klopo (Gula - Kelapa) yang pada akhirnya dijadikan sebagai Bendera Sang Saka Merah Putih.

Tombak Sang Dwija Naga Nareswara pernah disinggung dalam prasasti tahun 1305 AD bagian II  yang menjelaskan nama Abhiseka Kertarajasa Jayawardhana (Bhre Wijaya/pendiri Kerajaan Majapahit). Dalam prasasti tersebut dikatakan bahwa nama beliau terdiri dari 10 suku yang dapat dipecah menjadi empat kata yaitu “Kerta, Rajasa, Jaya dan Wardhana”.

“Kerta” mengandung arti bahwa baginda memperbaiki pulau Jawa dari kekacauan yang ditimbulkan oleh penjahat-penjahat dan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat.

“Rajasa” mengandung arti bahwa baginda berjaya mengubah suasana gelap menjadi suasana terang-benderang akibat kemenangan beliau terhadap musuh-musuhnya.

“Jaya” mengandung arti bahwa baginda memiliki lambang kemenangan berupa senjata Tombak berujung mata tiga (Trisula Muka), dan karena senjata itulah sehingga semua musuh bisa hancur lebur.

“Wardhana” mengandung arti bahwa baginda menghidupkan segala agama dan dapat melipat gandakan hasil bumi, terutama padi demi kesejahteraan rakyatnya. 

6. Tombak Pataka Sang Hyang Baruna

tombak pataka sang hyang baruna
Ilustrasi Tombak Pataka Sang Hyang Baruna

Pataka Kerajaan Majapahit yang bernama Sang Hyang Baruna berbentuk sebuah Tombak Pataka Nagari dengan dua mata Tombak kembar yang berada di atas kepala dan ekor Naga. Pataka ini terbuat dari bahan tembaga dan dibuat pada jaman Kerajaan Snghasari (abad 12 -13 masehi) dan diwarisi oleh Kerajaan Majapahit (Wilwatikta).

Tombak Pataka Sang Hyang Baruna biasa dipasang di atas kapal yang memimpin sebuah rombongan ekspedisi untuk menandai adanya seseorang diatas kapal tersebut yang bertindak mewakili Raja atau Negara.

Bendera atau panji-panji yang dipasang bernama : "Getih -Getah Samudra" dengan lima garis merah dan empat garis putih sebagai bendera armada militer Singhasari dan Majapahit. Bendera tersebut sampai saat ini masih tetap digunakan oleh TNI-AL pada kapal-kapal perangnya diperairan Internasional dengan nama panji-panji  "Ular-ular Tempur".

Pataka Sang Hyang Baruna pertama kali dibawa oleh pasukan ekspedisi Pamalayu dan diserahkan kembali kepada Kerajaan Majapahit sebagai penerus dari Kerajaan Singhasari. Pataka ini telah berkiprah pada Ekspedisi Pamalayu (Singhasari), Ekspedisi Duta Besar Adityawarman ke China pada masa Kerajaan Majapahit. Hal ini dilakukan dua kali, "Ekspedisi Nusantara oleh Gajah Mada (Majapahit)", dan masih tetap eksis hingga saat ini yang dilanjutkan oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

7. Tombak Pataka Sang Padmanaba Wiranagari

tombak pataka sang padmanaba wiranagari
Ilustrasi Tombak Pataka Sang Padmanaba Wiranagari

Tombak Pataka Sang Padmanaba Wiranagari (Teratai Kemuliaan Pembela Negeri) terbuat dari bahan tembaga dan dibuat pada era Kerajaan Singhasari (abad 12 - 13 Masehi) dan diwarisi oleh Kerajaan Wilwatikta (Majapahit).

Tombak Pataka ini direbut kembali oleh para senopati Singhasari eks ekspedisi Pamalayu di Kerajaan Jayakatwang Kediri. Pasukan ini merasa terluka hatinya dikarenakan Kerajaan Singhasari diruntuhkan oleh Jayakatwang ketika mereka tidak berada di tempat, sehingga tidak bisa membela Negaranya.

Ketika mereka pamit untuk melakukan tindakan perebutan kembali Pataka-Pataka Singhasari sebagai wujud pengembalian kehormatan Singhasari kepada Sangrama Wijaya, para senopati ini sempat tidak di ijinkan karena Sangrama Wijaya masih trauma dengan perang saudara yang baru saja terjadi dengan Raja Jayakatwang yang merupakan saudara sepupu dari Sri Kertanegara yang sekaligus adalah besannya, dan masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sangrama Wijaya dari silsilah kakeknya Narasingamurti.

Tapi kemudian para senopati eks ekspedisi Pamalayu tetap nekat berangkat setelah berpamitan kepada Prameswari Tribhuwaneswari (Putri pertama Sri Kertanegara dan istri Sangrama Wijaya). Tribhuaneswari tidak menjawab Ya atau Tidak, tapi hanya bersabda: “Penuhi dharmamu sebagai ksatriya”. Dan inilah yang menjadi legitimasi bagi para senopati ekspedisi Pamalayu untuk merebut kembali Panji Pataka peninggalan Singhasari yang ada di Daha.

Akhirnya para senopati ekspedisi Pamalayu berhasil membawa pulang 5 Pataka Singhasari dan meneguhkan sikap para kerabat di wilayah Daha yang masih bingung (harus bersikap mengabdi kepada siapa), bahwa Kerajaan Majapahit adalah penerus Singhasari yang sah dan penerus Rajasawangsa. Pada Tombak Pataka inilah pertama kali dipasang lambang Kerajaan Wilwatikta (Majapahit).

Ada 4 kali perubahan lambang Kerajaan Majapahit yang pernah ditambatkan pada Pataka ini. Semua lambang Kerajaan Majapahit bernama: Surya Wilwatikta atau Surya Majapahit.

8. Tombak Pataka Sang Hyang Naga Amawabhumi

tombak pataka sang hyang naga amawabumi
Ilustrasi Tombak Pataka Sang Hyang Naga Amawabhumi

Tombak Pataka Sang Hyang Naga Amawabhumi yang artinya “Naga Penjaga Keadilan” berbentuk Tombak Naga berbahan tembaga. Semua keputusan dalam pengadilan di ambil atas nama Raja yang disebut Sang Amawabhumi yang artinya: “Orang yang memiliki atau menguasai Negara”.

Dalam Mukadimah Kutara Manawa (Undang-undang jaman Majapahit) ditegaskan demikian: “Semoga Sang Amawabhumi teguh hatinya dalam menetapkan besar kecilnya denda, jangan sampai salah. Jangan sampai orang yang bertingkah salah, luput dari tindakan. Itulah kewajiban Sang Amawabhumi, jika beliau mengharapkan kerahayuan negaranya”.

Dalam soal pengadilan Raja dibantu oleh dua orang Dharmadhyaksa, yaitu Dharmadhyaksa Kasaiwan (Kepala Agama Siwa) dan Dharmadhyaksa Kasogatan (Kepala Agama Budha) dengan sebutan Dang Acarya. Karena kedua agama tersebut merupakan agama utama di Kerajaan Majapahit, maka segala perundang-undangan didasarkan kepada kedua agama tersebut.

Kedudukan Dharmadhyaksa dapat disamakan dengan Hakim Tinggi, mereka dibantu oleh lima orang Upapatti yang artinya pembantu Dharmadhyaksa. Mereka tersebut dalam beberapa piagam atau prasasti yang biasa disebut dengan Sang Pamegat atau disingkat Samgat yang artinya: “Sang pemutus alias hakim”.

Baik Dharmadhyaksa maupun Upapatti bergelar Dang Acarya. Pada mulanya terdapat lima Sang Pamegat yaitu Sang Pamegat Tirwan, Sang Pamegat Kandamuhi, Sang Pamegat Manghuri, Sang Pamegat Jambi dan Sang Pamegat Pamotan, kelimanya termasuk golongan Kasaiwan.

Pada masa pemerintahan Dyah Hayamwuruk, ditambah dengan dua orang Upapatti dari golongan Kasogatan yaitu Sang Pamegat Kandangan Tuha dan Sang Pamegat Kandangan Rare, sehingga keseluruhan pejabat pengadilan ada dua orang Dharmadhyaksa dan tujuh orang Upapatti.

Itulah beberapa benda pusaka peninggalan Kerajaan Majapahit yang patut kita banggakan karena Negeri ini pernah mencapai puncak kejayaan pada masa Kerajaan Majapahit dengan pusaka-pusaka ampuhnya tersebut. Tapi sayangnya ke empat Pataka yang merupakan lambang kebesaran Kerajaan Majapahit tersebut tidak di warisi oleh bangsa Indonesia, tapi justru berada di luar Negeri, tepatnya di THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART (1000 5th Avenue, New York, NY - USA).

Video You Tube: Andri Indonesia

Demikian sedikit informasi tentang pusaka-pusaka ampuh peninggalan Kerajaan Majapahit yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar benda-benda pusaka, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat

Terima kasih

0 Response to "Pusaka-pusaka ampuh peninggalan Kerajaan Majapahit"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Untuk Pemesanan Benda Pusaka, Call/Sms: 0858-7027-7889 atau Chat via WA: