Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Advertisement

Filosofi dan tuah Perkutut katuranggan Noroyono (Narayana)

perkutut noroyono - harta langit
Ilustrasi Perkutut Katuranggan Noroyono

Hartalangit.com – Perkutut katuranggan Noroyono (Narayana) memiliki ciri khusus yaitu kepalanya selalu menunduk kebawah serta memiliki pembawaan yang tenang. Perkutut katuranggan Noroyono termasuk jenis katuranggan yang langka dan dipercaya memiliki tuah yang baik untuk menambah kewibawaan dan kharisma pemiliknya. Perkutut ini lebih cocok dipelihara oleh seorang pemimpin.

Baca juga: Tuah Perkutut Katuranggan Pendowo Mijil

Noroyono (Narayana) adalah nama lain dari Kresna/Kresno yang memiliki makna “pelindung dan pengayom bagi semua orang”. Jadi, Perkutut katuranggan Noroyono merupakan pesan untuk para pemimpin agar dapat meniru kepemimpinan Kresna yang bisa melindungi dan mengayomi serta selalu bersikap tawadhu’ yang digambarkan dengan kepalanya selalu menunduk.

Dari filosofi yang tersirat tersebut dapat di ambil pelajaran agar dalam menjalani kehidupan ini hendaknya kita selalu bersikap tawadhu’ atau rendah hati dalam menyikapi segala hal. Selalu menunduk kebawah juga merupakan perlambang agar kita senantiasa belajar dari sifat bumi/tanah yang merupakan salah satu sifat dari Bathara Kresna (Wisnu).

perkututut narayana - harta langit
Ilustrasi Tokoh Pewayangan Kresna

Watak Bathara Wisnu digambarkan sebagai karakter bumi yang memiliki sifat kaya akan segalanya dan suka berderma. Pemimpin yang memiliki sifat bumi adalah seseorang yang memiliki sifat kaya hati. Dalam terminologi Jawa, kaya hati disebut “Sabardrono, Ati Jembar, Legowo dan Lembah Manah”. Itulah sifat bumi yang rela menghidupi dan menjadi sumber penghidupan bagi seluruh makhluk hidup.

Baca juga: Tuah Perkutut Katuranggan Puser Bumi

Bumi secara alamiah juga berwatak melayani segala yang hidup. Bumi dengan unsur tanahnya memiliki sifat dingin, tidak kagetan dan gumunan, tapi sebaliknya bersifat luwes (fleksibel), mudah beradaptasi dengan segala macam situasi dan kondisi tanpa harus merubah unsur-unsur tanahnya.

Maknanya, sekalipun seseorang bersifat mudah beradaptasi atau fleksibel, tapi tidak mudah dihasut dan tidak mudah diprovokasi karena selalu berbekal ketenangan pikiran, kebersihan hati, dan kejernihan batin dalam menghadapi berbagai macam persoalan dan perubahan.

Bumi juga selalu menempatkan dirinya dibawah menjadi alas atau pijakan bagi seluruh makhluk. Artinya, seseorang yang memiliki sifat bumi akan bersifat rendah hati namun mampu menjadi tumpuan dan harapan untuk banyak orang.

Sifat tanah juga berlawanan dengan sifat negatif api, maka hanya tanahlah yang memiliki kemampuan efektif untuk memadamkan api. Api atau nar mewakili sifat ke-aku-an yang sejatinya adalah sifat “iblis”, yaitu sifat negatif dan hawa nafsu dalam diri Manusia. Seseorang yang memiliki sifat bumi atau tanah, dia tidak akan lepas kendali dan mengikuti sifat-sifat api.

Bumi dalam hukum adi kodrati memiliki prinsip keseimbangan dan pola-pola hubungan yang harmonis serta sinergis dengan kekuatan manapun. Namun demikian, pada saat tertentu bumi juga dapat berubah karakter menjadi tegas, lugas dan berwibawa. Bumi dapat melibas kekuatan apapun yang bertentangan dengan hukum-hukum keseimbangan alam.

Seseorang yang memiliki watak bumi dapat juga bersikap sangat tegas dan mampu menunjukkan kewibawaannya dihadapan para musuh dan lawan-lawan yang akan mencelakai dirinya. Akan tetapi, bumi tidak pernah melakukan tindakan indisipliner yang bersifat aksioner dan sepihak. Karena ketegasan bumi merupakan bentuk akibat (reaksi) atas segala perilaku disharmoni terhadap dirinya. Tindakan tegas bumi tersebut juga disimbolkan dengan katuranggan Wisnu Murti.

Sifat-sifat bumi tersebut hendaknya dimiliki oleh seorang pemimpin, karena sifat-sifat itulah yang bisa mengantarkannya menjadi sosok pemimpin yang diharapkan. Konteksnya adalah bagi siapapun yang ingin menjadi pemimpin, hendaknya dia bisa meniru kepemimpinan Kresno (Noroyono).

Itulah filosofi dari Perkutut katuranggan Noroyono yang bisa dijadikan sebagai tuntunan hidup, terutama bagi para pemimpin. Sedangkan tuah dari Perkutut katuranggan Noroyono dipercaya dapat menambah kewibawaan pemiliknya sehingga akan dihormati oleh banyak orang dan bisa mencapai kedudukan tinggi.

Baca juga: Makna dan tuah Perkutut katuranggan Bodronoyo

Demikian sedikit informasi tentang filosofi dan tuah Perkutut katuranggan Noroyono yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar Perkutut katuranggan, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat

Terima kasih

Post a Comment for "Filosofi dan tuah Perkutut katuranggan Noroyono (Narayana)"

Untuk Pemesanan Benda Pusaka, Call/Sms: 0858-7027-7889 atau Chat via WA: