Advertisement

Filosofi dan tuah Keris Sengkelat

gambar keris sengkelat asli sepuh
Keris Sengkelat Sepuh

Hartalangit.com - Keris Sengkelat adalah salah satu bentuk dhapur Keris luk 13 yang paling populer dikalangan para pecinta Tosan Aji.

Ukuran panjang bilah Keris ini tergolong sedang, ada yang permukaan bilahnya nglimpo dan ada yang permukaan bilahnya nggigir sapi karena memakai odo-odo.

Ricikan pada Keris dhapur Sengkelat, antara lain: Kembang kacang, Jalen, Lambe gajah satu, Tikel alis, Sogokan rangkap, Sraweyan, Greneng, ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak.

gambar ricikan keris sengkelat
Ricikan Keris Sengkelat

Keris dhapur Sangkelat sangat mirip dengan Keris dhapur Parungsari, mulai dari jumlah luk sampai ricikannya, yang membedakan keduanya hanya pada lambe gajahnya saja. Keris Sengkelat hanya memiliki satu lambe gajah, sedangkan Keris Parungsari memiliki dua lambe gajah.


Keris Sengkelat pertama kali dibuat pada jaman Kerajaan Majapahit (1466 - 1478), yaitu pada masa pemerintahan Prabu Kertabumi (Brawijaya V).

Keris Sengkelat pertama dibuat oleh Mpu Supo Mandrangi yang diberi gelar Kanjeng Kyai Sengkelat, kemudian banyak Mpu-Mpu lain yang mutrani Keris Sengkelat sampai pada era Kerajaan-Kerajaan setelah Majapahit dan bahkan sampai sekarang.

Filosofi Keris Sengkelat:

Nama Sengkelat sendiri adalah singkatan dari "sengkel atine" atau "sengkeling ati" yang artinya dongkol/jengkel hatinya.

Keris Sengkelat dibuat untuk mewakili kondisi rakyat Majapahit pada waktu itu yang merasa tidak puas dengan kebijakan pemerintah atau penguasa yang lebih mengutamakan kepentingan kaum pemilik modal atau para pengusaha yang dilambangkan dengan Keris Sabuk Inten.

Cerita tentang pertarungan antara Keris Sengkelat melawan Keris Sabuk Inten dan Keris Nogo Sosro merupakan gambaran dari kondisi masyarakat Majapahit pada waktu itu yang sedang mengalami perpecahan.

Keris Nogo Sosro yang melambangkan penguasa dan Keris Sabuk Inten yang melambangkan pengusaha/kaum pemilik modal dan kaum bangsawan memiliki hubungan yang sangat harmonis.

Hal itu membuat Keris Sengkelat yang mewakili masyarakat bawah (rakyat kecil) menjadi meradang dan melakukan perlawanan.


Keris Sengkelat memang diciptakan dengan tuah kewibawaan yang sangat besar untuk menandingi kekuatan Keris Nogo Sosro dan Keris Sabuk Inten, sehingga secara wujud fisik, Keris Sengkelat memang memiliki aura perbawa yang sangat besar.

Kesan pertama ketika menghunus Keris Sengkelat dari warangkanya adalah pancaran perbawa yang begitu besar dari Keris berluk 13 ini.

Maka tidak heran jika Keris ini menjadi sangat populer dikalangan para penggemar Tosan Aji dan banyak dicari oleh para pemimpin serta para pejabat tinggi yang memiliki banyak bawahan sebagai sarana atau piandel untuk menambah kewibawaan dan kharisma agar dihormati dan disegani oleh bawahannya dan juga orang-orang disekitarnya.

Orang yang memiliki Keris Sengkelat akan memiliki wibawa dan kharisma yang besar sehingga akan dihormati dan disegani oleh semua orang.

Sebagai seorang atasan, maka perintah dan keputusannya akan dipatuhi karena aura kewibawaannya yang sangat besar akan membuat orang lain tunduk dan "pekewuh" dengan pemilik Keris Sengkelat.

Karena kepercayaan akan tuah atau khasiat ampuh Keris Sengkelat itulah yang membuat banyak orang ingin memiliki Keris Sengkelat untuk dijadikan sebagai piandel, terutama orang-orang yang memiliki jabatan tinggi sebagai sarana untuk mengokohkan kedudukannya.

Karena peminatnya sangat banyak, Keris Sengkelat banyak dibuat tiruannya untuk memenuhi permintaan pasar karena harga atau maharnya cukup tinggi.

Sayangnya Keris-Keris Sengkelat buatan baru tersebut seringkali dikatakan sebagai Keris Sengkelat sepuh untuk menarik minat pembeli.

Karena rata-rata orang yang ingin memiliki Keris Sengkelat tujuannya adalah untuk dijadikan sebagai piandel sehingga sudah pasti yang dicari adalah Keris Sengkelat sepuh.


Pesan sesungguhnya dari Keris Sengkelat adalah untuk mengingatkan para penguasa atau para pemimpin agar tidak mengabaikan nasib rakyatnya, agar para penguasa tahu jika rakyatnya sedang "sengkel atine" atau jengkel hatinya karena pemimpinnya tidak mengutamakan kepentingan rakyatnya tapi justru lebih mengutamakan kepentingan dirinya dan golongannya dengan membuat kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil.

Keris Sengkelat adalah sebuah pesan tersirat untuk para penguasa agar mau melihat dan turun kebawah memperhatikan kondisi rakyatnya yang "sengkel atine".

Jangan sampai rakyatnya merasa tidak puas dengan kepemimpinannya, jangan sampai rakyatnya marah karena sudah sekian lama merasa "sengkel atine" melihat perilaku para penguasa dan aparatur Negara yang tidak berpihak pada rakyat kecil.

Jangan sampai rakyat marah dan mengerahkan kekuatannya untuk melakukan perlawanan karena kekuatan rakyat yang marah tidak akan bisa dibendung.

Itulah kenapa Keris Kanjeng Kyai Sengkelat yang pertama kali dibuat oleh Mpu Supo Mandrangi diberikan kepada Prabu Brawijaya, tujuannya agar sang Raja mengerti dengan kondisi rakyatnya yang sedang "sengkel atine" karena kondisi Kerajaan Majapahit pada waktu itu sedang tidak stabil.

Keris Sengkelat luk 13 memiliki makna yang sangat dalam tentang kepemimpinan dan juga kental dengan muatan spiritual, karena angka 13 sendiri dalam khasanah Jawa dimaknai sebagai "las-lasaning urip", masa-masa akhir kehidupan atau melambangkan kasepuhan.

Ada pengertian lain bahwa luk 13 juga memiliki arti "tri welas", yaitu: welas ing sesami, welas ing sato iwen, lan welas ing tetuwuhan. Semua itu diarahkan kepada keselarasan antara Manusia, lingkungan dan TUHAN.

Angka 13 juga dianggap sebagai penolak bala, karena terdiri dari angka 1 (angka pertama) yang memiliki makna permulaan, tunggal dan ke-Esa-an yang melambangkan ke-Tuhanan.

Sedangkan angka 3 adalah angka ganjil yang mencerminkan keseimbangan hidup. Dalam kehidupan ini ada 3 perkara yang selalu berkaitan dengan Manusia, contohnya:

• Ada 3 perkara dalam hidup yang tidak mungkin kembali, yaitu: waktu, ucapan dan kesempatan.

Jadi sebisa mungkin manfaatkanlah waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, menjaga ucapan kita agar tidak menyakiti orang lain karena mulutmu adalah harimaumu dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

• Ada 3 perkara yang tidak kita mengerti dengan pasti, yaitu: rejeki, umur dan jodoh.

Jadi kita hanya sebatas melakukan apa yang bisa kita usahakan dan selebihnya adalah urusan Gusti Kang Akaryo Jagad.

• Ada 3 perkara dalam hidup yang pasti terjadi, yaitu: tua, sakit dan mati.

Oleh karena itu, persiapkanlah masa-masa itu dengan sebaik-baiknya karena ketika Manusia sudah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do'a anak yang sholeh.

Jadi terlepas dari adanya tuah, angsar, yoni atau khodam pada Keris Sengkelat, tapi sejatinya Keris ini memiliki makna tersirat yang sangat dalam tentang ajaran kepemimpinan dan spiritual yang seharusnya menjadi pegangan hidup bagi pemilik Keris.


Demikian sedikit informasi tentang filosofi dan tuah Keris Sengkelat yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar benda-benda pusaka, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

2 Responses to "Filosofi dan tuah Keris Sengkelat"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Untuk Pemesanan Benda Pusaka, Call/Sms: 0858-7027-7889 atau Chat via WA: