Advertisement

Legenda kesaktian pusaka Bende Mataram dan runtuhnya Kerajaan Pajang

pusaka bende mataram
Ilustrasi

Hartalangit.com – Pada tahun 1582 meletuslah perang Pajang dan Mataram yang disulut karena kemarahan Danang Sutawijaya yang membela adik iparnya, yaitu Tumenggung Mayang yang dihukum buang ke Semarang oleh Sultan Hadiwijaya karena kesalahan anaknya yaitu Raden Pabelan yang kedapatan menyelinap ke Keputren untuk menemui Ratu Sekar Kedaton yang merupakan putri bungsu Sultan Hadiwijaya.

Istri Tumenggung Mayang yang juga merupakan adik dari Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati) tidak terima dengan perlakuan Sultan Hadiwijaya terhadap anak dan suaminya, kemudian dia meminta bantuan Sutawijaya untuk menyerang rombongan prajurit Pajang yang membawa suaminya.

Karena peristiwa itu, Sultan Hadiwijaya langsung menyatakan perang dengan Mataram. Beliau langsung memimpin sendiri pasukannya untuk menyerang Mataram dengan menaiki seekor gajah.

Peperangan antara pasukan Kerajaan Pajang yang dipimpin Sultan Hadiwijaya dan pasukan Mataram yang dipimpin Sutawija (Panembahan Senopati) tidak dapat dihindarkan lagi. Sultan Hadiwijaya dan Panembahan Senopati berdiri berseberangan sebagai lawan berada dibelakang pasukannya masing-masing dengan panji-panji kebesarannya masing-masing.

Sultan Hadiwijaya duduk menunggangi seekor gajah sebagai lambang kebesaran Kerajaan Pajang dengan membawawa Keris pusaka andalannya yaitu Keris Kanjeng Kyai Sengkelat yang terselip dipinggangnya. Sementara Panembahan Senopati duduk di atas pelana kuda putih kesayangannya dengan menggenggam pusaka andalannya Tombak Kyai Plered ditangan kanannya dan Mustika Wesi Kuning didalam sakunya, ditambah pusaka Bende Mataram yang dibawa pengawalnya berada di sebelah kirinya.

Bende Mataram adalah genderang perang yang menjadi andalan Mataram yang konon memiliki kesaktian luar biasa. Bende Mataram merupakan pusaka andalan dalam setiap peperangan yang dapat meningkatkan semangat juang pasukan Mtaram dan dapat melunturkan semangat juang serta keberanian lawan.

Tetapi pasukan Pajang masih lebih tangguh dan lebih terlatih dari pasukan Mataram sehingga sepanjang pertempuran itu pasukan Mataram sering keteteran dan banyak sekali korban berjatuhan dipihak Mataram. Bala bantuan prajurit dan orang-orang sakti terus berdatangan dari sekutu-sekutu Mataram, tetapi tetap saja mereka selalu terdesak dan korban terus berjatuhan meskipun Bende Mataram berkali-kali dibunyikan.

Bende Mataram adalah pusaka milik Mataram yang konon memiliki kekuatan ghaib untuk menaikkan mental dan semangat tempur pasukan Mataram, dan sekaligus untuk melemahkan semangat tempur dan mengacaukan konsentrasi lawan.

Setiap kali Bende pusaka tersebut ditabuh maka semangat tempur pasukan Mataram kembali bangkit untuk terus menggempur pasukan Pajang yang menurun konsentrasinya. Para spiritualis Mataram dibelakang barisan juga sejak awal tidak henti-hentinya membacakan doa dan mantra-mantra untuk membantu pasukan Mataram.

Tapi Sultan Hadiwijaya bukanlah orang sembarangan, beliau merupakan seorang Raja yang sakti mandraguna dan memiliki banyak ilmu kesaktian tingkat tinggi. Melihat konsentrasi pasukannya yang buyar akaibat pengaruh kekuatan ghaib Bende Mataram, maka Sultan Hadiwijaya segera menggunakan kesaktiannya untuk menetralisir pengaruh ghaib Bende Mataram dan ilmu ghaib dari orang-orang sakti pendukung Mataram.

Pengaruh ghaib Bende Mataram dan ilmu ghaib dari para spiritualis Mataram hampir tidak berarti setelah Sultan Hadiwijaya menetralisirnya. Peperangan terus berlangsung dan pasukan Pajang yang memang lebih tangguh dapat selalu menekan pasukan Mataram sehingga korban terus berjatuhan di pihak Mataram.

Jika hanya menghadapi Panembahan Senopati dan pasukannya beserta gabungan pasukan dari Kadipaten-Kadipaten yang bersatu dengan Mataram dan orang-orang sakti pendukungnya, sebetulnya di atas kertas Sultan Hadiwijaya dan pasukannya bisa dengan mudah menumpas pasukan Mataram dan sekutu-sekutunya.

Tetapi Sultan Hadiwijaya sengaja datang bersama pasukannya dengan menunggangi seekor gajah sebagai lambang kebesaran Kerajaan Pajang untuk menunjukkan kebesarannya sebagai seorang Raja yang seharusnya dihormati, terutama oleh Sutawijaya yang merupakan anak angkatnya.

Sultan Hadiwijaya sengaja menunggu, tidak turun dari tunggangannya, tidak turun ke gelanggang perang, dan hanya memperhatikan saja dari jauh. Ia menunggu sampai Panembahan Senopati datang sendiri kepadanya. Sultan Hadiwijaya ingin mendengar langsung dari mulut Panembahan Senopati, kenapa ia sampai berani kurang ajar kepadanya (Ayahnya) dan berani berhadapan perang melawannya (Rajanya).

Sekalipun Panembahan Senopati memiliki kekuasan di Alas Mentaok yang kemudian disebut Mataram sebagai warisan dari ayah tirinya Ki Ageng Pemanahan, tetap saja Mataram adalah bawahan Pajang yang seharusnya tunduk pada kekuasaan Pajang.

Tidak masalah jika Mataram tidak menyerahkan upeti/pajak, karena Mataram memang daerah perdikan yang dibebaskan dari keharusan membayar upeti/pajak. Tetapi ketika orang-orang generasi tuanya datang menghadap ke Pajang untuk menjaga kekerabatan, justru Panembahan Senopati tidak mau ikut datang. Dan yang tidak dapat diterima, Sutawijaya juga sengaja mempengaruhi para kepala daerah lainnya dibawah kekuasaan Kerajaan Pajang untuk tidak membayar upeti kepada Kerajaan Pajang dan mempengaruhinya juga untuk bersekutu dengan Mataram untuk melawan Pajang. Hal itu sama seperti yang dilakukan oleh Demak terhadap Majapahit pada masa awal membangun kekuasaan.

Bagi Sultan Hadiwijaya, tidak sepantasnya seorang anak  bersikap kurang ajar kepada ayahnya, apalagi sampai berani melawannya yang juga merupakan Rajanya. Sebetulnya Sultan Hadiwijaya tidak ingin meenggunakan tangan besi kepada anaknya itu jika saja Sutawijaya mau meminta maaf kepadanya.

Semua pasukan yang dibawanya untuk mengalahkan pasukan Mataram hanyalah sebagai pelajaran saja supaya Mataram dan wilayah-wilayah lain di bawah Pajang tidak menentang kekuasaan Pajang. Dia ingin menunjukkan bahwa Pajang tidak bisa diremehkan dan siapapun yang menentang Pajang akan ditumpasnya.

Peperangan tersebut memang tidak seimbang. Walaupun pasukan Mataram dibantu oleh orang-orang sakti dan pasukan dari Kadipaten-Kadipaten yang bersekutu dengan Mataram tetap saja belum sekelas dan tidak dapat disejajarkan dengan pasukan Kesultanan Pajang. Apalagi pasukan Pajang sudah jauh lebih kuat daripada pasukan Demak dahulu.

Korbanpun terus berjatuhan dipihak Mataram. Jika melihat jalannya peperangan, maka asil akhir dari peperangan tersebut sudah bisa diperkirakan, hanya tinggal menunggu waktu saja sampai semua tentara Mataram menyerah atau mati.

Tapi wahyu kekuasaan memang sudah waktunya berpindah. Panembahan Senopati tidak hanya berperang bersama pasukan dan sekutunya saja, tapi juga dibantu oleh kekuatan ghaib dari penguasa Laut Selatan dan dari Gunung Merapi.

Ketika perang masih berlangsung dan pasukan Mataram sudah keteteran, secara mengejutkan Gunung Merapi yang letaknya tidak jauh dari posisi mereka tiba-tiba meletus. Laharnya turun melewati Sungai Opak dan menghantam tenda-tenda milik prajurit Pajang. Banyak sekali prajurit Sultan Hadiwijaya yang menjadi korban meletusnya Gunung Merapi.

Melihat kondisi tersebut, Sultan Hadiwijaya segera menarik mundur pasukannya. Dalam perjalanan pulang, Beliau menyempatkan untuk singgah ke makam Sunan Tembayat. Tapi anehnya gerbang makam tersebut tidak bisa dibuka.

Dari semua kejadian yang di alaminya, Sultan Hadiwijaya merasa bahwa waktunya sebentar lagi akan berakhir. Dan benar saja, dalam perjalanan pulang Ke Pajang Sultan Hadiwijaya terjatuh dari gajah yang ditungganginya. Setelah kejadian itu, kesehatan Sultan Hadiwijaya langsung menurun.

Dalam kondisi tidak sadarkan diri, Sultan Hadiwijaya mengalami sebuah fenomena ghaib. Beliau ditemui oleh sukma halus para leluhurnya yang merupakan mantan Raja-Raja Singasari dan Majapahit yang datang dan berkumpul di sekelilingnya. Sri Rajasa Kertanegara, Raden Wijaya beserta istri-istrinya, Ratu Tribhuana Tunggadewi dan adik-adiknya, serta pembesar-pembesar dan para bangsawan yang setia kepada Singasari dan Majapahit, mereka bersama-sama datang kepadanya.

Baca juga: Pusaka-pusaka ampuh peninggalan Kerajaan Majapahit

Ratu Tribhuana Tunggadewi dengan lembut berkata kepada Sultan Hadiwijaya:

“Tidak usah dilanjutkan ambisimu menjadi penguasa tanah Jawa. Sudah cukup kiranya kamu menjadi penerus kami, menjadi pamungkas Raja-Raja dari trah Singasari dan Majapahit. Mulai hari ini juga wahyu Raja yang ada padamu sudah akan pergi kembali kepada yang memberi wahyu.

Biarkan saja Mataram dengan Panembahan Senopatinya itu. Ia bukanlah penerusmu ataupun penggantimu. Kerajaannya hanyalah transisi saja sebelum tanah Jawa masuk ke dalam jaman yang baru. Jaman yang penuh dengan kesusahan dan penderitaan.

Tanah Jawa akan masuk ke dalam jaman baru. Jaman yang penuh dengan kesusahan dan penderitaan. Dan tidak ada satupun Raja Jawa sesudah kamu yang akan dapat melindungi tanah Jawa dan rakyatnya pada jaman itu. Penguasa tanah Jawa yang sesungguhnya akan datang dari seberang.

Kejayaan tanah Jawa sudah berakhir. Tidak akan ada lagi panji-panji kebesaran yang akan dikibarkan, karena tanah Jawa akan menjadi jajahan orang-orang dari seberang. Kebesaran tanah Jawa akan menjadi rampasan perang. Tak ada lagi yang akan tersisa. Kebesaran tanah Jawa sudah habis. Bahkan kebanggaan sebagai orang Jawa pun tidak akan lagi ada.

Tetapi akan ada masanya nanti tanah Jawa akan bangkit kembali.  Batas-batas Singasari - Majapahit akan dipulihkan lagi. Dipimpin oleh Raja-Raja keturunan kami.

Tapi mereka bukanlah Raja-Raja yang utama. Mereka hanyalah pembuka jalan saja bagi Raja yang sesungguhnya, Raja besar yang akan menerima semua restu dari para leluhur Raja-Raja pendahulunya, Singasari - Majapahit di timur dan tengah dan Galuh di barat.

Ia adalah Raja Manusia. Ia juga Raja kami dan semua mahluk halus. Pusaka-pusaka tanah Jawa dan pusaka-pusaka Dewa akan diwariskan kepadanya. Wahyu-wahyu Raja akan tumduk padanya dan Dewa-Dewa pun menyertainya.

Ia akan datang sesudah Bumi porak-poranda. Itulah tanda kebesarannya. Ia tidak butuh tentara karena ia sendiri bisa memporak-porandakan Dunia.

Kami sedih menyampaikan ini kepadamu. Kami tahu kamu sangat menghormati kami leluhurmu dan ingin kejayaan Majapahit kembali berkibar. Tetapi sudah tiba waktunya bahwa tanah Jawa akan menerima karma dan hukuman karena keburukan perbuatan dan moral mereka sendiri. Tetapi pada waktunya nanti kamu juga akan berbangga. Karena dia, Raja yang akan datang itu adalah bagian dari kita. Keluarga kita”.

Baca juga: Sejarah Keris Empu Gandring dan berdirinya Kerajaan Singasari

Kondisi Sultan Hadiwijaya tidak juga membaik, sang Sultan hanya sempat sadar beberapa kali tetapi kemudian kembali lagi tidak sadarkan diri. Panembahan Senopati yang dikabari tentang kondisi ayah angkatnya itu juga datang untuk menjenguknya, tetapi tidak masuk menemuinya, dan selama ia berada di Pajang, ayah angkatnya itu tetap tidak sadarkan diri.

Ketika suatu saat Sultan Hadiwijaya sadar dan dapat berkomunikasi, beliau menyampaikan pesan terakhirnya kepada anak-anaknya. Dipesankannya supaya anak-anaknya tidak memperebutkan kekuasaan. Juga jangan ada pertentangan antara Pajang dengan Mataram. Biarlah Pajang dan Mataram hidup sendiri-sendiri. Mereka juga harus hidup rukun satu dengan lainnya.

Beberapa hari kemudian Sultan Hadiwijaya wafat, kembali kepada para leluhurnya. Tetapi sejak itu juga pusaka kesayangannya Keris Kanjeng Kyai Sengkelat juga menghilang (Moksa) masuk ke alam ghaib bersama dengan fisik Kerisnya. Jadi yang masih ada sekarang ini hanyalah Keris-Keris sengkelat tiruan atau turunannya saja (Putran).

Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (tahun 1582), Sutawijaya mengangkat diri sebagai Raja Mataram dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alogo. Pajang kemudian dijadikan sebagai salah satu wilayah bagian dari Mataram yang beribukota di Kotagede.

Panembahan Senopati bertahta sampai wafat pada tahun 1601. Selama masa kekuasaannya bisa dikatakan Kerajaan Mataram terus-menerus berperang untuk memperluas kekuasaan, dari mulai Kasultanan Demak, Ponorogo, Pasuruan, Kediri, Surabaya, bahkan sampai wilayah Cirebon juga berada di bawah pengaruh Mataram.

Setelah wafat, Panembahan Senopati kemudian digantikan oleh putranya yaitu Mas Jolang yang bertahta dari tahun 1601 - 1613. Mas Jolang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak. Panembahan Seda Krapyak hanya memerintah selama 12 tahun dan meninggal ketika sedang berburu di Hutan Krapyak.

Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo. Di bawah pemerintahannya (tahun 1613 - 1645), Mataram mengalami masa keemasannya.

Baca juga: Kisah pemberontakan Ki Ageng Mangir dengan pusaka andalannya Tombak Kyai Baru Klinting

Demikian sedikit informasi tentang legenda kesaktian pusaka Bende Mataram dan runtuhnya Kerajaan Pajang yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar sejarah dan benda-benda pusaka, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat

Terima kasih

Post a Comment for "Legenda kesaktian pusaka Bende Mataram dan runtuhnya Kerajaan Pajang"

UNTUK PEMESANAN BENDA PUSAKA: