Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Advertisement

Hakekat dan keutamaan Sholawat

gambar kaligrafi sholawat nabi
Kaligrafi Sholawat Nabi

Hartalangit.com – Sesungguhnya ALLAH dan Malaikat-Malaikatnya bersholawat atas Nabi: hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah untuk Nabi dan ucapkan salam dengan penghormatan kepadanya. (QS Al-Ahzab 33:56)

Sholawat dari ALLAH adalah rahmat, dan dari Malaikat adalah istighfar (permohonan ampunan), dan tidak ada kedudukan yang  lebih tinggi dibanding orang yang membuat Malaikat beserta seluruh makhluk sibuk beristighfar dan berdoa untuknya. (At Taisir bisyarhi Al Jami’ Ash Shaghir, 2/330)

Sementara Ath Thayyibi mengatakan bahwa shalawatDari Allah Ta’ala di sini adalah keberkahan dari langit. (Tuhfah Al Ahwadzi, 7/380)

Jadi, keberkahan dan rahmat ALLAH Ta’ala, begitu pula doa dan permohonan ampunan dari para Malaikat, seluruh makhluk yang ada di langit, seluruh makhluk yang ada di bumi, baik itu Manusia, Jin dan hewan, sampai semua makhluk laut yang tidak terhitung jumlahnya untuk orang-orang yang mengajarkan kebaikan dan ilmu bermanfaat kepada sesama.

Maka beruntunglah para guru, ustadz, da’i, muballigh, mu’allim dan semua Manusia yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, terlebih mengajarkan ilmu-ilmu agama. Ini adalah kabar gembira yang begitu luar biasa.


Untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang maksud sholawat dalam ayat tersebut, kiranya lebih bail lagi jika dikaji kata kunci ayat tersebut, yakni shallu dan sallimu.

Kata shallu berasal dari akar kata shalah yang artinya “menyebut yang baik, ucapan-ucapan yang mengundang kebajikan, doa dan curahan rahmat”.

Kata shallu dan sejumlah derivasinya terulang sebanyak 101 kali. Bentuk fi’il mudhari’nya terulang hanya 5 kali, yakni tushalli (9:84), yushallu (4:102), yushalluna (33:56) dan yushalli (3:39 dan 33:43). Sebagian besar kata shalah dikaitan dengan perintah menjalankan sholat.

Sedangkan kata sallimu berasal dari kata salam. Makna dasarnya adalah luput dari kekurangan, kerusakan dan aib. Kata ini dan derivasinya terulang 152 kali di dalam Al-Qur’an.

Sebagian besar mufassir tidak berbeda pendapat dalam memahami ayat ini. Bentuk sholawat Allah kepada Rosul berupa limpahan rahmat, keberkahan dan anugerah ALLAH kepada Nabi Muhammad secara terus menerus.

Sedangkan sholawat Malaikat kepada Nabi Muhammad berupa permohonan agar dipertinggi derajat Nabi Muhammad dan dicurahkan maghfirah (ampunan) atas dirinya.

Sedangkan bentuk sholawat orang-orang mukmin adalah permohonan doa agar Nabi Muhammad selalu terhindar dari segala aib dan kekurangan, serta menyebut-nyebut keistimewaan dan jasa beliau untuk dijadikan panutan dalam kehidupan.

Setelah ayat di atas itu (al-Ahzab:56) turun kepada Nabi Muhammad, kaum Anshar Muhajirin bertanya kepada Rasul: “Wahai Rasul, itu hanya khusus untukmu, bagaimana dengan kami?”. ALLAH menjawab keresahan kaum Anshor dengan menurunkan Q.S. al-Ahzab: 43. “huwa al-ladzi yushalli ‘alaikum wa malaikatuhu liyukhrijakum min adh-dhulumat ila an-nur wa kana bil mu’minima rahima”.

Artinya: Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-NYA (memohonkan ampunan untukmu), supaya dia (Muhammad) mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Imam Bukhari, Muslim dan ahli hadist lainnya meriwayatkan bahwa para sahabat Nabi, seperti Ka’ab ibn ‘Ujrah berkata: “ketika turunnya ayat ini kami bertanya: Wahai Rasul, kami telah mengetahui salam maka bagaimana sholawat untukmu? Beliau bersabda: “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

Kemudian Para sahabat selalu bersholawat kepada Nabi Muhammad jika teringat segala hal yang berkaitan dengan diri Rosul. Fatimah binti Husain juga meriwayatkan bahwa merekapun bersholawat ketika memasuki masjid seperti yang diajarkan oleh Rosul.

Ibn Asyur dalam tafsirnya At-Tahrir wa at-Tanwir bahwa ayat ini dalam tata gramatikalnya berbentuk jumlah ismiyah (nominal). Sedangkan dalam kaidah tafsir setiap kalimat yang berbentuk nominal memiliki faidah menunjukkan dan menguatkan kebenaran sebuah berita.

Sedangkan kata yushalluna yang berbentuk mudhari’ berarti pekerjaan yang terus berulang atau mengalami perubahan (istimrar). Hal ini menunjukkan agar kaum muslimin memperbanyak membaca sholawat kepada Nabi.


Rosulullah saw bersabda: “Siapa yang bersholawat kepadaku satu sholawat niscaya ALLAH akan bersholawat kepadanya 10 kali”.

Ada juga riwayat yang menyatakan bahwa beliau bertanya kepada para sahabatnya, “Tahukah kalian siapa yang kikir? Mereka menjawab: ALLAH dan Rosul-Nya lebih mengetahui. Kemudian Beliau menjawab: “dia adalah yang bershalawat kepadaku tanpa menyebut keluargaku”.

Ibnu Asyur secara historis juga menjelaskan bahwa penulisan nama Nabi Muhammad SAW pada muqaddimah (pengantar) kitab baru dikenal pada masa Harun al-Rasyid, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibn Astir dan Qadhi ‘Iyyad. Penulisan tersebut berkembang mulai abad ke IV H.

Imam al-Nawawi menganjurkan agar penulisan nama Nabi Muhammad SAW harus selalu di ikuti dengan shalawat kepadanya seperti halnya menulis nama ALLAH selalu di ikuti dengan sifat-NYA seperti ALLAH azza wa jalla, ALLAH Ta’ala dan lain-lain, karena hal tersebut adalah sebagai bentuk doa.

Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya al-Jami li Ahkamil Qur’an menyebutkan hukum bersholawat kepada Rosulullah SAW. Para ulama bersepakat bahwa bersholawat hukumnya wajib. Sebab kata shalluu itu berbetuk fi’il amar (perintah). Namun para ulama berbeda pendapat tentang pengertian pewajibannya yakni:

- Wajib bersholawat setiap mendengar dan membaca nama Rosulullah SAW.

- Wajib bersholawat sekali dalam sebuah majelis meskipun nama Rosulullah sering disebut seperti halnya sujud sajdah, menjawab orang bersin, mengawali dan mengakhiri doa dengan bacaan sholawat.

- Wajib sekali dalam seumur hidup seperti halnya pelaksanaan haji yang wajib dilakukan sekali seumur hidup.

Imam Syafi’i, Ishaq, Muhammad bin al-Mawaz dan Abu Bakr ibn al-‘Arabi dari mazhab Maliki menyatakan wajib hukumnya membaca sholawat dalam sholat (tahiyat akhir). Bagi yang meninggalkannya karena sengaja maka batal sholatnya, begitu juga dengan bacaan khutbah Jumat. Tanpa sholawat kepada Nabi, maka tidak sah khutbah Jumat-nya.

Apa manfaat dan fungsi bacaan sholawat kita kepada Nabi, sedangkan ALLAH dan para Malaikat sudah menyampaikannya? ALLAH sendiri juga telah menjamin keselamatan bagi Rasulullah?

Mungkin, disinilah sebenarnya letak aspek tarbiyah (edukatif) ALLAH kepada makhluk-NYA. Ayat ini mengandung pengertian yang dalam bahwa doa dan permohonan keselamatan serta kesejahteraan kepada Nabi bertujuan sebagai:

- Pengajaran kepada kita untuk selalu bersyukur terhadap segala jasanya yang menuntun kita pada jalan kebenaran seperti yang termuat dalam Q.S. al-Ahzab: 43.

- Menunjukkan keagungan Rosulullah SAW karena ALLAH tidak memerintahkan bersholawat kepada Nabi-Nabi lainnya.

- Mendidik kita agar selalu bersikap rendah diri dan tidak mengandalkan amal perbuatan untuk meraih surga karena masuknya hamba ke dalam surga dikarenakan rahmat-NYA, bukan akibat perbuatannya.


Sholawat sebagai tawasul pembuka hijab:

Doa masih akan terhalang jika tanpa bertawassul dengan bersholawat pada Nabi Muhammad SAW. Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib KW berkata:

“Setiap doa antara seorang hamba dengan ALLAH selalu diantarai dengan hijab (penghalang, tirai) sampai dia mengucapkan sholawat pada Nabi Muhammad SAW. Jika ia membaca sholawat, maka terbukalah hijab itu dan masuklah doa-nya”. (Kanzul ‘Umal 1:173, Faidh Al-Qadir 5:19)

Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib KW juga berkata, Rosulallah SAW bersabda:
“Setiap doa terhijab (tertutup) sampai membaca sholawat pada Nabi Muhammad dan keluarganya”. (Ibnu Hajr Al-Shawaiq 88)

Ada juga riwayat hadits sebagai berikut:

“Barangsiapa yang melakukan sholat dan tidak membaca sholawat padaku dan keluarga (Rosulallah SAW), sholat tersebut tidak diterima (batal)”. (Sunan Al- Daruqutni 136)

Mendengar sabda Nabi Muhammad SAW ini, para sahabat diantaranya Jabir Al-Anshori berkata:
“Sekiranya aku sholat dan didalamnya aku tidak membaca sholawat pada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad aku yakin sholatku tidak diterima”. (Dhahir Al-Uqba : 19)

Begitu juga Imam Syafi’i dalam sebagian bait syairnya mengatakan:

“Wahai Ahli Bait (keluarga) Rosulallah, kecintaan kepadamu diwajibkan ALLAH dalam Al-Qur’an yang diturunkan, cukuplah petunjuk kebesaranmu, siapa yang tidak bersholawat (waktu sholat) padamu tidak diterima sholatnya“.

Hakekat Sholawat:

“Sesungguhnya orang-orang yang memaggilmu (bersholawat) dari belakang bilik-bilik (masih terhijab batinnya) itu kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan sekiranya mereka bersabar, sampai engkau (Nur Muhammad) keluar (menampakkan) kepada mereka, niscaya hal itu lebih baik bagi mereka. Dan ALLAH Maha Pengampun dan Maha Penyayang”. (QS 49 : 4-5)

Kebanyakan umat Islam tidak tahu apa arti dari hakekat sholawat, tapi baru mengetahui bacaan sholawat yang berupa tulisan, padahal tulisan “allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad” bukanlah sholawat yang sebenarnya, itu hanya tulisan. Jika dibaca maka bunyinya “allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad”, ini juga bukan sholawat, tapi hanya bunyi bacaan sholawat.

Kita ambil contoh lain, misalnya ketika kita mendengar kata “makan” ini bukan “makan” yang sesungguhnya karena action dari kata “makan” tersebut adalah sebuah tindakan yang di awali dengan memasukkan makanan ke mulut, mengunyahnya, kemudian menelannya.

Lalu bagaimanakah action dari sholawat itu sehingga jika kita melakukan action itu maka secara otomatis juga melewati wilayah sholawat yang sebenarnya.

Seperti halnya action “makan”, maka didalamnya kita telah melakukan makan yang sebenarnya. Dengan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan untuk setiap konsep, pemahamnya selalu ada tiga. Jadi ada segitiga pemahaman konsep.

1. Untuk siapakah sholawat itu diberikan/ditujukan?

Jika melihat bunyi ayat tentang sholawat “inna llaha wa malaikatahu yushalluna ‘ala nnabiyyi ya ayyuha lladzina amanu shallu ‘alayhi wa sallimu taslima”, maka sholawat ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW). Bacaannya: “allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad”.

2. Lalu bagaimana Nabi Muhammad bersholawat kepada dirinya sendiri?

Beliau tidak akan membunyikan bacaan sholawat, tapi melakukan actionnya. Lalu sekarang ini apakah kita sudah bisa menulis “allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad”?

Apakah kita sudah bisa membaca tulisan itu sehingga berbunyi “allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad”, dan apakah kita sudah bisa melakukan actionnya?

Berdasarkan fiman ALLAH di atas tentang sholawat, umat Islam diperintahkan untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pada saat ini kita mengenal beberapa jenis kalimat sholawat yang dibuat oleh para ulama sesuai dengan keyakinan dan ajaran alirannya masing-masing, diantaranya adalah sebagai berikut:

“Semoga ALLAH memberi sholawat atas Nabi kita, “Muhammad” dan atas “Keluarga” serta sahabat-sahabatnya”.

“Dan berikanlah rahmat ALLAH dan salam ALLAH atas Nabinya “Muhammad” dan atas keluarganya dan sahabatnya”.

“Ya ALLAH, berilah rahmat dan sejahtera atas penghulu Nabi kami Muhammad Rosulullah”.

Dalam dunia kaum Ma’rifatullah, terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, yaitu :

“Dia (ALLAH) berada dalam qolbu hambanya yang beriman”. (Al Hadits)

Qolbu yang tersebut dalam hadits Nabi di atas oleh kaum Ma’rifatullah dinamakan:

- Mahligainya ALLAH

- Keratonnya ALLAH

- Istananya ALLAH

- Masjidnya ALLAH

- Rumahnya ALLAH

Qolbu itu disebut juga “Induknya Rasa” dan juga disebut “Babuning Roh atau Rohul Qudus atau Hu”.
Induknya Rasa atau “Rasanya ALLAH“ sama dengan Rasa Hakekat Muhammad. Sedangkan Babuning Roh itu sama dengan “Hakekat Muhammad” juga. Jadi “Rasa ALLAH” (Rosulullah) adalah Hakekat Muhammad yaitu “Hakekat Rosul ALLAH”.

jadi kesimpulannya adalah bahwa Qolbu itu adalah “Muhammad” sebagai makhluk pertama yang diciptakan ALLAH dari Diri-Nya sendiri atau disebut juga dengan “Sifatullah” atau “Nurullah” atau Jauhar Awal (Cahaya Pertama) atau Hu, yaitu “Hakekat Muhammad”.

Bermula Manusia (Muhammad) itu rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya dan rahasia-Ku adalah sifat-Ku dan sifat-Ku tidak lain adalah Aku. (Hadits Qudsi)

“Aku (Muhammad) berasal dari ALLAH dan Alam ini bersal dari Aku (Muhammad). (Hadits Qudsi)
Telah datang akan kamu dari pada ALLAH itu “Nur” (yaitu Nabi kita Muhammad SAW). (QS An-Nisa 4:174)

“....... Dan dia (Hu) bersama kamu dimana saja kamu berada” (atau jika sudah menjadi insan yang suci, Dia selalu bersamamu). (QS Al-Mujadilah 58:7)

“....... Kami lebih dekat denganmu, dibanding leher dan urat lehermu”. (QS Qaf 50:16)


Tujuan bersholawat:

Tujuan bersholawat dan mengucapkan salam atas Nabi Muhammad SAW, atas keluarganya, serta sahabat-sahabatnya, terbagi atas 2 (dua) pendapat yang dapat diartikan secara Syariat dan secara Hakikat.

1. Secara Syariat

Umat Islam bersholawat dan mengucapkan salam atas Nabi Muhammad SAW, keluarganya dan atas sahabat-sahabatnya, secara terperinci ditujukan kepada:

- Rosul dan Nabi Muhammad bin Abdulah, yaitu insan yang dibersihkan dan disucikan oleh ALLAH SWT dan diangkat sebagai Nabi dan Rosul terakhir yang sekarang sudah tidak ada lagi (wafat).

- Keluarga Nabi Muhammad SAW, yaitu: Anak, istri, ibu, bapak, saudara dan famili yang terdekat. Kesemuanya sudah tidak ada lagi (wafat).

- Para sahabat-sahabatnya, yaitu: Abubakar, Umar, Usman, Ali, dan lainnya yang semuanya juga sudah wafat.

2. Secara Hakekat

Umat Islam yang sudah menguasai ilmu Syariat, Hakikat, Tarekat dan Ma’rifat juga bersholawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi mereka bersholawat bukan ditujukan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah, juga tidak ditujukan kepada para keluarga dan para sahabat Nabi, tapi ditujukan khusus kepada:

“Nabi Muhammad selaku Hakekat Rosul ALLAH, sebagai makhluk yang pertama kali diciptakan, makhluk yang tercinta dan termulia sesudah ALLAH, sebagai Rosul awal dan akhir yang diberi rahmat untuk semesta alam. (Ini tergantung sampai dimana tingkatan ilmu dan terbukanya hijab yang pernah di anugrahkan ALLAH kepada hamba-hamba-NYA).

“Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang diantara kamu, tetapi ia adalah utusan ALLAH dan penghabisan semua Nabi”.(QS Al-Ahzab 33:40)

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya ditengah-tengah kamu ada Rasul ALLAH“. (QS Al Hujurot 49:7)
“Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab (Kitab yang bercahaya), mengenalnya (Nur Muhammad) seperti mengenal anak-anak mereka sendiri dan sesungguhnya segolongan diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya”. (QS Al Baqoroh 2:146).

“Tugasku selesai setelah kiamat”. (Hadits)

Disamping ditujukan khusus kepada Hakekat Muhammad ketika membaca sholawat, ada juga sebagian kaum Ma’rifatullah menyebutkan keluarga dan sahabat-sahabatnya Nabi dalam arti secara hakekat pula yaitu:

Yang dimaksud “Keluarga Muhammad” adalah mereka yang pernah mengenal kepada “Hakekat Muhammad” yaitu yang pernah ma’rifat kepada Dzat dan Sifat ALLAH.

Yang dimaksud dengan para sahabat-sahabat Muhammad, yaitu: mereka yang pernah ALLAH tunjukan jalan yang lurus.

Apakah mereka sudah sampai atau belum (tahap Ma’rifat kepada Hakekat Rosul Muhammad atau disebut Ma’rifat kepada Dzat dan sifat ALLAH). Hal ini tergantung dari keuletan, ketakwaan, keikhlasan, dan keimanan dalam menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar yang diridhoi ALLAH sesuai dengan ajaran agama Islam.

“Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu (Muhammad) keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka dan ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Al-Hujarat 49:5)

(Bahagialah mereka jika mereka bersabar sampai Hakekat Muhammad menampakan dirinya).

Umat Islam yang sudah sampai ke martabat Ma’rifatullah, selalu bersholawat kepada Nabi Muhammad karena perintah ALLAH dalam Al-Qur’an dengan tidak menuntut imbalan jasa atau pahala.

- “Bahagialah orang yang bertemu dan mengenal aku dan beriman kepada-ku”. (Mereka sudah mencapai derajat Isbatul yakin kepada Hakekat Muhammad).

- “Bahagialah, orang yang tidak bertemu aku, tapi bertemu dengan orang yang mengenal kepada-ku (Ma’rifat) dan beriman kepada-ku”.

Mereka baru mencapai derajat ilmul yakin terhadap adanya Hakekat Muhammad dalam dirinya sesuai dengan ajaran Islam (ilmu) yang diterima dari guru mursyidnya, yaitu guru yang pernah bertemu dan mengenal Hakekat Muhammad.

Mereka sudah dapat di anggap sebagai para “sahabat Nabi Muhammad” dan apabila mereka tekun dalam menjalankan “Tarekat”, dan lebih bersabar serta lebih mencintai ALLAH dan Rosul-NYA, Insya ALLAH dapat meningkat dari “sahabat” menjadi “keluarga” Nabi Muhammad.

- “Bahagialah, orang yang tidak bertemu dengan aku dan juga tidak mengenal dengan orang yang mengenal kepada-ku (Ma’rifat), tapi beriman kepadaku.

Mereka yang tidak bertemu dengan hakekat Muhammad dan juga tidak bertemu dengan orang yang mengenal Hakekat Muhammad (Ma’rifat), sehingga tidak dapat berguru kepadanya, tetapi beriman kepada Muhammad dan berguru kepada ulama Syariat dan bisa mendapat ilmu dari hasil membaca buku yang dikarang oleh para ulama besar berarti mereka sudah percaya menurut kabar adanya Hakekat Muhammad pada dirinya sendiri.

Pada tahapan tersebut mereka sudah termasuk umat Muhammad dan mudah-mudahan dengan izin ALLAH dibukakan hijab yang menjadi penghalang Qolbu sehingga lambat laun semoga ALLAH memberikan atau memancarkan Nurrun Ala Nurrin dan meningkat menjadi insan atau sahabat Hakekat Muhammad.

- “Rasa Allah” itulah Rasa Muhammad, itulah induknya Rasa atau disebut “Hakekat Muhammad” induknya rasa yang bersih dan suci disebut “Qolbu mu’min” yang menjadi mahligai ALLAH.

Induk Rasa (Hakekat Muhammad) itu terbagi atas 2 kategori, terdiri dari 5 (lima) rasa lahir dan 1 (satu) rasa lahir batin yang mencangkup kelima rasa tersebut tadi. Jadi jumlahnya ada 6 (enam) rasa.

Rasa ke-1: Nyatanya dibadan kita yaitu rasa jasad, Rosulnya Adam AS dan sahabat Rosulnya “Adam Kholifatullah”.

Rasa ke-2: Nyatanya dibadan kita yaitu rasa pendengaran/telinga, Rosulnya Ibrahim AS dan sahabat Rosulnya “Ibrahim Habibullah”.

Rasa ke-3: Nyatanya dibadan kita yaitu rasa penglihatan/mata, Rosulnya Daud AS dan sahabat Rosulnya “Daud Kholilullah”.

Rasa ke-4: Nyatanya dibadan kita yaitu rasa mulut/lidah, Rosulnya Musa aAS dan sahabat Rosulnya “Musa Kalamullah”.

Rasa ke-5: Nyatanya dibadan kita yaitu rasa mencium/hidung, Rosulnya Isa aAS dan sahabat Rosulnya “Isa Rohullah”.

Rasa ke-6: Nyatanya dibadan kita yaitu rasa Qolbu, rasa lahir batin yang mencakup kelima rasa di atas atau disebut “Hakekat Muhammad” atau “Rosul/Rasa ALLAH”. Rosulnya Muhammad SAW dan sahabat Rosulnya “Muhammad Rosulullah”.

Dengan penjelasan di atas, semoga kita dapat menangkap atau dapat menerima bahwa yang dianggap Hakekat “keluarga” dari Hakekat Muhammad itu adalah para Rosul dan para Nabi.

Para Nabi itu adalah bersaudara seayah dan seibu, syari’atnya berbeda-beda, sedangkan asal dan pokok agamanya satu. (Hadits)

Adapun yang dimaksud sahabat-sahabat dari Hakekat Muhammad itu adalah insan yang benar-benar beriman dan sedang menjalankan Sabilillah, berusaha mencapai tingkatan yang tinggi, hingga diberi anugerah ALLAH untuk dapat mencapai Ma’rifat (bertemu, melihat dan mengenal) dengan Hakekat Muhammad atau disebut “Sifatullah” atau “Hakekat Syahadat”.

Dimana ada sifat disitu ada Dzat, dimana ada Muhammad disitu ada ALLAH.
Merekalah yang dianugerahi Ilmu Laduni yaitu “NURRUN ALA NURRIN” (Ma’rifatullah).

Jadi jika memahami Hakekat Nur Muhammad yang merupakan awal mula dari penciptaan alam semesta, maka Hakekat Sholawat sejatinya adalah untuk mendoakan alam semesta beserta isinya, termasuk diri kita sendiri.


Demikian sedikit informasi tentang Hakekat dan keutamaan Sholawat yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar dunia spiritual dan supranatural, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Hakekat dan keutamaan Sholawat"

Untuk Pemesanan Benda Pusaka, Call/Sms: 0858-7027-7889 atau Chat via WA: