Advertisement

Surga dan neraka menurut ajaran Syekh Siti Jenar

gambar lukisan syekh siti jenar
Ilustrasi Lukisan Syekh Siti Jenar

Hartalangit.com – Ajaran Syekh Siti Jenar memahami TUHAN sebagai ruh yang tertinggi, ruh maulana yang utama, yang mulia, yang sakti, yang suci tanpa kekurangan apapun. Itulah Hyang Widhi, ruh maulana yang tinggi dan suci menjelma didalam diri Manusia.

Sang Hyang Widhi itu dimana-mana, tidak dilangit, tidak dibumi, tidak di utara, selatan, timur atau barat sehingga Manusia tidak akan menemukan-NYA biarpun sampai berkeliling dunia.

Ruh maulana ada dalam diri Manusia karena ruh Manusia sebagai penjelmaan ruh maulana, sebagaimana dirinya yang sama-sama menggunakan hidup ini dengan indera, jasad yang akan kembali pada asalnya, busuk, kotor, hancur, dan menjadi tanah.

Jika Manusia itu mati maka ruhnya akan kembali bersatu ke asalnya, yaitu ruh maulana yang bebas dari segala penderitaan dan tidak ada kaitan lagi dengan jasad, karena jasad hanya alat untuk ruh Manusia agar bisa berpijak dan hidup di bumi.

Lebih lanjut Syekh Siti Jenar mengungkapkan sifat-sifat hakikat ruh Manusia adalah ruh diri Manusia yang tidak berubah, tidak berawal, tidak berakhir, tidak bermula. Ruh juga tidak lupa dan tidak tidur, tidak terikat dengan rangsangan indera yang meliputi jasad Manusia.


Syekh Siti Jenar menyatakan bahwa, “aku adalah ALLAH, ALLAH adalah aku”. Lihatlah, ALLAH ada dalam diriku, aku ada dalam diri ALLAH.

Bagi orang awam, pernyataan Syekh Siti Jenar tersebut merupakan sebuah kesesatan, tapi bagi orang yang sudah memahami hakikat pasti bisa memahami maksudnya karena tidak ada yang salah dari pernyataan tersebut. Kesalahannya hanya pada siapa pernyataan tersebut disampaikan.

Pernyataan Syekh Siti Jenar tersebut bukan bermaksud mengaku bahwa dirinya sebagai  ALLAH, melainkan kesadarannya tetap teguh sebagai makhluk yang diciptakan TUHAN.

Syekh Siti Jenar merasa bahwa dirinya bersatu dengan “ruh” TUHAN. Memang ada persamaan antara ruh Manusia dengan “ruh” TUHAN atau Dzat. Keduanya bersatu didalam diri Manusia.

Persatuan antara ruh TUHAN dengan ruh Manusia terbatas pada persatuan Manusia dengan-NYA. Persatuannya merupakan persatuan Dzat sifat, ruh bersatu dengan Dzat sifat TUHAN dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama.

Inilah prinsip kemanunggalan dalam ajaran tentang “manunggaling kawula Gusti “ atau “jumbuhing kawula Gusti”. Bersatunya dua menjadi satu atau dwi tunggal. Diumpamakan wiji wonten salebeting wit.

Pandangan Syekh Siti Jenar tentang hakikat Manusia:

Dalam memandang hakikat Manusia, Syekh Siti Jenar membedakan antara jiwa dan akal. Jiwa merupakan suara hati nurani Manusia yang merupakan ungkapan dari Dzat TUHAN, maka hati nurani harus ditaati dan dituruti perintahnya.

Sedangkan jiwa merupakan kehendak TUHAN, juga merupakan penjelmaan dari Hyang Widdhi (TUHAN) didalam jiwa, sehingga raga dianggap sebagai wajah Hyang Widdhi.

Jiwa yang berasal dari TUHAN  itu memiliki sifat Dzat TUHAN yakni kekal, sesudah raganya mati maka lepaslah jiwa dari belenggu raganya. Demikian pula akal merupakan kehendak, tetapi angan-angan dan ingatan yang kebenarannya tidak sepenuhnya dapat dipercaya, karena selalu berubah-ubah.

Perbedaan karakter jiwa dan akal yang bertolak belakang dalam pandangan Syekh Siti Jenar disebabkan oleh adanya garis demarkasi yang menjadi pemisah antara sifat hakikat jiwa dan akal-budi.

Jiwa terletak diluar nafsu, sementara akal-budi letaknya berada didalam nafsu. Mengenai perbedaan jiwa dan akal, dalam riwayat Saloka Jati diungkapkan bahwa akal-budi umpama kodok kinemulan ing leng (katak didalam lubang) atau wit jroning wiji (pohon ada didalam biji). Sedangkan jiwa umpama kodok angemuli ing leng (katak menyelimuti lubang) atau wiji jroning wit (biji ada didalam pohon).

Bagi Syekh Siti Jenar, proses timbulnya pengetahuan datang secara bersamaan dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek. Maka pengetahuan mengenai kebenaran TUHAN akan diperoleh seseorang bersama dengan penyadaran diri orang itu.

Jika ingin mengetahui TUHAN-mu, maka ketahuilah (terlebih dahulu) dirimu sendiri. Syekh Lemah Abang percaya bahwa kebenaran yang diperoleh dari hal-hal di atas ilmu pengetahuan mengenai wahyu dan TUHAN bersifat intuitif. Kemampuan intuitif ini ada bersamaan dengan munculnya kesadaran dalam diri seseorang.

Pandangan Syekh Siti Jenar tentang kehidupan dunia:

Menurut pandangan Syekh Siti Jenar bahwa hidup didunia ini sesungguhnya adalah mati. Dikatakan demikian karena hidup didunia ini ada surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh Manusia.

Manusia yang mendapatkan surga adalah mereka akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, dan kesenangan. Dan sebaliknya mereka yang mendapatkan neraka akan diliputi perasaan sedih, bingung, kalut, risih, dan menderita.

Jika Manusia hidup mulia, sehat, cukup pangan, sandang, papan maka ia ada didalam surga. Tapi kesenangan atau surga didunia ini bersifat sementara atau sekejap saja, karena betapapun juga Manusia dan sarana kehidupannya pasti akan menemui kehancuran.

Syekh Siti Jenar mengumpamakan bahwa Manusia yang hidup didunia ini sesungguhnya mayat yang gentayangan untuk mencari pangan, pakaian dan papan serta mengejar kekayaan yang dapat menyenangkan jasmaninya.

Manusia bergembira atas apa yang diraihnya, yang memuaskan dan menyenangkan jiwanya, padahal ia tidak sadar bahwa semua kesenangan itu akan binasa.

Namun begitu Manusia cenderung menyombongkan diri dan bangga atas kepemilikan harta atau kekayaan dan tidak menyadari bahwa dirinya adalah bangkai.

Manusia justru merasa dirinya mulia dan bahagia, karena Manusia tidak menyadari bahwa harta bendanya merupakan penggoda Manusia yang menyebabkan keterikatan/terbelenggu pada dunia.

Jika Manusia tidak menyadari semua itu, maka hidup sesungguhnya adalah derita. Pandangan seperti itu menjadikan sikap dan pandangan Syekh Siti Jenar menjadi ekstrim dalam memandang kehidupan dunia.

Hidup didunia ini adalah mati, tempat baik dan buruk, sakit dan sehat, mujur dan celaka, bahagia dan sempurna, surga dan neraka, semua bercampur aduk menjadi satu.

Dengan adanya peraturan maka Manusia menjadi terbebani sejak lahir hingga mati. Maka Syekh Siti Jenar sangat menekankan pada upaya Manusia untuk hidup yang abadi agar tahan mengalami hidup didunia ini.

Syekh Siti Jenar kemudian mengajarkan bagaimana cara mencari kamoksan (moksa), yakni mati sempurna beserta raganya lenyap masuk ke dalam ruh (warongko manjing curigo).

Hidup ini mati, karena mati adalah hidup yang sesungguhnya karena Manusia terbebas dari segala beban dan derita. Karena hidup sesudah kematian adalah hidup yang sejati dan abadi.

Kritik Syekh Siti Jenar untuk para ulama:

Alasan yang mendasari mengapa Syekh Siti Jenar mengkritik habis-habisan para ulama dan para santrinya karena dalam pandangannya, mereka hanya berkutat pada amalan syariat (sembah raga). Padahal masih banyak tugas Manusia yang lebih utama yang harus dilakukan untuk mencapai tataran kemuliaan yang sejati.

Dogma-dogma dan ketakutan neraka serta bujuk rayu surga justru membelenggu raga, akal budi, dan jiwa Manusia. Maka Manusia menjadi terkungkung rutinitasnya dan lupa akan tugas-tugas beratnya sehingga menjadikan Manusia gagal dalam upaya menemukan TUHAN.


Pandangan Syekh Siti Jenar tentang surga dan neraka:

Konsep surga dan neraka dalam ajaran Syekh Siti Jenar sangat berbeda dengan apa yang di ajarkan oleh para ulama.

Menurut Syekh Siti Jenar, surga dan neraka ada dalam hidup ini, sedangkan para ulama mengajarkan surga dan neraka merupakan balasan yang diberikan kepada Manusia atas amalnya didunia yang akan diterima kelak sesudah kematian (akherat).

Menurut Syeh Siti Jenar, sebagian orang Islam telah keliru karena hanya mengerjakan sholat untuk mengharapkan surga, sedangkan surga sesudah kematian itu tidak ada. Sholat itu hakikatnya tidak wajib dan orang tidak perlu mengajak orang lain untuk sholat.

Lalu apakah sholat hanya untuk meminta sesuatu yang bersifat duniawi, seperti rezeki misalnya..??  Bukankah TUHAN tidak memberi lantaran sholat, karena orang yang tidak melakukan sholat juga tetap diberikan rezeki.

Menurut Syekh Siti Jenar, para ulama telah menyesatkan Manusia dengan mengajarkan kewajiban untuk melakukan sholat hanya untuk meminta imbalan surga kelak sesudah mati, sehingga banyak yang tergiur dengan omongan palsunya. Dan karena ajaran para ulama tersebut membuat orang menjadi gelisah tidak enak ketika terlambat mengerjakan sholat.

Menurut Syekh Siti Jenar, orang seperti itu sungguh tidak tahu diri. Kalaupun seseorang menyadari bahwa sholat itu dilakukan karena merupakan kebutuhan dirinya sendiri untuk menyembah TUHAN, ternyata Manusia tidak menyadari keserakahannya dengan meminta imbalan/hadiah berupa surga kepada TUHAN.

Orang-orang telah terbius oleh ajaran para ulama, sehingga mereka suka berdzikir dan disibukkan dengan kegiatan menghitung-hitung pahalanya setiap hari sampai mereka lupa bahwa sejatinya kebaikan itu harus di implementasikan kepada sesama (habluminannas).

Lebih lanjut Syekh Siti Jenar mengatakan bahwa para ulama dan para santrinya sebagai orang yang dangkal ilmunya karena menafsirkan surga sebagai balasan yang nanti diterima di akhirat. Apalagi menyamakan keadaan didalam surga dengan segala kesenangan layaknya didunia.

Penafsiran tersebut adalah penafsiran yang sangat sempit. Hidup para ulama adalah hidup asal hidup, tidak mengerti hakekat, tapi jika disuruh mati mereka menolak mentah-mentah. Mereka hanya berkutat pada syariat tanpa mau berfikir dan memahami maksud dari syariat tersebut.

Surga dan neraka letaknya pada diri masing-masing Manusia itu sendiri. Orang yang bergelimang harta tapi hidupnya selalu merasa terancam, tidur tidak nyeyak, makan tidak enak, jalan pun merasa gelisah dan terancam, itulah yang disebut neraka.

Sebaliknya, seorang petani dilereng gunung terpencil, hasil bercocok tanam cukup untuk makan sekeluarga, menempati rumah kecil yang sederhana, setiap sore dapat duduk bersantai dihalaman rumah sambil menikmati indahnya pemandangan alam, hatinya sesejuk udara, jiwanya merasa tenang dan damai, itulah yang disebut surga. Kehidupan ini telah memberi Manusia mana surga dan mana neraka.

Syekh Siti Jenar memandang alam semesta sebagai makrokosmos dan mikrokosmos (Manusia), sekurangnya kedua hal ini merupakan ciptaan TUHAN yang sama-sama akan mengalami kerusakan, tidak kekal dan tidak abadi. Manusia terdiri atas jiwa dan raga yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan Dzat TUHAN.

Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi panca indera sebagai organ-organ tubuh. Semua aspek raga/jasad adalah pinjaman yang suatu saat akan dikembalikan ke asalnya (bumi/tanah) setelah Manusia terlepas dari kematian didunia.

Syekh Siti Jenar mengatakan:

“Bukan kehendak angan-angan, bukan ingatan, pikiran atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan pula kekosongan atau kehampaan. Penampilanku sebagai mayat baru, andai menjadi Gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, nafasku terhembus disegala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh Manusia, Manusialah yang memberi nama”

Pandangan Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang tentang terlepasnya Manusia dari belenggu alam kematian yakni hidup di alam dunia ini berawal dari konsepnya tentang keTuhanan, Manusia dan alam.

Manusia adalah jelmaan Dzat TUHAN. Hubungan jiwa dari TUHAN dan raga berakhir sesudah  Manusia menemui ajal atau kematian duniawi. Sesudah itu Manusia bisa manunggal dengan TUHAN dalam keabadian.

Pada saat itu semua bentuk badan wadag (jasad) atau kebutuhan jasmani ditinggal karena jasad merupakan barang baru (hawadist) yang akan mengalami kerusakan dan merupakan barang pinjaman yang harus dikembalikan kepada pemiliknya yaitu TUHAN sendiri.

Terlepas dari ajaran Syekh Siti Jenar yang sangat ekstrim memandang dunia sebagai bentuk penderitaan total yang harus segera ditinggalkan rupanya terinspirasi oleh ajaran seorang sufi dari Bagdat yang bernama Hussein Ibnu Al Hallaj yang menolak segala kehidupan dunia.

Hal ini jelas sangat berbeda dengan konsep ajaran Islam secara umum yang memadang hidup didunia sebagai khalifah TUHAN.

Pandangan Kejawen tentang kehidupan didunia:

Pandangan Kejawen tentang makna hidup Manusia didunia ditampilkan secara rinci, realistis, logis dan mengena didalam hati nurani.

Menurut pandangan Kejawen, hidup ini di umpamakan hanya sekedar mampir ngombe (mampir minum), artinya hidup didunia ini hanya sekejab dibanding kelak hidup di alam keabadian setelah raga ini mati.

Tetapi tugas Manusia sungguh berat, karena jasad adalah pinjaman dari TUHAN untuk menjalani kehidupan didunia.

TUHAN meminjamkan raga kepada ruh, tetapi ruh harus mempertanggung jawabkan “barang” pinjamannya tersebut kelak dihadapan TUHAN.

Pada awalnya TUHAN Yang Maha Suci meminjamkan jasad kepada ruh dalam keadaan suci, apabila jangka waktu peminjaman sudah habis, maka ruh akan diminta tanggung jawabnya, ruh harus mengembalikan jasad pinjamannya dalam keadaan yang suci seperti semula.

Ruh di ijinkan TUHAN untuk “turun” ke bumi dengan dipinjamkan jasad, tetapi ruh dibebani tugas untuk menjaga barang pinjaman tersebut agar tetap dalam kondisi baik dan suci setelah kembali kepada pemiliknya, yakni Gusti Ingkang Akaryo Jagad.

Ruh dan jasad menyatu dalam wujud yang dinamakan Manusia. Tempat untuk mengekspresikan dan mengartikulasikan diri Manusia adalah tempat pinjaman TUHAN juga yang dinamakan bumi beserta segala isinya atau mercapada. Karena bumi bersifat “pinjaman” dari TUHAN, maka bumi juga bersifat tidak kekal.

TUHAN memang Maha Peumurah, bersedia meminjamkan jasad, berikut tempat tinggal dan segala isinya menjadi fasilitas Manusia dan boleh digunakan secara gratis.

Tuhan hanya menuntut tanggung jawab Manusia untuk menjaga semua barang pinjaman tersebut dan diperbolehkan memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan dengan tidak merusaknya.

Itulah tanggung jawab Manusia yang sesungguhnya, yaitu menjaga barang “titipan” atau “pinjaman” serta boleh memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan TUHAN untuk Manusia dengan tanpa merusak, dan tentu saja menjaganya agar tetap utuh, tidak rusak, dan kembali seperti semula dalam keadaan suci.

Itulah “perjanjian” ghaib antara TUHAN dengan ruh Manusia. Untuk menjaga klausul perjanjian tetap dapat terlaksana, maka TUHAN membuat rumus atau “aturan“ yang harus dilaksanakan oleh pihak peminjam (Manusia).

Rumus TUHAN ini yang disebut pula sebagai kodrat TUHAN yang berbentuk hukum sebab-akibat. Pengingkaran atas isi atau “klausul kontrak” tersebut berupa akibat sebagai konsekuensi logisnya.

Misalnya: keburukan akan berbuah keburukan, kebaikan akan berbuah kebaikan. Siapa menanam, maka ia akan menuai.


Konsep Kejawen tentang pahala dan dosa:

Ajaran Kejawen tidak pernah menganjurkan untuk menghitung-hitung pahala dalam beribadah, karena motifasi ibadah atau melakukan perbuatan baik kepada sesama bukan karena mencari surga.

Demikian juga dalam melaksanakan sembahyang manembah kepada TUHAN bukan karena takut neraka dan tergiur iming-iming surga.

Kejawen memiliki tingkat kesadaran bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan seseorang kepada sesama bukan atas alasan ketakutan dan intimidasi dosa-neraka, melainkan kesadaran kosmik bahwa setiap perbuatan baik kepada sesama merupakan sikap adil dan baik pada diri sendiri.

Kebaikan kita pada sesama adalah kebutuhan diri kita sendiri karena setiap kebaikan akan berbuah kebaikan. Setiap kebaikan yang kita lakukan pada sesama akan kembali untuk diri kita sendiri, bahkan satu kebaikan akan kembali berlipat ganda pada diri kita karena itu sudah menjadi sistem TUHAN.

Demikian juga sebaliknya, setiap kejahatan juga akan berbuah kejahatan. Jika kita suka mempersulit orang lain, maka dalam urusan-urusan kita juga akan sering menemukan kesulitan. Jika kita gemar menolong dan membantu sesama, maka hidup kita akan selalu mendapatkan kemudahan.

Menurut pandangan Kejawen, kebiasaan mengharap dan menghitung pahala terhadap setiap perbuatan baik hanya akan membuat keikhlasan seseorang menjadi tidak sempurna.

Kebiasaan itu juga mencerminkan sikap yang serakah, lancang, picik dan tidak tahu diri karena sejatinya menyembah TUHAN adalah kebutuhan Manusia, bukan kebutuhan TUHAN.

TUHAN tidak butuh disembah, karena disembah atau tidak, TUHAN tetap akan menjadi TUHAN Sang Pencipta dan Penguas jagat raya beserta segala isinya.

Jadi sembahyang yang dilakukan Manusia tidak ada pengaruhnya untuk TUHAN, tapi justru sangat besar pengaruhnya untuk Manusia sendiri.

Ajaran Kejawen memandang bahwa seseorang yang menyembah TUHAN dengan tanpa pengharapan untuk mendapat pahala atau surga serta bukan karena takut dosa atau neraka adalah sebuah bentuk kemuliaan hidup yang sejati.

Seharusnya kita menyembah TUHAN karena dilandasi kesadaran bahwa kehidupan Manusia didunia ini selalu berhutang kenikmatan dan anugrah dari TUHAN.

Dalam satu hari terkadang Manusia lupa untuk mengucapkan satu kalimat syukur, padahal dalam satu hari banyak sekali kenikmatan dan anugerah yang diberikan TUHAN dari mulai kita bangun tidur sampai tidur lagi.

Maka kita akan menjadi Manusia yang lancang dan tidak tahu diri jika masih menjadikan sembahyang sebagai sarana untuk meminta sesuatu kepada TUHAN.

Memang hanya kepada TUHAN kita meminta, tapi kita sebagai Manusia sering tidak tahu diri karena hanya mengingat TUHAN untuk meminta. Dengan sikap demikian maka ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sejati akan sangat sulit untuk didapatkan.

Sembahyang seharusnya merupakan cara untuk mengungkapkan rasa syukur/terima kasih kepada TUHAN.

Dalam pandangan Kejawen, rasa syukur kepada TUHAN tidak cukup hanya dengan sembahyang atau ucapan saja, tapi lebih utama harus di artikulasikan dan di implementasikan ke dalam bentuk tindakan atau perbuatan baik terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Jika TUHAN memberikan kesehatan kepada kita, maka sebagai wujud rasa syukur kita juga harus membantu dan menolong orang lain yang sedang mengalami sakit atau yang sedang menderita.

Itulah pandangan yang menjadi dasar ajaran Kejawen bahwa menyembah TUHAN dan berbuat baik pada sesama bukanlah kewajiban (perintah) yang datang dari TUHAN, melainkan diri kita sendiri yang mewajibkannya.


Demikian sedikit informasi tentang konsep surga dan neraka menurut pandangan Syekh Siti Jenar yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar dunia spiritual dan supranatural, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Surga dan neraka menurut ajaran Syekh Siti Jenar"

UNTUK PEMESANAN BENDA PUSAKA: