Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Advertisement

Cara berkomunikasi dengan Sedulur Papat Limo Pancer

gambar simbol kakang kawah adi ari-ari sedulur papat kalimo pancer

Hartalangit.com – Salah satu ajaran Kejawen yang paling terkenal adalah Sedulur Papat Limo Pancer. Pancer adalah tonggak hidup Manusia yaitu dirinya sendiri yang dikelilingi oleh empat saudara ghaib atau yang disebut Sedulur Papat.

“Sedulur Papat” merupakan pendamping yang selalu setia menemani hidup kita, mulai dari dilahirkan didunia hingga nanti ketika sudah meninggalkan dunia menuju alam kelanggengan.


Orang Jawa bersifat pasrah, sumeleh, sumarah, ikhlas dan mengandalkan rasa pangrasa, tidak kebingungan dengan mistik, namun berhasil menyederhanakan ajaran-ajaran jagat semesta dengan terminologi dan kalimat-kalimat sederhana yang mudah dimengerti.

Sejak janin tumbuh diperut ibu, janin tersebut dilindungi didalam garba/rahim oleh ketuban, selanjutnya adalah ari-ari, darah dan pusar.

Nama-nama Sedulur Papat dan peranannya dalam kehidupan Manusia:

1. Kakang Kawah

Kakang Kawah adalah saudara tua yang merupakan kawah atau air ketuban yang keluar dari gua garba ibu untuk membuka jalan sebelum bayi dilahirkan. Tempatnya di timur dan warnanya putih.

Air ketuban adalah yang pertama kali keluar saat seorang wanita melahirkan, yang kemudian disebut “Kakang Kawah” atau saudara tua yang melindungi jasad fisik dari bahaya. Maka perannya dalam kehidupan Manusia adalah sebagai sang pelindung fisik.

2. Adi Ari-Ari

Adik Ari-Ari adalah ari-ari atau plasenta yang keluar dari gua garba ibu setelah bayi dilahirkan. Tempatnya di barat dan warnanya kuning.

Ari-ari atau plasenta yang merupakan pembungkus janin dalam rahim yang kemudian disebut Adi Ari-Ari. Ia melingkupi tindakan janin didalam rahim yang kemudian mengantarkan kita ke tujuan. Maka perannya adalah sebagai sang pengantar.

3. Getih

Getih atau darah yang keluar dari gua garba ibu sewaktu melahirkan. Tempatnya di selatan dan warnanya merah.

Darah yang membantu janin kecil untuk tumbuh berkembang menjadi bayi lengkap. Darah atau yang Getih bisa disebut nyawa bagi janin. Maka perannya dalam kehidupan Manusia adalah sebagai sang pembantu setia.

4. Puser

Puser atau tali pusar yang dipotong setelah bayi dilahirkan. Tempatnya di utara dan warnanya hitam.
Pusar yang secara biologis adalah tali yang menghubungkan perut bayi didalam rahim dengan ari-ari. Pusar befungsi untuk mendistribusikan makanan yang dikonsumsi ibu kepada janin. Maka perannya adalah mendistribusikan wahyu.

Keempat saudara ghaib inilah yang selalu mendampingi dan menjaga kita dari arah kanan, kiri, depan dan belakang. Maka tidak ada salahnya jika kita berhubungan baik dengan mereka.

Sedangkan Pancer adalah diri sendiri, posisi Pancer berada ditengah dan di apit oleh dua saudara tua (kakang mbarep/kakang kawah) dan dua saudara muda (adi ari-ari dan adi wuragil).

Ngelmu Sedulur Papat Lima Pancer ini lahir dari konsep kesadaran akan awal mula Manusia diciptakan dan tujuan akhir hidup Manusia (Sangkan Paraning Dumadi).

“Sedulur Papat” sering disebut “Kakang Pembarep/Kakang Kawah, Adi Ari-ari/Adi Wuragil”. Pemahaman mengenai empat saudara (kanda) dan satu musuh (kala/ego) yang menemani Manusia di sepanjang perjalanan hidupnya adalah refleksi dari kekuatan TUHAN yang datang pada peristiwa kelahiran Manusia ke dunia.

Dalam ajaran Kejawen, untuk lebih mengenal dan dekat dengan Sedulur Papat, maka mereka harus diruwat, dirawat dan dihormati dengan cara diselamati dengan “memetri” atau bancaan.

Sedulur Papat merupakan “Pamomong” atau penjaga Manusia. Biasanya penyebutan untuk mereka dan sekalian untuk unsur-unsur alam semesta disebut dengan “sedulurku sing lahir bareng sedino, sing ora lahir bareng sedino, sing kerawatan lan sing ora kerawatan”.

Artinya : “saudaraku yang lahir bersamaan sehari denganku (air ketuban, ari-ari, darah, tali pusar, dan ruh/jiwa), saudara yang tidak lahir bersamaan (unsur alam semesta ), yang terawat maupun yang tidak terawat”.

Begitu bayi dilahirkan semua itu akan dianggap tidak berfungsi lagi dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan, pendapat tersebut merupakan pandangan Materialistik.

Tapi bagi Orang Jawa, semua itu memiliki makna dan pengertian yang penting jika dilihat dari sudut Metafisik.

Saudara kita itulah yang menjaga kita dalam kehidupan ini, dan yang kembali ke anasir bumi, air, udara dan api hanyalah ke empat jasadnya, namun dari sisi spiritual masih tetap menyertai kehidupan Manusia.

Pengertian asalnya adalah penyelarasan antara jagad kecil Manusia (Mikrokosmos) dengan jagad besar alam semesta (Makrokosmos).

Sedulur Papat yang ada di jagad besar itu adalah empat penjuru mata angin yang ada, yaitu timur, selatan, barat dan utara, ditambah Pancer atau pusat dimana diri Manusia itu berada.

Sedangkan Sedulur Papat yang berkaitan dengan jagad kecil (Manusia) adalah apa-apa yang mengiringi kelahirannya. Mereka itu adalah Kakang Kawah (air ketuban), Adi Ari-Ari (plasenta), Getih (darah) dan Puser (tali pusar). Sedangkan yang kelima atau Pancernya adalah diri Manusia itu sendiri.

Keempatnya dianggap sebagai pendamping setia dalam kehidupan Manusia. Jika kita paham bahwa tujuan hidup didunia ini sejatinya adalah untuk bertemu dengan TUHAN, maka hakikatnya adalah perjalanan menuju ke dalam, bukan keluar, yaitu menuju “diri sejati” dan menemukan Sang Aku Sejati atau Sejatine Ingsun.

Untuk menemukan Sang Aku Sejati (limo pancer) itulah kita ditemani oleh empat saudara ghaib (Sedulur Papat).

Meskipun keberadaannya tidak terlihat, tapi mereka selalu mendampingi dan mengawasi kita. Dengan membatin menyebut mereka, kita bisa menjadikan mereka saudara atau pendamping paling setia jika paham bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka.

Dimanapun kita berada, Sedulur Papat juga ada disitu. Jika kita berjalan, mereka terbang. Jika jasad kita tidur, mereka akan tetap terjaga dan berkomunikasi dengan ruh kita. Maka saat bangun tidur di pagi hari pikiran kita akan terasa fresh sebab ruh kita akan kembali menjejerkan diri kita dengan keberadaannya.

Cara berkomunikasi dengan Sedulur Papat:

Duduk bersila didalam ruangan yang gelap gulita tanpa penerangan sedikitpun. Pejamkan mata atau bisa juga dengan mata terbuka dan cukup dibatin saja di otak kiri dan kanan hidupkan sang “Sejatine Ingsun” yang ada di dalam diri kita. Hanya diri sendirilah yang bisa berkomunikasi dengan Sedulur Papat.

Mantra untuk memanggil atau berkomunikasi dengan Sedulur Papat:

Mantra-1:

“Marmarti Kakang Kawah Adi Ari-Ari, Getih, puser,
kadang ingsun papat kalimo pancer
kadang ingsun kang katon lan kang ora katon
kadang ingsun kang kerawatan lan kang ora kerawatan
sarto kadang ingsun kang metu saka ing marga ino
lan kang ora metu saka ing marga ino
miwah kadang ingsun kang metu bebarengan sadina kabeh
bapanta ana ing ngarep, ibunta ana ing mburi
ayo podo… (ucapkan niat kita)”

Artinya: “Marmarti (saudara laki-laki dan perempuan yang ghaib), kawah kakakku, adikku tali ari-ari, saudaraku di pusar, empat saudara dan satu saudaraku di tengah, saudaraku yang ghaib dan saudaraku yang tak terawat, saudaraku yang dilahirkan dari rahim ibu dan saudara-saudaraku yang tidak dilahirkan dari rahim ibu, saudara-saudaraku yang dilahirkan bersamaan pada hari yang sama, bapak asuhku yang ada di depan, ibu asuhku yang ada di belakang, marilah kita… (ucapkan niat kita)”

Mantra ini menyebut kata “Marmarti” (saudara gaib) sebagai kata pembuka ketika mulai membacakan mantra. Setelah penyebutan kata Marmarti, kemudian disebut semua perlambang ghaib (dunia halus): kakang kawah, adi ari-ari, saudara yang terlihat dan yang tak terlihat (sedulur katon lan ora katon), saudara yang lahir dari rahim ibu, bapa dan ibu.

Semua yang disebut dipercaya dapat membantu seseorang untuk berkonsentrasi sebelum menghaturkan niat atau permohonan kepada TUHAN.

Dikatakan bahwa mantra ini baru bisa memiliki pengaruh spiritual ketika dibaca kapan saja ketika mau makan, mandi, mau tidur, berangkat kerja atau kegiatan sehari-hari lainnya.

Mantra-2:

“Marmarti, Kakang Kawah, Adi Ari­Ari, Getih, Otot, Puserku
sing metu soko margo ino lan sing ora metu soko margo ino
sing metu bareng sedino
nini among, kaki among sing ngemongi jiwo raganingsun
mban-mbanono aku rinten klawan ndalu
tak opahi kembang wangi”

Artinya: “Marmarti (saudara laki-laki dan perempuan ghaib) kakang kawah, adi ari­ari, darah, otot, pusarku, mereka yang dilahirkan dari rahim ibu dan mereka yang dilahirkan bukan dari rahim ibu, mereka yang dilahirkan bersamaan pada hari yang sama, ibu asuh, bapak asuh yang merawat jiwa ragaku, lindungi aku sepanjang siang dan malam, kuberi imbalan kembang wangi”

Mantra ini sama dengan Mantra-1, simbol­simbol dan kata-kata yang digunakan masih sama tapi cara untuk menggunakan mantra ini yang berbeda.

Mantra ini juga dibaca kapan saja sebagaimana halnya Mantra-1, konon mantra ini akan semakin ampuh (mandhi) jika dibarengi dengan tirakat atau puasa mutih selama 7 hari.


Mantra-3:

“Ibu bumi, Bapa Kuwasa, Ibu wengi, Bapa rina
kakangku mbarep adiku wuragil
dinten pitu pekenan gangsal
kulo nyuwun ngapura kula nyuwun… (ucapkan niat kita)”

Artinya: “Ibu bumi, Bapak langit, Ibu malam, Bapak siang,
Saudara tertuaku, saudara termudaku tujuh hari dan lima hari
(Ya TUHAN) ampuni aku, aku minta... (ucapkan niat kita)”

Mantra ini digunakan untuk meminta rezeki. Nama yang disebut pertama kali adalah Ibu dan Bapa. Ibu dan Bapa (orang tua) adalah yang bertanggung jawab dalam menyediakan sandang dan pangan bagi anak-anaknya.

Lantas mantra itu menyebut sinonim bapak dan ibu dengan istilah Ibu wengi (Ibu malam) dan Bapa Rina (Bapak siang). Dua kekuatan spiritual lainnya yang disebut adalah Kakang mbarep (saudara sulung) dan Adi wuragil (adik bungsu).

Setelah itu, pada salah satu hari dari hari-hari yang tujuh (masehi) dan lima hari Jawa, mulailah mengucapkan doa sesuai hajat kebutuhannya.

Mantra ini dipercaya dapat memberi kekuatan spiritual jika dibaca setiap tengah malam di halaman rumah. Biasanya dibarengi dengan berpuasa mutih tiga atau tujuh hari.

Mantra-4:

“Bapa kuwasa, ibu pratiwi kulo nyuwun sih pitulungan
sedulurku kang tuwa, kang ana wetan putih rupane,
kedadeane getih putih
sedulurku kang ana kidul, abang rupane
kedadeane getih abang
sedulurku kang ana kulon, kuning rupane
kedadeane ari-ari
sedulurku kang ana lor, ireng rupane
kedadeane puser
kulo nyuwun derajat lan rejeki ingkang agung”

Artinya: “Bapak langit, ibu bumi, aku mohon pertolongan dirimu. Saudaraku yang tua yang ada timur putih rupanya, kejadiannya dari air ketuban. Saudaraku di selatan, merah rupanya, kejadiannya dari darah merah. Saudaraku yang ada di barat, kuning rupanya, kejadiannya dari ari-ari. Saudaraku yang ada di utara, hitam rupanya kejadiannya dari tali pusar, tolong beri aku kedudukan dan rezeki yang besar”

Selain sandang dan pangan (rejeki), bagi yang ingin memiliki kedudukan terhormat, mantra ini dapat dibaca agar mendapatkan promosi untuk jabatan yang lebih tinggi.

Keberuntungan atau kekuasaan yang besar juga merupakan isi dari permintaan yang dimohonkan kepada TUHAN. Selanjutnya mantra itu menyebut secara beraturan Sedulur Papat beserta warnanya dan empat arah mata angin.

Setelah berkonsentrasi kemudian diungkapkan apa yang menjadi hajat berupa jabatan yang tinggi dan rejeki yang besar. Mantra ini bisa dibaca setiap malam disertai puasa sampai permintaan itu dikabulkan.

Baca juga:



Demikian sedikit informasi tentang cara berkomunikasi dengan Sedulur Papat Limo Pancer yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar dunia spiritual dan supranatural, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Cara berkomunikasi dengan Sedulur Papat Limo Pancer"

Untuk Pemesanan Benda Pusaka, Call/Sms: 0858-7027-7889 atau Chat via WA: