Advertisement

Laku tirakat dalam ajaran Kejawen

tirakat kejawen
Ilustrasi

Hartalangit.com - Puasa merupakan laku/tirakat yang sangat penting sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan spiritual seseorang. Meskipun diajarkan dalam berbagai versi dan tata cara yang berbeda dalam melakukannya, tapi bisa dikatakan jika semua agama mengenal puasa.

Menurut pandangan Kejawen, puasa memang memiliki dampak yang sangat baik terhadap tubuh dan pikiran seseorang. Sebab puasa merupakan sarana untuk menempa jiwa dan raga, mempertajam intuisi dan nensucikan hati serta pikiran.

Para penganut ajaran Kejawen umumnya mengenal puasa dalam berbagai jenis yang dilakukan menurut hitungan hari tertentu guna menaikkan kemampuan spiritualnya.

Puasa merupakan sebuah metode untuk membangkitkan kekuatan spiritual agar pelakunya dapat menjadi pribadi yang berjiwa kuat dan berwawasan, serta memiliki pemikiran yang luas.

Baca juga: Makna dan manfaat puasa

Berikut ini beberapa jenis puasa yang umum dikenal dalam ajaran Kejawen:

• Puasa Mutih

Puasa Mutih adalah laku tirakat yang biasa dilakukan para penganut ajaran Kejawen untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk mempelajari ilmu Kejawen. Puasa Mutih dilakukan dengan hanya mengkonsumsi makanan dan minuman serba putih, baik dari warna maupun rasanya.

Ketika melakukan Puasa Mutih kita hanya boleh makan nasi putih dan air putih tanpa rasa (tawar) atau meninggalkan segala sifat garam.

• Puasa Ngeruh

Puasa Ngeruh dilakukan hanya dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang berasal dari buah-buahan dan sayuran saja, serta tidak diperbolehkan mengkonsumsi daging, ikan, telur, dan susu hewani. Puasa Ngeruh bisa dikatakan sebagai vegetarian versi Kejawen.

• Puasa Nglowong

Puasa Nglowong adalah laku tirakat dimana pelakunya diwajibkan untuk tidak makan dan tidak minum, serta hanya boleh tidur sebentar saja dalam sehari (misalnya 3 jam).

• Puasa Ngebleng

Puasa Ngebleng adalah laku tirakat dimana pelakunya diwajibkan untuk tidak makan, tidak minum, tidak tidur dan tidak boleh keluar kamar selama jangka waktu yang telah ditentukan.

Selama melakukan Puasa Ngebleng hanya boleh keluar kamar untuk ke buang air saja dan diwajibkan untuk meninggalkan segala bentuk aktifitas sehari-hari termasuk aktifitas seksual.

Biasanya pada hari terakhir atau setelah kita selesai melakukan Puasa Nglowong atau Puasa Ngebleng, maka disarankan untuk tidak berbicara sepatah katapun (ambisu/ membisu).

• Puasa Ngrowot

Puasa Ngrowot hampir sama seperti puasa biasa yang dilakukan dari subuh sampai maghrib. Perbedaannya, dalam melakukan Puasa Nrowot ketika sahur hanya diperbolehkan mengkonsumsi buah-buahan saja, dan itupun hanya satu buah saja, dan jika buah yang dimakan lebih dari satu, maka hanya boleh satu jenis buah yang sama, misalnya saja tiga buah pisang.

• Puasa Nganyep

Istilah Nganyep berasal dari kata anyep yang berarti hambar atau tawar. Jadi, Puasa Nganyep adalah laku tirakat dimana pelakunya hanya boleh makan dan minum semua jenis makanan atau minuman yang tawar atau tidak memiliki rasa.

Puasa Nganyep hampir sama seperti Puasa Mutih, tapi bedanya makanan yang dapat dikonsumsi dalam Puasa Nganyep lebih beragam karena tidak terikat pada warna putih saja.

• Puasa Ngidang

Ngidang berasal dari kata kidang yang dalam bahasa Indonesia berarti kijang. Seperti halnya binatang kijang, maka pelaku Puasa Ngidang hanya diperbolehkan makan dedaunan dan air putih saja, serta tidak diperbolehkan mengkonsumsi makanan atau minuman lainnya.

• Puasa Ngepel

Dalam Puasa Ngepel, pelakunya hanya diperbolehkan makan satu kepel (satu genggam) nasi putih saja dalam sehari dan hanya boleh minum seteguk air putih saja.

• Puasa Ngasrep

Seperti halnya Puasa Nganyep, dalam melakukan Puasa Ngasrep juga hanya boleh mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak berasa. Bedanya, dalam Puasa Ngasrep diberi batasan hanya boleh minum tiga kali sehari.

• Puasa Wungon

Dalam melakukan Puasa Wungon, pelakunya diwajibkan untuk tidak makan, tidak minum dan tidak tidur sama sekali selama 24 jam penuh.

• Puasa Pati Geni

Kata "pati" berarti "mati" dan kata "geni" berarti "api". Jadi, Puasa Pati Geni adalah laku tirakat dimana pelakunya tidak diperbolehkan untuk makan, minum, dan tidur selama jangka waktu yang telah ditentukan dan hanya boleh berada didalam kamar yang gelap tanpa penerangan sedikitpun, serta tidak boleh keluar kamar sama sekali selama melakukan puasa tersebut, karena itulah kenapa disebut Pati Geni.

Semedi (Tapa)

Selain puasa, dalam ajaran Kejawen juga dikenal laku semedi atau bertapa. Semedi dikenal oleh sebagian orang sebagai suatu laku tirakat untuk membebaskan segala indra dengan cara tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur sama sekali. Padahal esensi atau inti dari ritual semedi sebenarnya adalah memusatkan batin dan seluruh hakekat pada cita-cita tertentu yang ingin dicapai.

Dalam ajaran dan pengamalan Ilmu Kejawen, ada beberapa macam tapa atau semedi yang telah lama dikenal dan diamalkan, antara lain:

• Tapa Jejeg

Jejeg artinya tegak, berbeda dari kebanyakan ritual semedi yang umum dilakukan dengan posisi bersila, Tapa Jejeg justru dilakukan dengan cara berdiri tegak selama 12 jam penuh.

• Tapa Lelono

Tapa Lelono merupakan laku tirakat yang bertujuan untuk melakukan introspeksi terhadap diri sendiri. Caranya adalah dengan berjalan kaki dimulai dari jam 12 malam hingga jam 3 pagi.

• Tapa Kungkum

Kungkum artinya berendam, dan sesuai namanya, Tapa Kungkum dilakukan dengan cara berendam didalam air (sungai). Umumnya Tapa Kungkum dilakukan di titik pertemuan dua aliran sungai (sungai tempuran).

Tapa Kungkum dilakukan dalam keadaan bertelanjang dada tanpa banyak bergerak dan tidak boleh tertidur. Karena jika kita sampai tertidur saat melakukan Tapa Kungkum selain akan membatalkan laku tirakat juga akan sangat membahayakan keselamatan kita karena dapat hanyut terbawa arus sungai.

Dalam melakukan Tapa Kungkum, kita dapat duduk bersila dalam keadaan terendam hingga sebatas leher selama waktu yang ditentukan, atau sampai ada pertanda khusus/isyarat alam yang kita dapatkan. Sudah banyak orang yang membuktikan kedahsyatan sensasi spiritual dari ritual Tapa Kungkum.

• Tapa Ngalong

Ngalong berasal dari kata "kalong", yaitu kelelawar berukuran besar. Tapa Ngalong dilakukan dengan posisi bergantung terbalik seperti posisi tidur seekor kelelawar.

Posisi bertapa yang terbilang tidak biasa tersebut menjadikan Tapa Ngalong merupakan salah satu laku tirakat Kejawen yang tergolong unik, berbeda dari tirakat lainnya dan merupakan salah satu laku tirakat tingkat tinggi.

Posisi bergantung dengan kepala dibawah dan kaki diatas tersebut biasanya dilakukan pada dahan pohon tanpa banyak bergerak. Tapa Ngalong biasanya dibarengi dengan Puasa Ngrowot.

• Tapa Ngeluwang

Tapa Ngeluwang merupakan salah satu laku tirakat Kejawen yang tergolong sangat ekstrim karena dilakukan dengan cara mengubur diri ditanah pekuburan atau ditempat yang sangat sepi (wingit).

Untuk melakukan Tapa Ngeluwang mutlak diperlukan niat yang kuat, keberanian yang besar, dan tekad yang bulat karena sangat berat dan beresiko.

Tapa Ngeluwang merupakan sarana untuk mendapatkan kekuatan supranatural tingkat tinggi dalam waktu singkat.

Selain berbagai macam puasa dan semedi (tapa), dalam ajaran Kejawen juga dikenal laku tirakat berikut ini:

• Laku Mutih Milang Kepel

Laku Mutih Milang Kepel merupakan perpaduan antara Puasa Mutih, Puasa Ngepel dan Puasa Pati Geni yang dipadukan menjadi satu.

Laku Mutih Milang Kepel dilakukan selama 7 hari berturut-turut tidak boleh keluar rumah dengan hanya makan sekepal nasi setiap harinya.

Setelah hari ketujuh, kemudian dilanjutkan dengan Puasa Pati Geni yang harus dilakukan selama sehari semalam.

• Laku Melek

Laku Melek merupakan laku tirakat yang dilakukan dengan cara tidak tidur selama sehari semalam penuh (24 jam).

Ketika mengakhiri puasa sebaiknya jangan berlebihan. Jangan karena perut terasa sangat lapar lalu memakan semua makanan yang ada karena akibatnya perut bisa menjadi sakit.

Hal itu juga menggambarkan bahwa laku tirakat yang kita lakukan tidak membawa perubahan pada tingkat spiritual kita karena masih saja mementingkan nafsu duniawi.

Baca juga: Ajaran tauhid dari tokoh punakawan Semar

Demikian sedikit informasi tentang laku tirakat dalam ajaran Kejawen yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar Dunia Spiritual dan Supranatural, dapat dibaca pada artikel Harta Langit yang lain.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

0 Response to "Laku tirakat dalam ajaran Kejawen"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Untuk Pemesanan Benda Pusaka, Call/Sms: 0858-7027-7889 atau Chat via WA: