Advertisement

Pengertian Moksa dan cara untuk mencapainya

gambar ilustrasi moksa
Ilustrasi

Hartalangit.com – Moksa adalah sebuah konsep dalam ajaran agama Hindu dan Buddha yang artinya adalah lepas atau bebas dari ikatan duniawi dan juga lepas dari putaran Reinkarnasi atau Punarbawa kehidupan.

Kata Moksa sendiri berasal dari bahasa Sansekerta dari akar kata Muc yang berarti membebaskan atau melepaskan. Moksa berarti kelepasan, kebebasan. Dari pemahaman itulah, Moksa dapat disamakan dengan Nirwana, Nisreyasa atau Keparamarthan.

Moksa adalah alamnya Brahman yang sangat ghaib dan berada diluar batas pikiran umat Manusia. Moksa bersifat Nirguna, tidak ada bahasa Manusia yang dapat menjelaskan secara gamblang bagaimana sesungguhnya alam Moksa itu karena hanya dapat dipahami dan dirasakan oleh orang yang dapat mencapainya. Alam Moksa berbeda dengan alam kematian dan bukan sesuatu yang bersifat khayal, tetapi sesuatu yang benar-benar ada.

Adapun yang dimaksud dengan kebebasan dalam pengertian Moksa adalah terlepasnya Atman dari ikatan maya, sehingga bisa menyatu dengan Brahman. Bagi orang yang telah mencapai Moksa berarti mereka telah mencapai alam Sat cit ananda yang berarti kebahagiaan yang tertinggi.

Semua Manusia pada hakekatnya dapat mencapai Moksa jika dapat mengikuti dengan tekun jalan yang di ajarkan oleh agama, tapi hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mencapai tingkatan tersebut karena memerlukan pemahaman spiritual yang mendalam.

Baca juga: Ajaran Spiritual Syekh Siti Jenar yang kontroversial

Dalam agama Hindu, jalan untuk mencapai Moksa adalah Catur Marga Yoga yang dapat ditempuh oleh semua orang dengan menyesuaikan kemampuan dirinya masing-masing.

Sesungguhnya jalan Catur Marga tersebut dalam prakteknya telah dilaksanakan dalam satu kesatuan yang utuh, namun dengan meletakkan satu penonjolan tertentu dari jalan-jalan tersebut. Seseorang yang menempuh jalan Bhakti Marga Yoga juga telah melakukan Marga Yoga yang lainnya tetapi dalam porsi yang lebih kecil.

Moksa dapat dicapai didunia ini, artinya sewaktu kita masih hidup dan dapat pula dicapai setelah hidup ini berakhir. Kebebasan alam Sorga dan Neraka yang dicapai oleh seseorang yang ada dalam ajaran agama Hindu bukanlah merupakan tujuan hidup yang tertinggi, karena konsep alam Sorga dan Neraka hanya merupakan fenomena yang dialami oleh Atma seseorang bersama karma pahalanya masing-masing sewaktu hidup didunia. Kehidupan didunia dapat menumbuhkan adanya rasa cinta dan keinginan yang berlebihan pada diri Manusia yang semuanya itu akan menyebabkan seseorang menjadi terikat.

Jika seseorang bisa menyadari hal itu maka akan tumbuhlah dalam dirinya usaha untuk melepaskan diri yang sejati dari keterikatan dunia itu. Upaya dan usaha untuk melepaskan diri secara sadar inilah yang dapat mengantarkan Manusia menuju Moksa. Sedangkan ketidak sadaran dengan keterikatan dunia dapat menimbulkan penderitaan yang berkepanjangan.

Agama mengajarkan banyak cara yang dapat ditempuh untuk mewujudkan hal itu, antara lain: dengan berprilaku yang baik, berdana-punya, beryajna, dan tirthayatra. Usaha itu dapat dilakukan secara bertahap dan didasari dengan niat yang baik dan suci. Dengan demikian seseorang dapat terlepaskan dari keterikatan duniawi.

Orang yang dapat membebaskan dirinya (pikiran dan perasaannya) dari ikatan keduniawian serta pengaruh suka dan duka yang muncul dari Tri Guna akan dapat mencapai kelepasan itu, sebagaimana diungkap dalam Bhagavadgita.

“Brahmabhutah prasannatma, na sochati na kankshati, samah sarveshu bhuteshu, madbhaktim labhate param (Bhagawadgita, XVIII.54)”

Artinya: “Setelah menjadi satu dengan Brahman jiwanya tentram, tiada dhuka tiada nafsu-birahi, memandang semua mahluk-insani sama, ia mencapai pengabdian kepada-Ku yang tertinggi”.

“Sattvam sukhe sanjayati, rajah karmani bharata, jnanam avrtya tu tamah, pramade sanjayaty uta (Bhagavadgita XIV.9)”

Artinya: “Sattwa mengikat seseorang dengan kebahagiaan, rajas dengan kegiatan tetapi tamas, menutupi budi pekerti oh Barata, mengikat dengan kebingungan”.

“Yada sattve pravrddhe tu, pralayam yati dehabhrit, tado 'ttamavidam lokan, amalan pratipadyate (Bhagavadgita XIV. 14)”

Artinya: “Apabila sattva berkuasa dikala penghuni-badan bertemu dengan kematian maka ia mencapai dunia suci tempat mereka, para yang mengetahui”.

“Bhaktya tv ananyaya sakya, aham evamvidho‘rjuna, jnatum drashtum cha tattvena praveshtum cha paramtapa (Bhagawadgita,  XI.54)”

Artinya: “Tetapi dengan pengabdian jua yang hanya terpusatkan, oh Arjuna Aku dapat diketahui juga sesungguhnya dapat dilihat, Parantapa”.

Pembebasan diri dari pengaruh Tri Guna adalah usaha yang sangat berat, tetapi pasti dapat dilakukan dengan mendasarkan diri pada disiplin. Renungkanlah sloka di atas jika ingin mencapai alam Moksa. Penghayatan dan pengamalan semua bentuk ajaran agama dalam hidup ini merupakan wujud konkrit dari pengamalan sabda TUHAN yang ada dalam pustaka suci.

Lakukan pemujaan/ibadah dan kerja sebagaimana mestinya guna mewujudkan bhakti kita kepada TUHAN dan tanamkanlah keyakinan pada diri kita bahwa segala sesuatu berawal dan berakhir pada TUHAN. Segala sesuatu tidak mungkin akan terjadi tanpa kehendak TUHAN.

Semua mahluk akan dapat mencapai Moksa, hanya saja proses yang dilalui satu sama lainnya bisa berbeda-beda dan waktunya juga berbeda-beda, ada yang cepat dan ada yang lambat. Jika seseorang bisa mengurangi sifat egoisnya terhadap sesuatu dan bisa mengarahkan pikiran serta perasaannya kepada TUHAN, maka secara perlahan-lahan dan pasti akan dapat menyatu dengan Brahman.

Tujuan utama hidup Manusia adalah untuk menyadari dirinya yang sejati dan setelah bisa menyadari dirinya yang sejati barulah Manusia dapat menyadari bahwa TUHAN menyatu dan berada pada semua yang ada di alam semesta ini.

Dalam kehidupan nyata didunia ini sangat sedikit sekali orang yang menginginkan mendapatkan kebahagiaan rohani ”Moksa” karena kebanyakan Manusia hanyut oleh kenikmatan duniawi yang penuh dengan gelombang suka dan duka. seharusnya setiap orang perlu menyadari bahwa tubuh ini adalah suatu alat untuk mendapatkan Moksa.

Moksanam sariram sadhanam yang artinya bahwa tubuh ini adalah sebagai alat untuk mencapai Moksa. Dengan demikian peliharalah tubuh ini sebaik-baiknya. Demikian yang dikatakan dalam kitab  Brahma Purana (228.45).

Disebutkan ada beberapa tingkatan ”Moksa” yang diajarkan dalam ajaran agama Hindu. Ajaran ini didasarkan pada keadaan ”Atma” dalam hubungannya dengan Brahman.

Berikut ini beberapa tingkatan Moksa dalam ajaraan agama Hindu:

1. Jiwamukti

Jiwamukti adalah tingkatan Moksa atau kebahagiaan/kebebasan yang dapat dicapai oleh seseorang semasa hidupnya, dimana Atmanya tidak lagi terpengaruh oleh gejolak indrya dan maya. Istilah ini dapat pula disamakan maksudnya dengan samipya dan sarupya.

2. Widehamukti

Widehamukti adalah tingkat kebebasan yang dapat dicapai oleh seseorang semasa hidupnya, dimana Atmanya telah meninggalkan badan wadagnya (jasadnya), tetapi rohnya masih kena pengaruh maya yang tipis. Tingkat keberadaan atma dalam tingkatan ini adalah setara dengan Brahman, namun belum dapat menyatu dengan TUHAN, sebagai akibat dari pengaruh maya yang masih ada. Widehamukti dapat disejajarkan dengan salokya.

3. Purnamukti

Purnamukti adalah tingkat kebebasan yang paling sempurna. Pada tingkatan ini posisi atma seseorang keberadaannya telah menyatu dengan Brahman. Setiap orang akan dapat mencapai posisi ini apabila yang bersangkutan sungguh-sungguh dengan kesadaran dan hati yang suci mau dan mampu melepaskan diri dari keterikatan maya ini. Istilah Purnamukti dapat disamakan dengan sayujya.

Secara lebih rinci sesuai uraian di atas tentang keberadaan tingkatan-tingkatan Moksa dapat dijabarkan lagi menjadi beberapa macam tingkatan. Moksa dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu: Samipya, Sarupya (Sadarmya), Salokya, dan Sayujya.

Berikut ini penjelasan dari ke-4 tingkatan tersebut:

1. Samipya

Samipya adalah suatu kebebasan yang dapat dicapai oleh seseorang semasa hidupnya didunia ini. Hal ini dapat dilakukan oleh para Yogi dan oleh para Maharsi. Mereka dalam melakukan Yoga Samadhi telah dapat melepaskan unsur-unsur maya, sehingga dapat mendengar wahyu TUHAN. Dalam keadaan yang demikian itu Atman berada sangat dekat dengan TUHAN. Setelah selesai melakukan samadhi, maka keadaannya akan kembali sebagai Manusia biasa, dimana emosi, pikiran, dan organ jasmaninya aktif kembali.

2. Sarupya (Sadharmya)

Sarupya (Sadharmya) adalah suatu kebebasan yang dapat dicapai oleh seseorang didunia ini karena kelahirannya, dimana kedudukan Atman merupakan pancaran dari kekuasaan TUHAN, seperti halnya Sri Rama dan Buddha dan Sri Kresna. Walaupun Atman telah mengambil suatu perwujudan tertentu, namun tidak terikat oleh segala sesuatu yang ada didunia ini.

3. Salokya

Salokya adalah suatu kebebasan yang dapat dicapai oleh Atman, di mana Atman itu sendiri telah berada dalam kondisi dan kesadaran yang sama dengan TUHAN. Dalam keadaan seperti itu dapat dikatakan bahwa Atman telah mencapai tingkatan Dewa yang merupakan manifestasi dari TUHAN itu sendiri.

4. Sayujya

Sayujya adalah suatu tingkat kebebasan yang tertinggi dimana Atman telah dapat bersatu dengan TUHAN. Dalam keadaan seperti inilah sebutan Brahman Atman Aikyam yang artinya: Atman dan Brahman sesungguhnya tunggal.

Dalam hubungan untuk mewujudkan suatu kebebasan dalam hidup ini sangat baik kita merenungkan dan mengamalkan sloka berikut ini:

Sribhagavan uvacha: “Akasaram brahman paramam svabhavo dhyatmam uchyate, bhutabhavodbhavakaro  visargah karmasamjnitah (Bhagawadgita VIII. 3. 129)”

Artinya:

Sri Bhagawan Bersabda: “Brahman (TUHAN) adalah yang kekal, yang maha tinggi dan adanya didalam tiap-tiap badan perseorangan disebut Adhyatman. Karma adalah nama yang diberikan kepada kekuatan cipta yang menjadikan makhluk hidup”.

Mengenai kebahagiaan atau kebebasan abadi yang mesti diupayakan dalam hidup dan kehidupan ini, kitab suci Sarasamuscaya menyebutkan sebagai berikut:

Matapitrsahasrani putradara çatani ca, yuge yuge wyatitani kasya te kasya wa wayam.

Anadi ketang janma ngaranya, tan kinawruhan tembenya, luput kinalakaran, wilangning janmantara, mewwiwut pwa bapanta, ibunta, anakta, rabinta, ring sayugasyuga, paramarthanya, ndyang enak katepetana sanu lawan ika, ndyang tuduhan anunta (Sarasamuscaya, 35.486).

Artinya:

Tidak diketahui hubungan penjelmaan manusia itu pada permulaannya, tidak dapat diperkirakan akan banyaknya penjelmaan yang lain, beribu-ribu bapa, ibu, anak dan istri pada tiap-tiap yuga: pada hakekatnya, siapakah yang sebenarnya dapat mengatakan dengan tepat keturunan mereka itu, dan yang mana dapat ditunjuk seketurunan dengan engkau sendiri ?

Nayamatyantasamwamsah kadacit kenacit saha, api swena marirena kimutanyena kenacit.

Tatan hana teka nitya patemunya ngaranya, ikang patemu ika, ikang tan temu ika, kapwa tan langgeng ika, patemunta lawan iking çariranta tuwi, tan langgeng ika, mapasaha mara don iking paneoadadi, haywa tinucap ikang len (Sarasamuscaya, 35. 487).

Artinya:

Tidak ada yang kekal yang dinamakan pertemuan itu, yang bertemu satu dengan yang lain; yang tidak bertemu satu dengan yang lain, semuanya itu tidak kekal, bahkan hubunganmu dengan badanmu sendiripun tidak kekal, pasti akan berpisah dari badan: tangan, kaki, dan lain-lain bagian tubuh itu, jangan dikatakan dengan yang lain-lainnya.

Adarçanadapatitah punaçcadarçanam gatah, na te tawa na tesam twam ka tatra paridewana.

Keta sakeng taya marika, muwah, ta ya mulih ring taya, sangksipta tan akunta ika, ika tan sapa lawan kita, an mangkana, apa tojara, apa polaha (Sarasamuscaya, 35.488).

Artinya:

Katanya mereka datang dari Taya (kenyataan yang tidak nyata), dan kemudian kembalinya lagi ke Taya, singkatnya, bukan kepunyaanku itu, itu tidak ada hubungannya dengan engkau, jika demikian halnya, apa yang akan dikatakan dan apa yang akan dikerjakan.

Naste dhane wa daresu putre pitari matari, aho kastamiti dhyatwa duhkhasyapacitin caret.

Hilang pwa mas, mati pwang anak, rabi, bapa, ibu, ikana telas paratra,  atiçaya ta gong nikang lara, mwang dukkhaning hati enget pwa kitan mangkana, gawahenta tikang tambaning duhkha (Sarasamuscaya, 35. 489).

Artinya:

Kekayaan akan habis, anak akan mati, istri, ayah, dan ibu, mereka itu semuanya telah meninggal, maka sangat menyedihkan dan memilukan hati, bila engkau sadarkan keadaan demikian, perbuatanmu itu merupakan obat pelipur duka.

Duhkheswanudwignamanah sukhesu wigatasprhah, witaçokabha-yakrodhah sthiradhirmunirucyate.

Sang kinahananing kaprajnan ngaranira, tan alara yan panemu duhkha, tan agirang yan panemu sukha, tatan kataman krodha, mwang takut, prihati, langgeng mahning juga tuturnira, apan majnana, muni wi ngaraning majnana (Sarasamuscaya, 35. 505).

Artinya:

Orang yang disebut mendapatkan kebijaksanaan, tidak bersedih hati jika mengalami kesusahan, tidak bergirang hati, jika mendapat kesenangan, tidak kerasukan nafsu marah dan rasa takut serta kemurungan hati, melainkan selalu tetap tenang juga pikiran dan tutur katanya, karena berilmu, budi mulia pula disebut orang yang bijaksana.

Manasam çamayet tasmat prajnaya, gnimiwabhasa, praçante manase hyasya çariramupaçamyati.

Matangnya duhkhaning manah, prihen pademen ring kaprajnan, apan niyata juga hilang dening kaprajnan, kadyangganing apuy dumilah, niyata padem nika dening wwai, padem pwa duhkhaning manah, padem ta laranikang çarira (Sarasamuscaya, 35. 503).

Artinya:

Karena itu penderitaan pikiran hendaklah diusahakan untuk dimusnahkan dengan kebijaksanaan, sebab tentunya lenyap oleh kebijaksanaan, seperti misalnya api yang menyala, pasti padam oleh air, jika telah musnah penderitaan pikiran, maka lenyaplah pula sakitnya badan.

Wijayagnyupadagdhani na rohanti yatha punah, jnanadagdhaistatha kleçairnatma sampadyate punah.

Kunang paramarthanya, hilang ikang kleçaning awak, an pinanasan ring jnana, hilang pwang kleça, ri katemwaning samyagjnana, hilang tang janma, mari punarbhawa, kadyangganing wija, pinanasan sinanga, hilang tuwuh nika, mari masewo (Sarasamuscaya, 35. 510).

Artinya:

Adapun maknanya yang terpenting kecemaran badan akan lenyap, jika dilebur dengan latihan-latihan ilmu pengetahuan, jika hilang musnah kotoran badan itu, karena telah diperoleh pengetahuan yang sejati, maka terhapuslah kelahiran, tidak menjelma lagi sebagai misalnya biji benihan yang dipanaskan, dipanggang, hilang daya tumbuhnya, tidak tumbuh lagi.

Untuk dapat mencapai Moksa ada beberapa cara yang dapat ditempuh sesuai dengan bakat dan bidang yang digeluti saat ini yang disebut dengan Catur Marga. Ada juga yang menyebutnya dengan Catur Yoga, yaitu empat jalan yang ditempuh untuk mencapai Moksa.

Catur Marga terdiri dari:

1. Jnana Marga Yoga

Kata Jnana artinya adalah kebijaksanaan filsafat atau pengetahuan, Yoga berasal dari urat kata YUJ yang artinya menghubungkan diri. Jadi Janana Marga Yoga artinya jalan untuk mencapai persatuan atau pertemuan antara Atman dengan Paramatman (TUHAN) berdasarkan atas pengetahuan (kebijaksanaan filsafat) terutama mengenai kebenaran dan pembebasan diri dari ikatan duniawi (maya).

Dalam kehidupan ini setiap orang akan memilih pekerjaan/profesi sesuai dengan bakat yang diberikan oleh Sangyang Widhi Wasa atau dengan latar belakang pendidikannya. Bakat yang diberikan oleh TUHAN adalah anugrah yang sangat berharga yang merupakan hasil Karmanya dahulu sebelum Reinkarnasi sebagai Manusia. Maka dari itu, jika ingin mengabdi kan diri dibidang ilmu pengetahuan, maka yang perlu dipilih adalah ilmu pengetahuan yang dapat membantu umat Manusia dalam mengatasi permasalahan dalam kehidupan ini.

2. Karma Marga Yoga

Cara atau jalan untuk mencapai Moksa (bersatunya Atman dengan Brahman) dengan selalu berbuat baik tapi tidak mengharapkan balasan atau hasilnya untuk kepentingan diri sendiri (amerih sukaning awah) disebut Karma Marga Yoga.

Dalam Karma Marga Yoga, setiap tindak tanduk Manusia dalam melakukan karya harus berdasarkan demi kepentingan masyarakat banyak dan jangan ada suatu keinginan untuk menikmati hasilnya, sebab jika selalu berpikir hasilnya maka akan timbul keterikatan-keterikatan, dan jika keterikatan-keterikatan telah tumbuh didalam jiwa, maka ketenangan akan menjauh dari kenyataan sehingga jiwa akan diracuni oleh Sad Ripu, yaitu enam musuh utama Manusia yang terdiri dari Kama, Lobha, Mada, Moha, Kroda, Matsarya (nafsu, loba, kemarahan, kemabukan, kebingungan, iri hati).

Didalam Bhagawad Gita disebutkan bahwa berulang kali Krisna berkata kepada Arjuna, lakukan tugasmu, lakukanlah pekerjaan yang benar tetapi jangan ingin menikmati hasil pekerjaan itu. Tujuan Krisna memberikan wejangan kepada Arjuna adalah agar jangan melihat hasilnya, yaitu gar kita sebagai pelaku benar-benar dalam bekerja, semua perbuatan kita yaitu karma diubah menjadi Yoga sehingga kegiatan tersebut membawa kita menuju persatuan dengan TUHAN, maka ini disebut dengan Karma Marga Yoga. Jika seseorang sudah dapat melakukan pekerjaan tanpa melihat hasilnya maka ia akan menjadi orang yang benar-benar bijaksana (Stithaprajna) yang tidak terpengaruh dengan keadaan suka dan duka atau gembira dan sedih.

Perbuatan adalah karma, setiap orang lahir dari karma, hidup dalam karma dan mati dalam karma. Karma adalah sumber dari baik dan buruk, dosa atau kebajikan, laba atau rugi, kebahagiaan atau kesedihan. Sebenarnya karmalah penyebab kelahiran, maka karma dalam kehidupan merupakan masalah yang sangat penting.

Jadi, untuk mencapai suatu kebahagiaan kita harus selalu berbuat (berkarma) baik, selalu tanamkan kebaikan dalam setiap tindakan yang akan menyebabkan perasaan kita mendapat rangsangan kebaikan tersebut sehingga kita merasa senang/bahagia.

Jika perasaan kita telah mencapai kesenangan terus-menerus karena selalu berbuat (berkarma) baik terhadap sesama, maka hal itu akan membawa kita mencapai kebahagiaan, sebab karma (perbuatan), perasaan, dan kebahagian akan selalu berkaitan. Semakin banyak kita berkarma baik maka perasaan dan kebahagian akan selalu mengikuti kita, demikian juga sebaliknya.

3. Bakti Marga Yoga.

Jalan atau cara untuk mencapai Moksa atau kebebasan, yaitu bersatunya Atman dengan TUHAN dengan melakukan sujud bakti kehadapan Yang Widhi Wasa. Bakti adalah cinta yang mendalam kepada TUHAN, bersifat tanpa pamrih sedikitpun dan tanpa keinginan duniawi apapun juga.

Bagi umat Hindu, untuk melakukan Bakti Marga Yoga dengan melantunkan nama-nama TUHAN secara berulang-ulang, bergaul dengan orang-orang suci yang memiliki bakti, konsentrasi pikiran setiap saat kepada TUHAN. Jalan bakti ini adalah yang paling mudah untuk dilakukan. Salah satunya setiap hari melakukan Trisandya dengan mengucapkan Gayatri Mantra tiga kali sehari dan pahami maknanya agar meresap dalam hati sanubari dan bayangkan Brahman ada dalam pikiran dan renungkan secara terus-menerus selama melagukan Gayatri Mantra.

Dengan selalu melantunkan Gayatri Mantra secara terus-menerus, maka Manusia seolah-olah dapat menyatu dengan TUHAN atau bersatunya Atman dengan TUHAN, sehingga akan mendapatkan ketenangan, kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan.

4. Raja Marga Yoga

Jalan untuk mencapai Moksa menurut agama Hindu dapat dilakukan melalui Tapa, Brata, Yoga, dan Semadi. Untuk mengendalikan diri dengan melakukan latihan-latihan untuk mengatasi Sad Ripu disebut dengan Tapa, Brata, sebab jika Sad Ripu sudah dapat kendalikan maka jalan mencapai Moksa akan lebih mudah.

Disamping mengendalikan Sad Ripu, kita juga melakukan latihan-latihan untuk dapat menyatukan Atman dengan TUHAN yang disebut dengan Yoga dan Semedi. Dengan melakukan konsentrasi penuh dalam ketenangan dan keheningan yang sempurna sehingga tercapai penyatuan dengan TUHAN. Semua latihan membutuhkan ketekunan, ikhlas, iman dan tanpa pamrih.

Baca juga: Laku tirakat dalam ajaran Kejawen

Diantara keempat Marga Yoga diatas semuanya sama, tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya, bagi umat Hindu dapat memilih dari keempat Marga Yoga tersebut tergantung dari bakatnya masing-masing dan jalan yang satu akan berhubungan dengan yang lain, semuanya untuk mencapai tujuan yang sama yaitu Moksa.

Untuk mencapai Moksa juga ada tingkatan-tingkatannya tergantung dari karma (perbuatannya) selama hidupnya didunia. Tingkatan-tingkatan seseorang yang telah mencapai Moksa dapat dikatagorikan sebagai berikut:

1. Seseorang yang sudah mencapai kebebasan rohani dengan meninggalkan jasad disebut Moksa.

2. Seseorang yang sudah mencapai kebebasan rohani dengan tidak meninggalkan jasad tetapi meninggalkan bekas seperti abu atau tulang disebut Adi Moksa.

3. Seseorang yang telah mencapi kebebasan rohani dengan tidak meninggalkan jasad serta tidak meninggalkan bekas disebut Parana Moksa, atau tingkatan moksa yang tertinggi.

Setiap Manusia dengan agama apapun sesungguhnya bisa mencapai Moksa melalui jalan yang di ajarkan agamanya masing-masing. Tapi yang terpenting untuk mencapai Moksa yaitu jangan menjadikan Moksa sebagai tujuan karena hal itu juga merupakan nafsu dan keinginan terhadap sesuatu. Lepaskan semua keinginan, ketakutan, kekuwatiran, nafsu, amarah, dan keterikatan-keterikatan lainnya yang membelenggu jiwa.

Hakekat hidup kita didunia ini adalah untuk kembali kepada TUHAN, jadi apapun yang kita lakukan adalah hanya karena TUHAN, bukan karena Moksa ataupun karena Sorga. Sebab Moksa dan Sorga adalah hadiah dari TUHAN untuk Manusia yang mampu melepaskan dirinya dari belenggu keduniawian.

Baca juga: Ramalan Jongko Joyoboyo tentang masa depan Nusantara

Demikian sedikit informasi tentang pengertian Moksa dan cara untuk mencapainya yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar dunia spiritual dan supranatural, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat

Terima kasih

Post a Comment for "Pengertian Moksa dan cara untuk mencapainya"

UNTUK PEMESANAN BENDA PUSAKA: