Advertisement

Makna sembahyang dalam ajaran Kejawen

gambar orang sembahyang
Ilustrasi

Hartalangit.com – Dalam kawruh Kejawen, sembahyang memiliki pengertian menyembah dan memasrahkan diri kepada Yang Maha Kuasa (bukan Sholat karena Kejawen sudah ada sebelum Islam masuk ke tanah Jawa).

Tapi pengertian sembahyang sekarang ini oleh sebagian orang lebih dipahami sebagai cara untuk meminta sesuatu kepada TUHAN daripada manembah.

Setiap kali menghadap atau mengingat TUHAN selalu hanya untuk meminta sesuatu, baik sesuatu yang berkaitan dengan urusan dunia maupun meminta surga (yang dalam pemahaman sebagian orang masih berkaitan dengan kenikmatan dunia).


Orang Jawa kuno menyebut TUHAN dengan GUSTI Tan Keno Kinoyo Opo yang artinya TUHAN yang melampaui apapun, tidak dapat di ungkapkan, atau bersifat melampaui apapun.

TUHAN juga sering disebut GUSTI Ingkang Murbeng Dumadi  (TUHAN Yang Maha Esa), GUSTI Ingkang Akaryo Jagad (TUHAN Yang Menciptakan Dunia) dan GUSTI Ingkang Murbeng Gesang (TUHAN Yang Menguasai Hidup).

"Pangeran iku iso ngawohi kahanan opo wae tan keno kinoyo ngopo".

Artinya: TUHAN itu bisa mengubah segalanya tanpa mungkin dapat diperkirakan.

Dari semua sebutan tersebut tidak ada yang menyebutkan nama untuk TUHAN, tapi orang Jawa kuno sudah sangat mengagungkan TUHAN dengan sebutan-sebutan yang agung dan memiliki kekuasaan mutlak atas segala hal.

Jadi sebelum masuknya agama-agama seperti Hindu, Budha dan Islam ke tanah Jawa, Orang Jawa sudah menyadari keberadaan TUHAN sebagai pencipta jagad raya beserta isinya (GUSTI Ingkang Akaryo Jagat).

TUHAN itu satu (esa), tidak ada TUHAN agama A atau TUHAN agama B, yang membedakan hanya cara menyebut-NYA saja, tapi maksud ataun tujuannya adalah TUHAN yang sama.

Setelah Islam masuk ke tanah Jawa, para ulama mengggunakan tradisi Kejawen dengan memodifikasinya untuk menyebarkan agama Islam.

Artinya kebiasaan-kebiasaan yang sudah ada dalam tradisi Kejawen di olah lagi oleh para Wali dengan memasukkan ajaran-ajaran Islam kedalamnya untuk kepentingan syiar, termasuk penyebutan TUHAN kemudian menjadi GUSTI ALLOH.

Dengan cara pendekatan tradisi dan budaya yang dilakukan oleh para Wali, maka ajaran Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat Jawa.


Masyarakat Kejawen memiliki cara sembahyang atau manembah (menyembah GUSTI Ingkang Akaryo Jagad) dengan bermacam-macam cara.

Bagi masyarakat Kejawen, tidak ada ketentuan ataupun cara yang baku dalam melakukan manembah marang GUSTI Ingkang Akaryo Jagad.

Dalam melakukan manembah, ada empat macam cara seperti yang tertulis dalam penggalan kitab Wedhatama, yaitu:

“Samengko ingsun tutur sembah catur supaya lumuntur, Dhihin raga cipta jiwa rasa karsa, ingkono lamun ketemu, tandha nugrahaning manon”

Artinya:

“Sekarang saya jelaskan tentang empat macam sembah, yaitu sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa dan sembah rasa. Disitu akan ketemu tanda rahmatnya GUSTI Ingkang Akaryo Jagad, Gusti Ingkang Moho Kuwaos, dudu Rojo nanging GUSTI ingkang maringi urip lan mati”

1. Sembah Raga

Sembah raga artinya menyadari bahwa seluruh jiwa raga kita adalah milik Sang Hyang Widi (TUHAN Yang Maha Esa) yang mengutamakan gerakan raga dengan cara yang sudah ditentukan disertai dengan doa, baik dengan suara yang dapat didengar oleh orang lain maupun ucapan didalam hati yang tidak terdengar.

Dalam serat Wedhatama dijelaskan:

“Sembah Raga puniku, pakartining wong amagang laku, sesucine asarana saking warih, kang wus lumrah limang wektu, wantu wataking wawaton”

Artinya:

“Sembah raga itu, pengertiannya orang yang sedang laku, caranya mensucikan diri dengan air, yang lumrah adalah lima waktu, cara-caranya sudah ditentukan”

Sembah raga dimaksudkan untuk membersihkan diri dengan latihan tertentu khususnya latihan jasmani. Semua itu merupakan tahap awal yang harus dilewati oleh seorang pencari kebenaran.

2. Sembah Cipta

Manembah dengan cara ini adalah mendekatkan diri dengan TUHAN Yang Maha Esa menggunakan sarana ciptanya, alam semesta dan semua isinya sebagai wujud syukur atas yang diberikan GUSTI Ingkang Moho Kuwaos.

Yang dimaksud dengan sembah cipta adalah menghentikan ciptanya supaya menjadi tenang. Caranya adalah dengan berdiam diri dan berusaha menghentikan ciptanya. Berhentinya cipta seorang Manusia itu disebut heneng (hening) yang memiliki arti meneng (diam dan tenang).

Tujuan kenapa gerakan cipta harus dihentikan karena daya cipta Manusia merupakan aling-aling (tabir penyekat/hijab yang menghalangi Manusia dengan dimensi ghaib).

Dengan menghentikan cipta maka akan terbukalah tabir penyekat tersebut yang memungkinkan Manusia masuk ke dimensi ghaib untuk mendekat kepada Gusti Ingkang Moho Kuwaos.

3. Sembah Rasa

Sembah rasa biasa juga disebut sembah kalbu. Rasa Manusia itu ada tiga, yaitu rasa luar, rasa dalam, dan rasa sejati.

Rasa luar adalah rasa yang terdapat pada raga, misalnya rasa sakit atau rasa panas yang kita rasakan pada kulit.

Sedangkan rasa dalam adalah rasa yang ada dalam diri kita, misalnya, rasa marah, rasa senang dan rasa-rasa lainnya. Sementara rasa sejati adalah rasa yang dapat menerima dan mengerti berbagai macam keghaiban.

Apa saja yang bisa terjadi dalam tataran sembah rasa tersebut..?

“Keleme mawa emut, lalamatan, jroning alam kanyut, sanyatane iku kesunyatan kaki, sejatine yen tan emut, sayekti tan bisa amor”

Artinya:

“Tenggelamnya dengan selalu ingat, sayup-sayup, berada dalam alam hanyut, kebenarannya itulah kenyataannya, sejatinya kalau tidak ingat, maka tidak akan bisa bertemu (dengan Gusti Ingkang Moho Kuwaos)”

Manembah rasa bisa dikatakan berhasil jika sudah sampai pada tingkat heneng (hening) dan dapat mempertahankan kesadaran untuk masuk ke alam ghaib Gusti Ingkang Moho Kuwaos.

Jika sudah pada tahap heneng, maka bisa disebut sumusuping rasa jati (menyusupnya rasa sejati). Hal itu bisa disimak dari tembang pangkur berikut ini:

“Tan Samar Pamoring Suksma, Sinuksmaya winahyua ingasepi, sinimpen, telenging kalbu, Pambukaning warana, Tarlen saking liyep-layaping ngaluyup, Pindha pesathing supena, Sumusuping rasa jati”

Artinya:

“Bisa melihat pamornya suksma, yang terlihat maya dan bisa dilihat didalam sepi, tersimpan dalam dasar kalbu, pembukaannya lantaran rasa yang liyep yang mirip mengantuk, seperti melesatnya rasa, menyatu dengan rasa sejati”

Namun dalam tataran sembah rasa tersebut, apabila sudah muncul rasa kantuk yang amat sangat maka hendaknya kita tetap "eling lan waspada". Artinya, jika rasa ngantuk tersebut dibiarkan, maka kita akan langsung tertidur pulas dan menggagalkan upaya untuk mendekatkan diri pada GUSTI Ingkang Akaryo Jagad.

4. Sembah Jiwa

Bagi siapa saja yang sudah bisa melakukan sembah jiwa, maka jiwa/suksma-nya dapat lepas dari raga atau jasmaninya.

Peristiwa ini dikalangan masyarakat Kejawen disebut "Ngrogo Sukmo" atau "Mati Sakjroning urip". Dalam tataran tersebut maka hubungan hamba dengan GUSTI Ingkang Akaryo Jagad sudah bisa dikatakan dekat dan yang ada hanya rasa nikmat yang tiada taranya (Manunggaling Kawulo GUSTI).

Manunggaling Kawula GUSTI  memiliki pengertian kesatuan, peleburan, dan perpaduan antara seorang hamba (Manusia) yang serba penuh kelemahan dan kekurangan dengan GUSTI (TUHAN) yang maha sempurna dan berkuasa atas segala hal.

Hanya kepada-NYA Manusia bergantung sepenuhnya, sebab TUHAN adala Dzat Yang Maha Sempurna sedangkan Manusia hanya mahluk yang lemah, maka Manusia harus berusaha mencapai tahapan yang sempurna sehingga dia akan mampu bersatu dengan TUHAN.

Manunggaling Kawulo GUSTI dalam perspektif mistis Jawa merupakan tujuan akhir dalam kehidupan Manusia. Oleh karena itu, Manusia harus bisa mengenal dan memahami tujuan akhir dari kehidupannya didunia ini.

Konsep bersatunya Manusia dengan TUHAN sering disimbolkan sebagai perpaduan wadah dengan isinya, seperti “Curigo Manjing Warongko”. Artinya antara Manusia dengan TUHAN merupakan dwi-tunggal, tidak dapat diceraikan satu dengan lainnya.

Baca juga: Keris dan Syirik

Hubungan TUHAN dengan Manusia menunjukkan pengertian yang bersifat bipolar (dua arah). Oleh karena itu, penyatuan tersebut disimbolkan sebagai “Curigo Manjing Warongko, Warongko Manjing Curigo (Keris masuk ke dalam warangka, warangka masuk ke dalam Keris).

TUHAN telah memancarkan cahaya-NYA kepada Manusia, maka Manusia harus bersifat aktif dengan berusaha mendekat dan menyatu dengan TUHAN.

Tahapan spiritual Kejawen yang terakhir dan yang tertinggi adalah makripat (makrifat), yaitu saat tujuan menyatunya hamba dengan TUHAN (Jumbuhing Kawula Lan GUSTI) sudah tercapai.

Pada tahapan ini, jiwa individu bercampur dengan jiwa universal, tindakan sudah menjadi laku (ritual) yang sepenuhnya murni, tidak perduli apapun yang dilakukan, baik sedang berjalan, bermeditasi, buang hajat, tidur, atau makan adalah bagian dari sembahyang.


Demikian sedikit informasi tentang makna sembahyang dalam ajaran Kejawen yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar dunia spiritual dan supranatural, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Makna sembahyang dalam ajaran Kejawen"

UNTUK PEMESANAN BENDA PUSAKA: