Advertisement

Pengertian tentang Ilmu Laduni

ilmu laduni
Ilustrasi

Hartalangit.com - Ilmu adalah pengetahuan yang didapatkan manusia dengan cara belajar, baik itu belajar kepada guru, belajar dari buku maupun dengan cara-cara lainnya. Pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengerti  apa-apa. Kemudian ALLAH mengajarkan berbagai macam pengetahuan dengan berbagai cara agar manusia bersyukur dan mengabdikan dirinya kepada ALLAH.


ALLAH SWT berfirman:

“Dan ALLAH mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (QS. An-Nahl: 78)

Tapi bagi sebagian orang tertentu, ilmu tidak hanya bisa didapatkan dengan cara belajar saja, karena seseorang yang dekat dengan ALLAH (kekasih ALLAH) bisa mendapatkan ilmu lansung dari ALLAH sebab hijab-hijabnya telah terbuka. Ilmu itulah yang disebut ilmu Laduni.

Ilmu Laduni adalah ilmu yang diberikan lagsung oleh ALLAH SWT kepada hamba-Nya yang shaleh, bertakwa, dan selalu berusaha membersihkan hatinya dari nafsu duniawi dan sifat-sifat tercela. Seseorang bisa mendapatkan ilmu Laduni tanpa harus belajar. Ilmu Laduni juga disebut ilmu mukasyafah, ilmu wahbi, ilmu ilham dan ilmu illahi. Sebagaimana di sebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 65:

ALLAH SWT berfirman:

“Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”. (QS. Al-Kahfi: 65)

Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Khidir AS mendapatkan ilmu Laduni langsung dari ALLAH SWT. Ilmu Laduni dalam literatur kitab-kitab salaf tidak hanya diperoleh oleh Nabi Khidir saja, karena seorang wali atau sufi juga bisa mendapatkannya.

Dalam keterangan kitab-kitab tafsir ahlussunnah wal jama’ah, ilmu Laduni bisa didapatkan oleh orang yang ta’at dan bersih hatinya. Dan ketetapan ini sudah sangat masyur karena banyak para wali dan sufi yang mendapatkannya.

Tapi pada hakikatnya, semua ilmu adalah ilmu Laduni karena semua  ilmu berasal dari ALLAH SWT. Para Malaikat-Nya pun berkata:

“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami”. (QS. Al-Baqarah: 32)

Secara umum ilmu terbagi menjadi dua bagian, yaitu ilmu yang didapat dengan usaha (belajar) seperti berguru, membaca, mendengar, meneliti, berpikir atau dengan usaha lainnya (kasbiy) dan ilmu yang didapat tanpa belajar (wahbiy).

- Ilmu syariat

Ilmu syariat yaitu ilmu tentang perintah dan larangan ALLAH yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul melalui wahyu (wahyu tasyri’), baik yang diberikan secara langsung dari ALLAH maupun yang melalui perantara Malaikat Jibril. Jadi semua wahyu yang diterima oleh para Nabi dari mulai Nabi Adam AS sampai pada Nabi Muhammad SAW adalah ilmu Laduni, termasuk yang diterima oleh Nabi Musa dari Nabi Khidhir.

Dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidir AS berkata kepada Nabi Musa AS:

“Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari ilmu ALLAH yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya. Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu ALLAH yang Dia ajarkan kepadamu yang aku pun tidak mengetahuinya”.

Ibnu Hajar Al-Haitami menyampaikan bahwa dalam Risalah Al-Qusyairiyyah dan Awarif Al-Awarif (As-Suhrawardi) tentang wali yang mendapatkan berita ghaib sangatlah banyak. Beliau juga menuturkan bahwa mengetahui ilmu ghaib merupakan sebagian dari karomah. Mereka bisa memperoleh dengan cara dikhitbah-i (sabda) secara langsung, dibukannya hijab (kasyf) dan dibukakannya kepada mereka lauhul mahfudz sehingga dapat mengetahuinya.

Adapun bukti bahwa ilmu tersebut bisa diperoleh oleh hamba yang bersih dan ta’at ada dalam beberapa ayat didalam Al-Qur’an, antara lain:

“Dan (ALLAH) telah mengajari dirimu (Muhammad) ilmu yang engkau tidak mengetahuinya”. (QS. An-Nisa’: 113)

“Sesungguhnya dia (Ya’qub) adalah orang yang mempunyai ilmu, karena Kami telah mengajarinya”. (QS. Yusuf: 68)

Hadis riwayat Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam hilyah al-Auliya’ dari Anas:

“Barang siapa mengamalkan apa yang ia ketahui, maka ALLAH akan memberinya ilmu yang dia tidak ketahui”.

Ibnu Hajar al-Haitami pernah di tanya tentang hadis itu dan beliau menjawab:

“Sesuai apa yang dikatakan Izzudin bin Abdissalam bahwa sesungguhnya orang yang mau mengamalkan apa yang dia ketahui baik wajib syar’i atau sunnah atau menjauhi makruh dan haram, maka ALLAH akan memberinya ilmu illahi yang sebelumnya dia tidak mengetahuinya”.

- Ilmu ma’rifat (hakikat)

Ilmu ma’rifat yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham/terbukanya tabir ghaib) atau ru’yah (mimpi) yang diberikan oleh ALLAH kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin dan shaleh. Ilmu  kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan ilmu Laduni. Di kalangan ahli tasawwuf, sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau di amalkan jika bertentangan dengan ilmu syariat yang sudah termaktub didalam mushaf Al-Qur’an maupun kitab-kitab hadits.

Dari ketiga ilmu tersebut, yaitu syariat, ma’rifat dan kasb, yang  paling utama adalah ilmu syari’at karena bersumber dari wahyu. Ilmu kasyf dan ilmu kasb tidak di anggap jika menyalahi syariat. Anggapan bahwa dengan ilmu Laduni sudah mencakup semuanya adalah kebodohan dan kekufuran. Seluruh ulama Ahlussunnah termasuk Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Setiap hakikat yang tidak disaksikan (di syahkan) oleh syariat adalah zindiq (sesat)”. Ilmu syariat sifatnya mutlak kebenarannya, wajib untuk dipelajari dan di amalkan oleh setiap muslim yang telah baligh sampai tiba ajalnya. Itulah hakikat pengertian ilmu Laduni didalam Islam.

Baca juga:



Demikian sedikit informasi tentang pengertian ilmu Laduni yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar Dunia Spiritual dan Supranatural, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Pengertian tentang Ilmu Laduni"

UNTUK PEMESANAN BENDA PUSAKA: