Advertisement

Hari yang baik untuk memberi sesaji Keris pusaka

gambar sesaji untuk keris pusaka
Ilustrasi
Hartalangit.com – Keris merupakan benda pusaka yang memiliki makna tentang nilai-nilai kehidupan dan sarat muatan spiritual yang disimbolkan dengan nama dhapur, ricikan dan juga pamornya.

Keris dianggap sebagai pertemuan antara Bopo Angkoso (batu meteor yang jatuh dari langit) dengan Ibu Pertiwi (pasir besi dari bumi) dan menjadi simbol bersatunya hamba dengan TUHAN (Curigo manjing warongko jumbuhing kawula lan Gusti).

Karena di anggap sebagai benda keramat yang syarat akan makna dan dibuat melalui serangkaian laku tirakat, ritual dan doa, maka Keris seringkali diperlakukan lebih istimewa dibanding senjata-senjata tradisional lainnya karena Keris di anggap memiliki jiwa yang merupakan manifestasi dari doa-doa atau mantra-mantra yang dipanjatkan oleh sang Empu sebagai bentuk pengharapan kepada Sang Pencipta.


Keris memang tidak lepas dari nilai-nilai spiritual karena pada awalnya Keris memang sengaja diciptakan untuk tujuan-tujuan besar, dan tentu saja untuk tujuan yang baik sehingga Keris diyakini memiliki tuah yang dapat membantu pemiliknya untuk berbagai macam tujuan.

Karena di anggap sebagai benda bertuah yang memiliki kekuatan ghaib, maka Keris sering diberi sesaji dengan tujuan untuk memelihara atau menjaga kekuatan ghaib Keris agar tetap aktif.

Pemberian sesaji untuk Keris pusaka biasanya dilakukan pada hari-hari tertentu yang di anggap sebagai hari baik. Meskipun sebetulnya ada makna lain dari pemberian sesaji tersebut.

Berikut ini beberapa ritual yang sering dilakukan untuk merawat fisik dan ghaib Keris:

1. Ritual jamasan pusaka

Ritual jamasan pusaka biasanya dilakukan satu tahun sekali pada bulan suro menurut penanggalan Jawa. Pada malam 1 Suro Keris dan benda-benda pusaka lainnya akan dikeluarkan dari tempat penyimpanannya dan akan dibersihkan atau disucikan dengan cara dimandikan/dicuci menggunakan air kembang 7 rupa (kembang setaman) disertai dengan ritual-ritual pembacaan doa oleh orang yang ahli dalam menjamas Keris pusaka.

Ritual jamasan pusaka pada dasarnya bertujuan untuk membersihkan/menyingkirkan daya magis susulan (energi negatif) yang mungkin terinduksi ke dalam Keris pusaka.

Ketika daya-daya magis yang tidak di inginkan tersebut sudah hilang, maka yang ada pada Keris pusaka adalah daya magis asli yang dimasukkan oleh Empu pembuatnya dan Keris akan kembali pada fungsi awalnya.

Tapi makna sesungguhnya dari ritual jamasan pusaka adalah sebuah simbol pembersihan diri Manusia (pemilik Keris) agar menjadi pribadi yang lebih baik ditahun-tahun berikutnya.


2. Ritual mengkutugi Keris

Ritual mengkutugi Keris atau mengasapi Keris dengan asap kemenyan biasanya akan dilakukan oleh pengagem/pemilik Keris pada waktu-waktu tertentu seperti pada malam jumat kliwon, selasa kliwon, pada malam kelahiran (weton) pemilik Keris, atau pada saat akan menggunakan kekuatan Keris tersebut untuk tujuan-tujuan tertentu.

Ritual ini diyakini dapat menambah power Keris menjadi semakin kuat sehingga tuah atau daya magis yang terpancar dari Keris tersebut dapat dirasakan oleh pemilik Keris.

Bahkan ghaib Keris yang sering dikutugi asap kemenyan bisa berkomunikasi dengan pemilik Keris untuk memberi petunjuk atau wangsit, baik melalui mimpi atau secara langsung.


3. Ritual pemberian sesaji

Sesaji yang paling umum untuk Keris pusaka adalah kembang telon (3 macam kembang) atau kembang setaman (7 macam kembang), kopi pahit, minyak pusaka dan kemenyan madu. Tapi ada juga yang menggunakan sesaji lain seperti kelapa hijau, jajanan pasar, rokok, dan ubo rampe lainnya tergantung permintaan dari ghaib/khodam Keris.

Sesaji atau sajen tersebut biasanya diberikan pada hari-hari tertentu yang menurut tradisi Jawa dipercaya sebagai hari baik. Adapun pelaksanaan ritual pemberian sesaji biasanya dilakukan setelah matahari terbenam (selepas maghrib).


Berikut ini hari-hari yang diyakini sebagai hari baik untuk memberi sesaji Keris pusaka menurut tradisi masyarakat Jawa:

1. Malam jumat legi

Malam jumat legi dalam hitungan Jawa di anggap sebagai hari yang baik karena neptunya berjumlah 11 (Jumat: 6 dan Legi: 5), jadi jika dijumlahkan menjadi 11. Angka 11 dalam tradisi Jawa disebut “sewelas” yang bermakna “kawelasan” sebagai simbol pengharapan akan belas kasih TUHAN (kawelasaning Gusti).

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, malam Jumat legi adalah waktu yang paling tepat untuk memohon sesuatu kepada TUHAN karena diyakini doa-doa dan permohonan yang dipanjatkan pada malam jumat legi akan dikabulkan oleh TUHAN.

Malam jumat legi di anggap baik untuk memberi sesaji untuk Keris pusaka karena Keris merupakan simbolisasi doa dan harapan dari pemilik Keris, sedangkan sesaji sesungguhnya memiliki makna dan muatan spiritual.

2. Malam jumat kliwon

Malam Jumat kliwon di anggap sebagai malam yang keramat oleh sebagian masyarakat, terutama oleh masyarakat Jawa, karena pada malam tersebut batas antara dimensi alam nyata dan alam astral terbuka. Malam jumat kliwon di anggap sebagai malam terbaik untuk memberikan sesaji pada Keris pusaka karena dipercaya dapat menambah daya ghaibnya.


3. Malam selasa kliwon

Malam selasa kliwon adalah malam Anggoro Kasih. Masyarakat Jawa percaya bahwa pada malam ini cinta kasih TUHAN tercurahkan kepada Manusia. Malam selasa kliwon diyakini sebagai malam yang baik untuk memohon cinta kasih TUHAN dalam bentuk pertolongan maupun perlindungan.

Anggapan sebagian masyarakat bahwa malam selasa kliwon dan jumat kliwon adalah malam yang angker adalah cara dari para leluhur kita agar orang-orang tidak keluar rumah pada malam tersebut dan lebih banyak manekung, maneges, lan manembah marang Gusti karena pada malam tersebut cinta kasih TUHAN tercurah untuk Manusia.

Anggoro Kasih berarti tumbuhnya/munculnya cinta sehingga pada malam selasa kliwon merupakan malam yang paling baik untuk menghayati betapa TUHAN selalu welas asih pada setiap mahluk-NYA.

Keris pusaka yang memiliki tuah untuk pengasihan seperti Keris Jaran Guyang, Keris Sepang dan Keris Jalak Nyucup madu sebaiknya diberi sesaji/sesajen pada malam selasa kliwon agar aura pengasihan yang dipancarkan semakin kuat.


4. Malam kelahiran (weton) pemilik Keris

Para pengagem atau pemilik Keris pusaka dari golongan priyayi Jawa pada jaman dahulu biasanya akan memberikan sesaji untuk Keris-Keris andalannya pada malam kelahiran (weton). Hal ini dilakukan dengan tujuan agar daya magis dari Keris pusaka dapat menyatu atau selaras dengan pemiliknya (manunggal roso).

Masyarakat Jawa meyakini jika Keris pusaka diberikan sesaji/sasajen secara rutin pada malam kelahiran (weton) pemiliknya, maka kekuatan ghaibnya akan menyatu dan selaras dengan pemiliknya.

5. Malam 1 suro

Malam 1 suro adalah malam yang di anggap paling keramat oleh masyarakat Jawa khususnya yang masih menganut paham Kejawen. Malam 1 suro adalah malam pergantian tahun yang harus dipahami sebagai malam perenungan dan mawas diri serta untuk memohon kepada TUHAN agar bisa memiliki kehidupan yang lebih baik ditahun-tahun yang akan datang.

Oleh karena itu, dalam tradisi masyarakat Jawa pada malam 1 suro lebih banyak digunakan untuk melakukan tirakat dan ritual-ritual yang sifatnya untuk pembersihan/penyucian diri, termasuk ritual jamasan pusaka.


Demikian sedikit informasi tentang hari baik untuk memberi sesaji Keris pusaka yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar benda-benda pusaka dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Hari yang baik untuk memberi sesaji Keris pusaka"

UNTUK PEMESANAN BENDA PUSAKA: