Advertisement

Mitos tentang Naga dalam tradisi masyarakat Jawa

gambar naga
Ilustrasi Wujud Naga

Hartalangit.com – Naga Jawa digambarkan sebagai sosok ular raksasa yang tidak memiliki kaki dan memakai mahkota (badhong) dan terkadang juga memakai perhiasan anting serta kalung emas. Naga Jawa dipercaya sebagai perwujudan mahluk suci dari dimensi lain yang memiliki kesaktian dan memiliki sifat menjaga, mengayomi dan melindungi.

Wujud Naga juga sering dijadikan sebagai ornamen pada bangunan-bangunan seperti candi dan juga pada benda-benda pusaka seperti Keris, Tobak, Pedang, Tongkat dan lainnya sebagai simbol kekuatan, penjagaan, kewibawaan, dan kekuasaan.


Dalam cerita pewayangan juga ada tokoh berwujud Naga bernama Sang Hyang Naga Antaboga atau Anantaboga yang konon merupakan Dewa penjaga perut bumi yang mendiami bumi lapisan ke tujuh atau dikenal dengan Sapta Pratala. Sang Hyang Antaboga memiliki putri bernama Nagagini atau Dewi ular.

Walaupun berada didalam bumi, tapi istana Sang Hyang Antaboga tidak berbeda dengan istana para Dewa di Suralaya yang sangat indah.

Dalam kisah pewayangan, Sang Hyang Antaboga diceritakan berhasil menyelamatkan para Pandawa dalam sebuah pesta ditengah hutan dengan membuat terowongan dari Kahyangan Sapta Pratala sampai Balai Sigalagala dengan menyamar sebagai luwak (garangan) berwarna putih.

Setelah para Pandawa berada di Kahyangan Sapta Pratala, dikisahkan Nagagini dan Bima saling jatuh cinta, kemudian keduanya dikawinkan oleh Sang Hyang Antaboga. Dari hasil perkawinan itu lahirlah Antareja.

Nagagini digambarkan berwujud seperti Manusia biasa dengan paras yang cantik jelita. Tapi karena memiliki darah keturunan ular, maka dalam keadaan tertentu, terutama pada saat marah Nagagini dapat berubah wujud menjadi ular Naga yang menyeramkan.

Bagi masyarakat Jawa, Naga juga dipercaya sebagai mahluk mitologi yang menjelma ke dalam nama-nama hari, bulan, dan tahun. Seperti makhluk hidup, Naga juga membutuhkan makan, dan untuk mendapatkan makanan, Naga bergerak menuju empat penjuru mata angin.

Dari kepercayaan itulah masyarakat Jawa akan menghindari salah satu arah mata angin tempat dimana Naga berada. Tujuannya untuk menghindarkan diri agar tidak menjadi makanan Naga atau disebut dengan istilah “caplok Nogo” yang bermakna kesialan atau musibah seperti kematian, kecelakaan, sakit, kegagalan dan sebagainya.

Masyarakat Jawa akan memilih hari dan bulan baik ketika akan melaksanakan hajat-hajat besar seperti pernikahan, membangun rumah, atau membuka tempat usaha agar tidak “caplok Nogo”.


Sebutan bagi Naga juga disesuaikan dengan keberadaan dan tempat Naga berada. Ada Naga tahun, Naga Jatingarang, Naga pembawa bahaya, Naga larangan (pantangan), Naga pangkalan (halangan), dan Naga pasaran (tiap hari pasaran).

Salah satu yang menjadi pertimbangan masyarakat Jawa, terutama sebelum melaksanakan suatu hajatan adalah memperhitungkan keberadaan Naga Tahun. Kepercayaan ini telah ada sejak jaman dahulu dan dilestarikan secara turun temurun hingga sekarang, terutama pengetahuan Naga tahun yang penting untuk diketahui sebelum pelaksanaan prosesi pernikahan.

Naga digambarkan sangat besar dan keberadaannya yang melingkar memenuhi seluruh perut bumi, sehingga setiap 3 bulan sekali Naga akan berpindah keempat penjuru mata angin. Maka untuk menghindari kesialan atau bencana, masyarakat Jawa akan menghindari pelaksanaan hajatan besar, terutama jika bertepatan dengan keberadaan arah kepala Naga.

Pada tradisi temu manten, Naga tahun juga menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat Jawa sehingga jika waktu yang akan dijadikan sebagai waktu temu manten ternyata sedang ditempati kepala Naga, maka pernikahan akan ditunda sampai menemukan waktu yang tidak sedang ditempati kepala Naga agar tidak terjadi hal-hal buruk yang tidak di inginkan.

Kepercayaan perhitungan Naga tahun tidak hanya berlaku pada acara pernikahan saja, tapi juga berlaku dalam membangun rumah, pindah rumah, membuka usaha, atau hajatan-hajatan lainnya.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, hajatan atau acara-acara besar akan dilakukan setelah menentukan arah yang baik, yaitu suatu arah yang tidak bertepatan dengan keberadaan kepala Naga atau biasa disebut Naga tahun.

Dalam satu tahun kehadiran, Naga tahun dibagi menjadi empat kelompok bulan, yaitu:
- Pada bulan suro, sapar, dan mulud, letak kepala Naga berada di timur.
- Pada bulan ba’do Mulud, jumadil awal, dan jumadil akhir, letak kepala Naga berada di selatan.
- Pada bulan rejeb, ruah, dan poso, kepala Naga berada di barat.
- Pada bulan sawal, selo, dan besar, kepala Naga berada di utara.

Penerapannya dapat dilakukan sebelum melangsungkan hajatan temu manten. Jika hajatan dilakukan dibulan mulud, sementara tempat tinggal atau tempat temu manten mempelai berada di arah timur, maka hajatan harus ditunda sampai Naga bergeser ke arah lain. Sebab pada bulan ba’do mulud, jumadil awal, dan jumadil akhir, kepala Naga sedang berada di arah timur.

Pemilihan hari dan bulan untuk melakukan suatu hajatan merupakan hal yang sangat penting bagi orang Jawa sebagai usaha untuk menghindari malapetaka, bencana, atau kegagalan dalam suatu usaha karena bagi masyarakat Jawa, dunia tidak hanya seperti yang tampak saja, bahkan keberadaan dunia yang tidak tampak memiliki pengaruh besar bagi kehidupan orang Jawa.

Oleh karena itulah, leluhur orang Jawa mengajarkan perlunya menjaga keselarasan kehidupan dengan beragam kekuatan diluar dirinya. Melalui kepercayaan atas mitologi Naga tahun, Manusia Jawa meyakini bahwa dirinya merupakan bagian dari cosmos, bukan pusat dari segala yang ada.


Demikian sedikit informasi tentang mitos tentang Naga dalam kepercayaan masyarakat Jawa yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar dunia spiritual dan supranatural, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

0 Response to "Mitos tentang Naga dalam tradisi masyarakat Jawa"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Untuk Pemesanan Benda Pusaka, Call/Sms: 0858-7027-7889 atau Chat via WA: