Advertisement

Misteri Kesakralan Malam 1 Suro

gambar suasana malam satu suro
Ilustrasi
Hartalangit.com – Sebagian Masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa memaknai malam satu suro yang bertepatan dengan tahun baru Islam (1 Muharam) sebagai malam paling sakral yang penuh aura mistis.

Oleh karena itulah kemudian banyak beredar mitos-mitos seputar pantangan melakukan aktivitas-aktivitas tertentu di bulan Suro. Hal itu sebetulnya bertujuan agar pada malam tahun baru (malam 1 Suro) lebih banyak digunakan untuk melakukan perenungan dan berdoa.

Pada malam satu Suro, masyarakat Jawa akan melakukan ritual-ritual tertentu sebagai simbol pembersihan diri, misalnya saja mandi bersama di sungai sebagai untuk “membersihkan diri” dari aura negatif dan bersiap untuk menyambut  tahun baru yang lebih baik.

Selain itu, kegiatan seperti lek-lekan (tidak tidur semalaman), tudurani (perenungan diri sambil berdoa), tirakatan (puasa) hingga selamatan dengan menyajikan aneka sesaji juga sering dilakukan.

Tempat-tempat yang dianggap sakral, seperti gunung atau petilasan-petilasan keramat juga akan ramai dikunjungi sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Kegiatan lainnya yang rutin dilakukan setiap tahun pada malam satu Suro dan menjadi agenda wajib masyarakat Jawa, terutama kalangan Keraton adalah ritual jamasan pusaka.


Kegiatan-kegiatan tersebut sebetulnya memiliki makna spiritual yang sangat dalam sebagai simbol pembersihan diri dan pengharapan agar dapat memiliki kehidupan yang lebih baik di tahun yang akan datang.

Tapi sayangnya, malam satu Suro justru lebih banyak dimaknai sebagai malam yang angker dan berbau klenik. Padahal sebetulnya semua ritual-ritual yang sering dilakukan pada malam satu Suro memiliki muatan spiritual yang sangat dalam.

Lingkungan Keraton sebetulnya memaknai malam satu Suro sebagai malam yang suci atau bulan yang penuh rahmat, sehingga pada malam tersebut banyak dilakukan kegiatan-kegiatan untuk mendekatkan diri kepada TUHAN dengan membersihkan diri dari segala godaan hawa nafsu. Contohnya dengan melakukan tirakat dan lelaku atau perenungan diri.

Kesan negatif malam satu Suro merupakan imbas dari politik kebudayaan dari Sultan Agung pada masa Kerajaan Mataram (tahun 1628 - 1629). Saat itu Mataram mengalami kekalahan dalam penyerbuan ke Batavia yang akhirnya membuat Sultan Agung melakukan evaluasi.


Setelah penyerbuan itu, pasukan Mataram yang menyerang Batavia telah terbagi menjadi beberapa keyakinan seiring semakin masifnya ajaran Islam di tanah Jawa.

Kondisi tersebut akhirnya membuat pasukan Mataram tidak solid, dan untuk merangkul semua golongan yang terbelah, maka Sultan Agung menciptakan kalender Jawa - Islam dengan pembauran atau penggabungan dari kalender Saka (Hindu) dan kalender Hijriyah (Islam).

Alasan Sultan Agung Menciptakan Tahun Jawa Islam adalah karena ada satu peristiwa sejarah yang membuat Sultan Agung miris dan sedih, yaitu kekalahan pasukan Mataram dalam dua kali penyerbuan ke Batavia.

Akhirnya, Sultan Agung menciptakan tahun baru yang menggabungkan antara tahun Saka (Hindu) dan tahun Hijriyah (Islam) dengan harapan bahwa berubahnya konsep terdahulu akan membuat semua kepedihan itu hilang.

Sultan Agung juga mencanangkan pada malam tahun baru untuk prihatin, tidak berbuat sesuka hati dan tidak boleh berpesta pora. Masyarakat harus lebih banyak menyepi, bertapa, dan berdoa kepada TUHAN.

Pada malam tahun baru (malam 1 Suro), juga banyak dilakukan ritual-ritual untuk menghormati leluhur dan melakukan jamasan pusaka seiring dengan kehidupan spiritual yang disucikan kembali.

Dari situlah kemudian membuat masyarakat  Jawa meyakini bahwa malam satu Suro merupakan malam yang sangat sakral dan merupakan malam terbukanya batas antara alam ghaib dan alam nyata.


Demikian sedikit informasi tentang mitos dan misteri malam 1 Suro yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar dunia spiritual dan supranatural, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Misteri Kesakralan Malam 1 Suro"

UNTUK PEMESANAN BENDA PUSAKA: