Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Advertisement

Keutamaan kalimat la haula wala quwwata illa billah dan cara mengamalkannya

gambar kaligrafi la haula wala quwwata illa billah
Ilustrasi
Hartalangit.com – Kalimat “La haula wala quwwata illa billahil 'aliyyil adzim” memiliki arti “Tidak daya dan upaya kecuali dengan kekuatan ALLAH yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

Kalimat hauqalah bermakna tentang penyerahan diri atas segala urusan kepada ALLAH SWT karena tiada daya dan upaya yang bisa dilakukan Manusia kecuali atas kehendak dan kekuasaan ALLAH semata.

Selain menunjukkan permohonan pertolongan kepada ALLAH, kalimat la haula wala quwwata illa billah juga menjadi sarana untuk mendapatkan kemuliaan dan keselamatan atas pertolongan-NYA.

Syekh Muhammad Asyraf bin Amir Syaraful Haq As-Siddiqi (wafat 1329 H) mengatakan, yang dimaksud simpanan (kanzun) pada hadits di atas adalah pahala yang oleh ALLAH disimpan didalam surga yang kelak di akhirat akan diberikan kepada orang-orang yang membaca kalimat la haula wala quwwata illa billah atau bisa juga di artikan sebagai barang surga yang sangat indah yang sudah dipersiapkan oleh ALLAH untuk orang-orang yang membacanya.

Adanya hadits ini menjadikan umat Islam sangat semangat untuk membaca kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah, dan menjadikannya sebagai wirid yang di amalkan secara istiqomah.


Dibalik kemasyhuran kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah terdapat ragam penafsiran dari para ulama. Penafsiran tersebut disampaikan satu persatu oleh Syekh Abul ‘Ala Al-Mubarakfuri (wafat 1353 H) dalam salah satu kitabnya Tuhfatul Ahwadzi. Di antaranya sebagaimana penafsiran yang disampaikan oleh Imam Nawawi:

“Kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah adalah kalimat yang penuh kepatuhan dan kepasrahan diri (kepada ALLAH), dan sungguh seorang hamba tidak memiliki urusannya sedikit-pun, ia tidak memiliki daya untuk menolak keburukan dan tidak memiliki kekuatan untuk menarik kebaikan kecuali dengan kehendak ALLAH SWT”.

Masih dalam referensi yang sama, Syekh Al-Mubarakfuri mengutip salah satu pendapat ulama, bahwa kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah memiliki makna tidak ada daya dalam menolak semua kejelekan dan tidak ada upaya untuk menarik kebaikan.

Pendapat lain juga mengatakan, bahwa maknanya adalah tidak ada daya untuk menghindar dari bermaksiat kepada ALLAH dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kepada-NYA kecuali atas pertolongan-NYA.

Menurut Al-Hafidh Muhammad bin ‘Abdurrauf Al-Munawi (wafat 1031), dalam kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah terdapat pengakuan berlepasnya diri dari daya dan kekuatan dirinya sendiri, kemudian menyandarkan daya dan kekuatan hanya kepada kehendak ALLAH SWT.

Artinya, seorang hamba menganggap dirinya tidak bisa melakukan apaun tanpa disertai pertolongan ALLAH SWT. Ini merupakan prinsip tauhid yang sebenarnya, yaitu menyandarkan semua urusan kepada ALLAH semata”.

Begitu juga menurut Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani yang tidak jauh berbeda dengan beberapa makna yang telah disebutkan sebelumnya. Menurut beliau, makna kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah adalah tidak ada yang memiliki daya untuk bisa menghindar dari maksiat kecuali dengan adanya penjagaan dari ALLAH, dan tidak ada yang memiliki kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali mendapatkan taufiq dari ALLAH SWT.


Sayyid Muhammad bin ‘Ali Ba Alawi (wafat 960 H) dalam salah satu kitabnya menjabarkan artinya dengan lebih detail. Menurut beliau, yang maksud memasrahkan semua urusan kepada ALLAH adalah orang tidak lagi meragukan keadaan dan urusannya, ia percaya penuh bahwa semuanya terserah kehendak ALLAH mau dibagaimanakan. Termasuk urusan rezeki seluruh makhluk didunia ini sudah di atur dan dijamin oleh ALLAH.

Gambaran yang tepat adalah sebagaimana tingkat kepercayaan burung pada rezekinya. Burung menjalankan kehidupan sehari-harinya tanpa perencanaan, semua makanan yang dimilikinya akan dihabiskan saat itu juga tanpa berpikir tentang makanan selanjutnya.

Artinya, sebisa mungkin tingkat kepercayaan Manusia terhadap rezekinya bisa sama dengan kepercayaan burung yang tidak pernah mengkhawatirkan atas rezekinya. Inilah makna sebenarnya yang terkandung dalam kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah.

Mengutip sabda Rasulullah SAW, barang siapa yang membaca kalimat la haula wala quwaata illa billah atau hauqalah maka dia akan mendapatkan jaminan surga kelak di akhirat. Namun, bacaan ini tidak hanya tentang pahala dan surga, kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah juga dapat menjadi tameng untuk membentengi diri dari bebrbagai hal yang membahayakan.

Al-Hafidh Abdurrahman Al-Munawi (wafat 1031 H) menuturkan, suatu saat sahabat Jabir RA mengadu kepada Rasulullah SAW atas suatu kejadian yang menimpa dirinya. Kemudian Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk memperbanyak membaca kalimat la haula wala quwwata illa billah karena dapat menolak segala pintu kejelekan.

Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah dari (membaca) la haula wala quwata illa billah karena sesungguhnya ia bisa menolak sembilan puluh sembilan pintu dari beberapa pintu kejelekan, dan yang paling ringan darinya adalah kesusahan”. (HR Al-‘Uqaili. Dha’if)


Menurut Al-Hafidh Al-Munawi, makna kejelekan pada hadits tersebut tidak hanya sebatas hanya sesuatu yang membayakan diri sendiri, tapi mencakup jeleknya etika, kesulitan dan kefakiran. Dengan kata lain, ALLAH akan menyelamatkan dan menjauhkan orang-orang yang membaca la haula wala quwwata illa billah dari hal-hal yang buruk.

Sayyid Muhammad bin ‘Ali Ba Alawi Al-Husaini At-Tarimi mengutip pendapat Imam Al-Barmawi (wafat 831 H), bahwa dibalik kalimat la haula wala quwwata illa billah terdapat faedah yang sangat besar, yaitu terpenuhinya segala hajat.

Dalam kitabnya disebutkan: “Imam Al-Barmawi berkata: Orang membaca la haula wala quwwata illa billah setiap hari sebanyak 500 kali dan diniati untuk sebuah hajat maka akan dipenuhi. Jika orang yang membaca kalimat haqaulah dalam keadaan dipenjara / ditahan maka akan lepas, dan sesungguhnya kalimat tersebut bisa membuka kejadian yang masih samar dan takdir mubram (takdir yang tidak bisa diubah)”. (Muhammad bin ‘Ali, Al-Wasa-ilusy Syafi’ah - halaman 53).

Kalimat hauqalah adalah kalimat yang agung dimana artinya menunjukkan penyerahan diri secara penuh dan keikhlasan atas apa yang di alami oleh Manusia adalah semata mata karena ALLAH SWT.

Ada berapa keutamaan yang terkandung di dalam kalimat la haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil azhim, Syekh M Nawawi Al-Bantani menyebutkan beberapa keutamaan kalimat hauqalah yang dikuitp dari hadits riwayat Ibnu Abid Dunya perihal orang yang secara istiqomah mengamalkan dzikir la haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil adzim.

“Salah satu keistimewaan lafal hauqalah adalah apa yang disebutkan didalam Fawaidus Syarji, yaitu hadits riwayat Ibnu Abid Dunya dengan sanad tersambung hingga Rasulullah SAW bahwa ia rindu, “Siapa saja yang membaca la haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil adzim setiap hari sebanyak 100 kali maka ia selamanya tidak akan pernah ditimpa oleh kefakiran”. (Syekh M Nawawi Banten)

Syekh M Nawawi Banten juga mengutip hadits yang menjelaskan keutamaan kalimat la haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil adzim. Menurut beliau, kalimat hauqalah merupakan kalimat yang baik dibaca ketika seseorang tengah dirundung kesulitan dan kebuntuan.

“Diriwayatkan didalam hadits juga bahwa bila kebimbangan hinggap dihati seseorang lalu ia membaca la haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil adzim sebanyak 300 kali maka ALLAH akan membukakan jalan keluarnya, maksudnya ALLAH akan mengurangi beban kesulitannya. Hal ini disebutkan oleh guru kami, Syekh Yusuf dalam Hasyiyah Mi'raj-nya”. (Syekh M Nawawi Banten)


Berikut ini fadhilah dan keutamaan kalimat hauqolah:

1. Untuk Memohon Pertolongan ALLAH

Kalimat hauqolah dapat dijadikan wirid untuk memohon pertolongan ALLAH. Orang yang senantiasa mengamalkan dzikir la haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil adzim secara istiqomah akan mendapatkan pertolongan dan penjagaan dari ALLAH.

Oleh karena itu, bagi orang yang hendak keluar rumah hendaknya membaca doa: “Bismillahi tawakkaltu 'alallahi la haula wa laa quwwata illa billah” agar mendapatkan kecukupan, perlindungan, petunjuk dan setan akan lari menjauh darinya”. (Hadits Shohih Riwayat Abu Dawud No. 5095 & At-Tirmidzi No. 3426)

2. Pengakuan Terhadap Keesaan ALLAH

Kalimat hauqalah bermakna pengakuan terhadap Rububiyyah ALLAH Azza Wa Jalla dan bahwasanya hanya DIA semata yang menciptakan dan menguasai alam semesta.

ALLAH yang mengatur segalanya dan melakukan segala sesuatu dengan penuh hikmah dibawah kehendak-NYA. Tidak ada sesuatu yang terjadi dimuka bumi ini kecuali atas izin-NYA.

Oleh karena itu, dengan mengucapkan kalimat hauqalah berarti kita telah berikrar bahwa segala hal dan perkara tidak lain adalah ada ditangan ALLAH SWT.

Sejatinya kita tidak memiliki kuasa apapun atas sesuatu, tiada pula daya dan kekuatan kecuali atas seizin ALLAH. Oleh karena itu, sebagai Manusia hendaknya kita senantiasa menyandarkan diri dan memohon pertolongan hanya kepada ALLAH semata.


3. Menguatkan Iman

Kalimat hauqalah mengandung keimanan kepada takdir ALLAH SWT sebab didalamnya terkandung sikap pasrah dan berserah diri kepada ALLAH semata dan keyakinan bahwa segala urusan hanya terjadi dengan izin-NYA.

4. Pengakuan Atas Kekuasaan ALLAH

Orang yang mengucapkan la haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil adzim berarti mengakui bahwa ALLAH adalah tempat bersandar yang tidak membutuhkan siapapun.

Kalimat haqaulah merupakan pengakuan seorang hamba yang mengakui bahwa dirinya begitu lemah, tidak memiliki daya dan kekuatan untuk melakukan sesuatu kecuali hanya dengan pertolongan ALLAH.

Kendati sudah jelas tentang arti dan makna hauqalah tapi masih terdapat kesalahpahaman tentang kalimat hauqalah. Hal ini terutama jika dilihat dari lafadznya itu sendiri maupun dari segi penggunaannya.

Ada sebagian kalangan yang menjadikan kalimat hauqalah sebagai kalimat berkeluh kesah ketika terjadi musibah (istirja') sebagaimana yang terjadi ketika kita mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un”. Mereka beranggapan bahwa kalimat hauqolah adalah doa yang dibaca ketika mengalami musibah sebagai bentuk keluh kesah, bukan untuk bersabar.

Pada suatu waktu, Syaikh Al-Utsaimin Rahimahullah pernah ditanya tentang fenomena ini lalu beliau menjawab: “Sepertinya yang mereka inginkan adalah ucapan la haula wa la quwwata illa billah, tapi salah dalam mengungkapkan. Adapun yang wajib adalah kembali kepada lafadz yang sebenarnya”.

Lafadz hauqalah adalah istilah dari kalimat “laa haula wa laa quwwata illa billah”. Lafadz ini bermakna tentang penyerahan diri atas segala urusan kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala. Tiada daya dan upaya yang bisa dilakukan Manusia kecuali atas kehendak dan kekuasaan-NYA.


Demikian sedikit informasi tentang fadhilah la haula wala quwwata illa billah dan cara mengamalkannya yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar doa dan amalan dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Keutamaan kalimat la haula wala quwwata illa billah dan cara mengamalkannya"

UNTUK PEMESANAN BENDA PUSAKA: