Advertisement

Misteri dan Mitos Pesugihan Bulus Jimbung Klaten

foto sendang jimbung - klaten - jawa tengah
Sendang Jimbung

Hartalangit.com – Pesugihan adalah cara instan yang sering dilakukan oleh orang-orang yang gelap mata untuk mencari kekayaan dengan cara-cara yang menyimpang. Biasanya para pelaku pesugihan akan melakukan ritual-ritual tertentu dan harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan.

Di Indonesia ada banyak sekali tempat-tempat keramat yang dipercaya sebagai lokasi untuk mencari pesugihan, dari mulai gunung, goa, sendang atau tempat-tempat lainnya. Salah satunya yang akan dibahas pada artikel kali ini adalah Sendang Jimbung yang terletak di Desa Jimbung - Kecamatan Kalikotes - Kabupaten Kalaten - Jawa Tengah.

Sendang Jimbung sebetulnya sama saja seperti sumber air pada umumnya yang biasa dimanfaatkan airnya oleh warga setempat untuk keperluan sehari-hari, baik untuk keperluan rumah tangga maupun untuk irigasi lahan pertanian.

Sumber mata air di Sendang Jimbung berupa dua kolam yang terpisah dan dipinggirnya terdapat dua pohon besar yang sudah berusia ratusan tahun sehingga membuat suasana tempat tersebut menjadi terkesan wingit.

Konon Sendang Jimbung dihuni oleh siluman Bulus Putih bernama Ki Poleng yang sangat disakralkan oleh masyarakat setempat. Hal itu tentunya tidak terlepas dari mitos yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Bulus Jimbung.


Mitos dan Asal-Usul Pesugihan Bulus Jimbung:

foto penampakan bulus putih sendang jimbung
Ilustrasi Bulus Jimbung

Konon asal-usul Bulus Jimbung berawal dari Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah yang mencapai puncak kejayaannya pada tahun 674 M saat dipimpin oleh Ratu Sima.

Ratu Sima dikenal sebagai seorang pemimpin yang sangat adil dan bijaksana tapi sayangnya hanya bertahta sebentar di Kerajaan Kalingga. Ratu Sima meninggal dunia pada usia kurang dari enam puluh tahun.

Sepeninggal Ratu Sima, tampuk kekuasaan Kerajaan Kalingga kemudian dipegang oleh putera tertuanya. Raja pengganti  Ratu Sima ini dikisahkan memiliki seorang puteri cantik yang bernama Dewi Mahdi.

Tidak jauh dari Kerajaan Kalingga berdiri sebuah Kerajaan kecil bernama Kerajaan Jimbung yang dipimpin oleh seorang Raja bernama Joko Patohan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Prabu Jimbung.

Joko Patohan merupakan mantan pembesar di Kerajaan Kalingga yang meninggalkan Kerajaan Kalingga dan kemudian mendirikan Kerajaan Jimbung.

Joko Patohan terkenal sebagai Raja yang tampan, bahkan ketampanannya terkenal sampai ke Kerajaan Kalingga dan didengar oleh Dewi Mahdi puteri Raja Kalingga.

Atas seizin ayahnya kemudian Dewi Mahdi pergi ke Kerajaan Jimbung untuk melamar Joko Patohan. Selain membawa prajurit dan pengawal, Dewi Mahdi juga didampingi oleh Ki Poleng dan Ki Remeng.
Ketika sampai didekat gapura Kerajaan Jimbung, Dewi Mahdi meminta Ki Poleng dan Ki Remeng menghadap Joko Patohan untuk menyampaikan maksud kedatangannya ke Kerajaan Jimbung.

Akan tetapi diluar dugaan, ternyata Joko Patohan menolak lamaran Dewi Mahdi. Tentu saja hal itu membuat utusan Dewi Mahdi marah dan menantang Joko Patohan untuk perang tanding.

Mendapat tantangan dari Ki Poleng dan Ki Remeng sebetulnya Joko Patohan berusaha untuk tidak melayani kedua utusan Dewi Mahdi tersebut karena bukan lawan tandingannya. Tapi Ki Poleng dan Ki Remeng tidak menggubris peringatan Joko Patohan dan akhirnya pertarunganpun tidak terhindarkan.

Dari luar istana Dewi Mahdi mengetahui bahwa lamarannya telah ditolak oleh Joko Patohan. Dia merasa tidak terima dan langsung memerintahkan para prajuritnya untuk masuk ke dalam istana tapi dihadang oleh prajurit Kerajaan Jimbung.

Pertarungan dua lawan satu antara kedua utusan Dewi Mahdi melawan Joko Patohan akhirnya di menangkan oleh Joko Patohan. Dengan kesaktiannya, Joko Patohan mengutuk Ki Poleng dan Ki Remeng menjadi dua ekor Bulus raksasa berwarna belang.

Setelah wujudnya berubah menjadi Bulus, keduanya merengek meminta air kepada Joko Patohan untuk berendam. Kemudian Joko Patohan menancapkan tongkat pusakanya ke tanah dan ketika tongkat tersebut dicabut maka dari dalam tanah langsung keluar air yang cukup deras.

Dalam waktu sekejap mata air yang tercipta dari tongkat pusaka milik Joko Patohan tersebut berubah menjadi sendang. Sebelum memasukkan kedua Bulus jelmaan Ki Poleng dan Ki Remeng ke dalam sendang, Joko Patohan meminta kepada keduanya agar kelak mereka membantu Manusia yang membutuhkan pertolongannya.

Setelah keduanya menyanggupi permintaan Joko Patohan, kemudian kedua Bulus tersebut di masukkan ke dalam Sendang. Sejak saat itu, Ki Poleng dan Ki Remeng menjadi penunggu Sendang Jimbung yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan Bulus Jimbung.

Namun pada akhirnya, Bulus Jimbung lebih banyak dimintai pertolongan oleh orang-orang yang mencari kekayaan dengan cara instan sehingga Sendang Jimbung kini terkenal sebagai tempat pesugihan Bulus Jimbung.

Oleh karena itulah setiap orang yang melakukan pesugihan Bulus Jimbung konon tubuhnya akan berwarna poleng (belang putih) seperti warna tempurung Bulus Jimbung sebagai tanda bahwa orang tersebut merupakan pemuja siluman Bulus Jimbung. Tapi selain cerita tersebut, ada juga beberapa versi lain tentang asal-usul Bulus Jimbung.


Sesaji dan Ritual Pesugihan Bulus Jimbung:

Menurut juru kunci Sendang Jimbung, untuk mendapatkan pesugihan Bulus Jimbung maka pelaku pesugihan harus melakukan perjanjian ghaib dengan penguasa ghaib Sendang Jimbung.

Untuk melakukan perjanjian ghaib, pelaku pesugihan harus melakukan ritual ditepi Sendang Jimbung dengan menyediakan kemenyan, candu, nasi tumpeng dengan lauk panggang ayam kampung, minyak wangi, daging ayam mentah serta kembang telon (3 rupa).

Setelah semua perlengkapan dan persyaratan ritual disiapkan, maka sipelaku pesugihan dapat langsung melakukan ritual ditepi Sendang Jimbung.

Setelah prosesi persembahan sesaji selesai dilakukan, selanjutnya pelaku ritual harus melakukan topo kungkum (berendam)  didalam Sendang. Pada saat melakukan topo kungkum itulah sipelaku pesugihan dapat mengutarakan niatnya kepada penguasa ghaib Sendang Jimbung.

Orang yang telah melakukan perjanjian ghaib dan bersekutu dengan danyang penunggu Sendang Jimbung harus menyiapkan sesaji berupa kembang setaman (7 rupa), buah-buahan dan berbagai macam ubo rampe sebagai pelengkap.

Setelah sesaji yang diminta disiapkan kemudian pelaku pesugihan harus mandi di Sendang Jimbung dan sesajinya ditinggal dibawah pohon besar yang ada ditepi Sendang.

Orang yang melakukan ritual di Sendang Jimbung tidak boleh meninggalkan lokasi ritual sebelum waktu yang ditentukan berakhir. Biasanya ritual dilakukan selama sehari semalam di mulai malam jumat kliwon.


Persyaratan dan Pantangan Pesugihan Bulus Jimbung:

Jika ritualnya berhasil dan sipelaku pesugihan telah mendapatkan apa yang diminta maka dia harus melakukan syukuran setiap bulan suro di Sendang Jimbung. Jika hal ini tidak dilakukan maka bisa berakibat fatal.

Jadi setiap malam jumat kliwon para pelaku pesugihan tidak boleh absen untuk datang ke Sendang Jimbung meskipun sudah sukses dan kaya raya. Karena jika sampai tidak datang atau lupa, maka akan ada seekor Bulus yang datang berkunjung ke rumahnya.

Kedatangan pertama Bulus tersebut hanya sekadar untuk mengingatkan, tapi jika sampai dua kali malam jumat kliwon tidak sowan maka pada bulan itu juga sipelaku pesugihan akan dipanggil untuk menghadap siluman penunggu Sendang Jimbung dan wujudnya akan berubah menjadi seekor Bulus seperti para pemuja Ki Poleng lainnya yang melanggar pantangan.

Selain itu, ada juga pantangan yang harus dihindari oleh para pemuja Bulus Jimbung, yaitu tidak boleh membunuh hewan Bulus secara sengaja atau tidak disengaja. Karena jika sampai membunuh Bulus maka umurnya tidak akan lama dan akan mati sebelum waktu ajalnya tiba.

Orang yang melakukan pesugihan Bulus Jimbung dan sudah menyatu dengan Ki Poleng maka perlahan kulitnya akan mulai menjadi belang-belang putih. Semakin banyak tanda putih ditubuhnya maka kekayaannya akan semakin bertambah.

Belang putih tersebut biasanya akan mulai muncul ditangan kemudian akan menyebar ke bagian-bagian tubuh lainnya seingga lama-kelamaan sekujur tubuhnya akan berubah menjadi putih. Jika seluruh tubuhnya sudah berwarna putih berarti waktu kematiannya sudah dekat.

Orang yang dapat melalui semua prosesi ritual pesugihan Bulus Jimbung dan diterima oleh Ki Poleng sebagai pemujanya maka dia akan mendapatkan kekayaan dalam waktu singkat.

Tapi pelaku pesugihan Bulus Jimbung diharuskan memiliki usaha dagang walaupun hanya kecil-kecilan, karena hal itu merupakan salah satu syarat yang harus dilakukan selain ritual dan sesaji.

Pesugihan Bulus Jimbung tidak memberikan harta benda atau uang secara langsung setelah pelakunya melakukan ritual dan terikat perjanjian ghaib, tapi melalui usaha dagang yang dilakukannya.


Konon pendapatan yang diperoleh dari usaha dagangnya akan jauh lebih besar dari pendapatan yang sebenarnya. Contohnya jika pendapatan dari hasil berdagang sehari 100.000 tapi ternyata uang yang ada didalam tempat penyimpanan jumlahnya jauh lebih banyak, bahkan bisa beberapa kali lipat dan hal itu akan berlangsung setiap hari.

Pesugihan Bulus Jimbung juga tidak meminta tumbal nyawa seperti pesugihan lainnya. Orang yang melakukan pesugihan ini hanya diwajibkan untuk sowan dan melakukan ritual pada waktu-waktu yang telah ditentukan serta tidak boleh membunuh hewan Bulus dimanapun.

Tapi ada tanda khusus yang tidak dapat dihilangkan dari para pelaku pesugihan Sendang Jimbung, yaitu terdapat belang-belang putih pada kulitnya seperti warna pada tempurung Bulus Jimbung.

Menurut juru kunci Sendang Jimbung, konon penguasa ghaib Sendang Jimbung adalah sesosok siluman Bulus Raksasa dengan diameter tempurungnya kurang lebih sekitar satu meter. Pada hari-hari tertentu Bulus raksasa tersebut akan muncul ke permukaan Sendang dan dapat dilihat dengan kasat mata.


Demikian sedikit informasi tentang mitos, misteri dan syarat pesugihan Bulus Jimbung yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar dunia spiritual dan supranatural dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Misteri dan Mitos Pesugihan Bulus Jimbung Klaten"

UNTUK PEMESANAN BENDA PUSAKA: