Advertisement

Istilah-istilah dalam dunia perkerisan

gambar keris sengkelat dan warangka
Keris Sengkelat
Hartalangit.com – Keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata untuk berperang, tapi lebih dari itu Keris juga memiliki fungsi lain sebagai pelengkap busana, simbol status sosial, piandel dan sebagai perlengkapan dalam upacara adat.

Bagi masyarakat Jawa, Keris merupakan pusaka yang dihormati dan menjadi salah satu simbol kesempurnaan laki-laki Jawa yang sudah di anggap mapan, yaitu: Wismo (Rumah), Garwo (Istri), Turonggo (Kuda), Kukilo (Burung) dan Curigo (Keris).

Keris sejatinya adalah media doa dan harapan bagi pemiliknya yang disimbolkan dalam bentuk dan nama dhapur, pamor dan ricikan-ricikannya.

Harapan dan doa tersebut tidak hanya diwujudkan pada bentuk fisik Keris saja, tapi juga dengan mantra atau doa-doa yang dipanjatkan oleh sang Empu kepada SANG PENCIPTA ketika membabar sebilah Keris.

Aspek ritual memang tidak dapat dipisahkan dari proses pembuatan Keris, karena Keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata fisik saja, tapi lebih berfungsi sebagai sipat kandel. Oleh karena itulah Keris yang dibuat dengan ritual dan laku akan memiliki perbawa yang besar dan terkesan wingit.

Sebelum mengolah logam, seorang Empu akan memulainya dengan berdoa kepada TUHAN, memilih hari baik, melakukan tirakat / puasa dan menyiapkan uborampe yang diperlukan.

Karena proses pembuatannya yang sakral itulah kemudian Keris disebut sebagai Tosan Aji atau besi yang berharga dan memiliki tempat terhormat bagi masyarakat Jawa.


Bahkan Keris juga menjadi identitas yang bisa mewakili kehadiran pemiliknya. Contohnya seorang utusan yang membawa Keris milik Raja akan di anggap sebagai utusan resmi yang mewakili kehadiran Raja. Bahkan Keris juga bisa mewakili kehadiran mempelai pria dalam upacara pernikahan.

Memahami Keris adalah menyelami alam pikir masyarakat Jawa, dimana fungsi, estetika, dan simbol-simbol akan nilai-nilai kehidupan ditempa menjadi satu.

Selain memiliki nilai falsafah, Keris juga memiliki nilai seni yang tinggi. Semua bagian-bagian Keris dibuat begitu indah dan penuh makna yang tersirat.

Dalam dunia perkerisan ada banyak istilah-istilah yang digunakan untuk menyebut bagian-bagian Keris.

Berikut ini istilah-istilah yang sering digunakan dalam dunia perkerisan:

1. Empu

Empu adalah orang yang memiliki keahlian dalam membuat Keris.

2. Tanjeg

Tanjeg adalah ilmu untuk mengenali karakteristik atau sifat tuah serta manfaat ghaib dari sebilah Keris atau Tosan Aji lainnya.

Dalam budaya perkerisan di Pulau Jawa dikenal adanya istilah angsar yang merupakan daya ghaib Keris. Angsar pada sebilah Keris dapat di ketahui dengan manggunakan ilmu Tanjeg.

3. Angsar

Angsa adalah daya ghaib Keris yang dapat membawa pengaruh bagi pemiliknya. Pada dasarnya semua Keris berangsar baik tergantung dari kecocokannya dengan pemiliknya.

Untuk mengetahui Angsar pada Keris diperlukan ilmu Tanjeg dan untuk mengetahui cocok atau tidaknya seseorang dengan Angsar Kerisnya diperlukan ilmu Tayuh.

4. Tayuh

Tayuh adalah sejenis ilmu tradisional untuk mengetahui cocok atau tidaknya sebilah Keris untuk dimiliki seseorang.


5. Pasikutan

Pasikutan adalah roman atau kesan emosi yang dibangkitkan oleh wujud sebilah Keris.

6. Langgam

Langgam adalah gaya pembuatan sebilah Keris yang biasanya dipengaruhi oleh zaman atau tempat pembuatannya. Dalam istilah perkerisan Jawa, Langgam Keris menurut masa dan tempat pembuatannya di istilahkan sebagai Tangguh.

7. Tangguh

Tangguh dapat diartikan sebagai perkiraan, maksudnya adalah perkiraan untuk menentukan sebilah Keris mengikuti gaya suatu zaman atau tempat tertentu.

Penangguhan Keris pada umumnya dilakukan terhadap Keris-Keris sepuh / kuno untuk memperkirakan masa pembuatannya.

8. Codong Leleh

Codong Leleh adalah istilah untuk menyebut derajat kemiringan sebilah Keris jika dilihat dari garis horisontal bilah bagian bawah yang berbatasan dengan Gonjo.

Derajat kemiringan inilah yang membuat Keris disebut belati asimetris dan merupakan ciri khas Keris yang tidak ditemukan pada senjata-senjata tradisional lainnya.


9. Dhapur

Dhapur bisa di artikan sebagai penampilan fisik atau bentuk dari sebilah Keris. Keris dapat dibagi ke dalam dua bentuk dasar, yaitu Keris lurus dan Keris yang berlekuk (Keris luk). Dua bentuk dasar Keris tersebut kemudian memiliki begitu banyak varian berdasarkan Ricikannya.


10. Luk

Luk adalah istilah untuk menyabuk bilah Keris yang berkelok / berlekuk.

11. Pamor

Pamor adalah motif atau corak pada bilah Keris yang timbul karena proses tempa lipat dari tiga bahan logam yang berbeda jenisnya, yaitu besi, baja dan bahan pamor. Istilah pamor berasal dari kata “amor” (bahasa Jawa) yang artinya manyatu atau berpadu.


12. Pesi

Pesi atau Peksi adalah tangkai bilah Keris yang masuk ke dalam gagang atau Ukiran Keris. Pesi terletak dipagnkal bilah Keris berupa besi bundar (gilig) dan ada juga yang berbentuk persegi atau muntir. Pesi merupakan tangkai Keris dan merupakan satu kesatuan dari bilah Keris secara ke seluruhan.

13. Gonjo

Gonjo adalah bagian pada sebilah Keris yang menyatukan bilah dengan Pesinya. Ada juga yang disebut Gonjo iras, yaitu Gonjo yang menyatu atau tidak terpisah dengan bilah Keris.

Pada umumnya Gonjo terdiri dari beberapa bagian, antara lain:

- Sirah Cecak: Bagian depan Gonjo yang bentuknya enyerupai kepala cicak.

- Gulu Meled: Bagian dibelakang Sirah Cecak yang bentuknya menyerupai lehernya cicak.

- Wetengan: Bagian tengah Gonjo yang bentuknya menyerupai perut cicak.

- Kepet Urang: Bagian belakang Gonjo.

- Kanyut / Buntut Mimi: Bagian ekor atau buntut Gonjo.

- Greneng: Bagian belakang Gonjo yang mengarah ke atas bilah dan biasanya terdiri dari:: Ron Dha (bentuknya seperti huruf jawa Dha), Ri Pandhan (bagian tengah Ron Dha yang meruncing menyerupai duri pandan), Tingil (bagian pinggir Ron Dha yang runcing melengkung).

- Wuwungan: Bagian permukaan Gonjo yang akan tetap tetap terlihat ketika Keris disarungkan.

- Omah-omahan: Bagian lubang Gonjo yang ditembus Pesi.


14. Wilah

Wilah atau Bilah adalah bagian utama dari sebuah Keris. Wilah Keris adalah logam yang ditempa sedemikian rupa sehingga menjadi senjata tajam.

Wilah terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama antara satu Keris dengan Keris lainnya atau disebut Dhapur.

15. Ricikan

Ricikan adalah bagian-bagian atau komponen pada sebilah Keris yang masing-masing memiliki nama tersendiri. Ricikan pada sebilah Keris sangat erat kaitannya dengan Dhapur, karena beda Dhapur pasti juga beda Ricikannya.


16. Mendak

Mendak adalah sebutan untuk cincin Keris yang menjadi pembatas anatara Deder / Ukiran Keris dengan Gonjo Keris.

17. Selut

Selut hampir sama seperti Mendak yang berfungsi sebagai ornamen tambahan atau hiasan untuk memperindah Keris.

Selut yang bagus biasanya terbuat dari emas atau perak yang bertatahkan batu permata sehingga akan menambah kesan mewah pada Keris.

Dilihat dari bentuk dan ukurannya, Selut terbagi menjadi dua jenis, yaitu Selut njeruk pecel yang ukurannya kecil dan Selut njeruk keprok yang ukurannya besar.

18. Pendok

Pendok adalah pelapis atau pelindung Gander (bagian Warangka Keris yang terbuat dari kayu yang berfungsi sebagai tempat bilah).

Pada perkembangannya, Pendok tidak hanya berfungsi sebagai pelindung saja tapi juga berfungsi untuk memperindah Warangka. Bentuk Pendok juga beragam, ada Pendok Bunton, Blewahan, Slorok dan Topengan.

19. Ukiran

Ukiran adalah gagang atau handle Keris. Gagang Keris di Bali disebut Denganan, di Madura disebut Landheyan, di Solo disebut Jejeran, di Jogjakarta disebut Deder dan daerah lain di Indonesia disebut Hulu Keris.


20. Warangka

Warangka adalah sarung Keris yang pada umumnya terbuat dari kayu yang berserat dan bertekstur indah, tapi ada juga yang terbuat dari gading gajah atau tanduk binatang.

Warangka Keris selalu dibuat indah dan untuk kalangan tertentu bahkan dibuat sangat mewah dengan dilapisi logam mulia seperti emas dan perak serta bertahtakan batu mulia untuk menunjukkan status susial pemiliknya.

21. Mahar

Mahar / Mas Kawin dalam dunia perkerisan adalah pembayaran sejumlah uang atau barang lain sebagai syarat transaksi atau pemindahan hak milik atas sebilah Keris.

Istilah Mas Kawin atau Mahar digunakan dalam transaksi jual beli Keris karena dalam masyarakat perkerisan ada kepercayaan bahwa isi Keris harus cocok atau jodoh dengan pemiliknya.


Demikian sedikit informasi tentang istilah-istilah dalam dunia perkerisan yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar Keris pusaka, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Istilah-istilah dalam dunia perkerisan"

UNTUK PEMESANAN BENDA PUSAKA: