Advertisement

Jenis-Jenis Pamor Badik dan Penjelasan Tentang Tuahnya

gambar badik asli
Badik
Hartalangit.com – Badik adalah senjata tradisional kebanggan masyarakat Bugis Makassar yang tidak hanya berfungsi sebagai senjata tajam saja, tapi juga dipercaya memiliki kekuatan ghaib. Orang Bugis lebih sering menyebatnya Kawali.

Masyarakat Mandar juga memiliki senjata tradisional yang sama dengan Badik, yaitu Badik Mandar atau Kobi Jambia.

Bagi masyarakat Bugis, Badik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian mereka dan selalu dibawa saat melakukan aktifitas sehari-hari, baik ketika didalam rumah ataupun saat berada diluar rumah.

Sampai ada satu ungkapan dalam tradisi masyrakat Bugis, “Bukan seorang laki-laki jika tidak memiliki Badik. Jangan bercerai besi (senjata) sebab besi itu adalah saudara kita”, karena bagi masyarakat Bugis, Badik bukan sekedar senjata tikam, melainkan juga melambangkan status, pribadi dan karakter pemiliknya.

Kebiasaan membawa Badik atau Kawali dikalangan masyarakat Bugis seringkali dihubungkan dengan Pranata sosial yang disebut Siri.

Badik dalam kasus tertentu bisa menjadi alat untuk menegakkan harga diri dan kehormatan keluarga, bahkan hingga kini dibeberapa daerah, kebiasaan membawa Badik masih sering di jumpai.

Kebiasaan tersebut bukan berarti bahwa masyarakat Bugis Makassar adalah orang-orang yang gemar berperang atau suka mencari keributan, tetapi lebih kepada penekanan makna simbolik yang terdapat pada Badik atau Kawali tersebut.


Seperti halnya Keris, Badik juga sarat akan makna dan filosofi. Dalam tradisi masyarat Bugis, bahkan ada kebiasaan turun-temurun untuk membekali anak yang sudah beranjak dewasa dengan sebilah Badik yang disesuaikan dengan sifat pembawaan anak tersebut, termasuk juga kepada anak perempuan.

Dalam tradisi masyarakat Bugis Makassar juga dikenal yang namanya Badik Makkunrai (Badik perempuan) yang khusus dimiliki oleh perempuan untuk menjaga diri dan kehormatannya.

Pentingnya kedudukan Badik atau Kawali inilah yang mendorong masyarakat Bugis Makassar untuk memiliki Badik yang istimewa, baik dari segi teknik pembuatan, material, pamor maupun tuahnya yang dipercaya dapat memberikan energi positif bagi siapa saja yang memiliki atau membawanya.

Badik dibuat dari campuran beberapa jenis logam berbeda sehingga menghasilkan gradasi warna berbeda pada bilahnya yang disebut pamor.

Bahan pamor yang digunakan untuk pembuatan Badik adalah besi Luwu (bessi ussu) karena dipercaya sebagai besi yang bertuah.


Dalam dunia Tosan Aji, besi Luwu atau bessi pamorro yang mengandung meteorit dan nikel sudah dikenal lama sebagai salah satu bahan pamor yang berkualitas, khususnya untuk bahan pamor Keris dan Badik.

Secara umum, Badik memiliki pamor Batu Lappa, Uleng-Puleng, dan Ure' Tuo. Ketiga jenis pamor tersebut terbentuk dari bahan pamor dengan kandungan meteorit yang cukup tinggi.

Pamor Batu Lappa, Uleng-Puleng, dan Ure' Tuo pada dasarnya terbuat dari bahan yang sama dengan ciri-ciri mengkilap seperti warna perak/nikel. Perbedaannya adalah pada bentuk pola/motifnya, jika bentuknya berupa gumpalan-gumpalan besar atau melebar maka disebut Batu Lappa'.

Jika bentuknya berupa gumpalan-gumpalan kecil kira-kira sebesar biji cabe maka disebut Uleng-Puleng, dan jika bentuknya berupa guratan-guratan tipis memanjang maka disebut Ure' Tuo.

Ketiga jenis pamor tersebut dianggap paling istimewa dan paling banyak dicari karena hanya bisa terbentuk dari bahan pamor khusus, sebab bahan-bahan pamor yang biasa tidak akan bisa menghasilkan bentuk pamor Batu Lappa, Uleng-Puleng, dan Ure' Tuo.

Ketiga jenis pamor tersebut di anggap sebagai hadiah dari alam. Berbeda dengan jenis pamor lain seperti Daung Ase, Teppo Baja, Kuribojo, dan Dato-Dato adalah jenis pamor yang bisa dibentuk dari bahan pamor apa saja.

Untuk pembuatan pamor Batu Lappa, Uleng-Puleng, dan Ure' Tuor, bahan pamor yang digunakan harus dari bahan dengan kandungan meteorit yang tinggi.

Meteorit adalah bahan pamor yang berasal dari batu meteor atau batu bintang yang jatuh dari langit. Batu meteor sudah sejak jaman dahulu digunakan oleh orang-orang suku Bugis sebagai jimat untuk menangkal makhluk halus jahat.

Karena kepercayaan akan tuah pada batu meteor itulah maka Badik pusaka yang memiliki pamor Batu Lappa, Uleng-Puleng, dan Ure' Tuo juga dipercaya sebagai Badik yang sulit dihuni oleh khodam dari golongan hitam.

Itulah tuah utama dari pamor Batu Lappa, Uleng-Puleng, dan Ure' Tuo secara umum, sedangkan tuah lainnya tergantung dari letak pamor tersebut pada bilah Badik.


Berikut ini beberapa jenis pamor Badik yang dipercaya memiliki tuah ampuh:

1. Pamor Batu Lappa/Uleng-Puleng (Naokko' Panggulu)

Pamor Batu Lappa/Uleng-Puleng Naokko' Panggulu (Batu Lappa/Uleng-Puleng Digigit Hulu) artinya adalah pamor Batu Lappa atau Uleng-Puleng yang letaknya berada dipangkal bilah Badik, sebagian masuk kedalam pesi/oting dan sebagian lagi keluar atau tampak dibagian pangkal bilah.

Pamor ini di anggap sebagai pamor “Tenri Isseng Poadai Decenna” (tidak bisa dibahasakan kebaikannya).

2. Pamor Batu Lappa/Uleng-Puleng (yang terdapat dipunggung bilah)

Pamor Batu Lappa yang berada dipunggung bilah Badik juga merupakan salah satu jenis pamor yang banyak dicari karena tuahnya dipercaya sangat bagus untuk kerejekian, terutama yang letaknya dekat dengan pangkal bilah.

3. Pamor Batu Lappa/Uleng-Puleng (yang terdapat di ujung punggung Badik)

Pamor Batu Lappa/Uleng-Puleng yang berada di ujung bilah Badik (dengan catatan pamornya juga ada disekitaran pangkal sampai ujung bilah) sering dijuluki “La Uleng Tepu” (Sang Bulan Purnama).

Konon, barang siapa yang membawa Badik dengan pamor ini, maka tidak akan melihat darah atau yang berdarah. Artinya, pamor ini memiliki tuah yang sangat baik untuk keselamatan.

Tapi Badik pusaka dengan pamor tersebut tidak boleh disimpan didekat wanita yang akan melahirkan karena akan membuatnya susah bersalin.

4. Pamor Batu Lappa'/Uleng-puleng (yang terdapat pada baja/mata Badik)

Pamor Batu Lappa/Uleng-puleng yang berada pada baja/mata Badik juga termasuk jenis pamor yang sangat dicari karena dipercaya memiliki tuah yang sangat bagus untuk kewibawaan dan kepemimpinan.


5. Pamor Ure' Tuo (yang berada dipunggung bilah Badik dan tidak terputus dari pangkal sampai ujung bilah)

Pamor jenis ini juga banyak dicari karena dipercaya memiliki tuah yang baik untuk kepemimpinan, kewibawaan dan penundukan. Barang siapa yang memiliki Badik pusaka dengan pamor ini, maka kata-katanya akan selalu dituruti oleh bawahannya.

6. Pamor Ure' Tuo (yang tidak terputus dari pangkal sampai ujung bilah)

Pamor ini juga sangat dicari karena dipercaya memiliki tuah yang sangat baik untuk kerejekiaan dan ketentraman.

7. Pamor Ure' Tuo (yang menyeberang dari sisi bilah yang satu ke sisi bilah lainnya)

Pamor ini sangat dicari seperti halnya Badik Sambang/Gareno. Tuahnya sangat baik untuk kerejekian, kewibawaan dan kepemimpinan, bahkan di anggap sebagai “Datun-na Badik” (Rajanya Badik).

8. Pamor Kurissi Gamecca'

Pamor Kurissi Gamecca' merupakan jenis pamor yang sangat langka. Pada jaman dahulu, pamor jenis ini hanya dibuat pada saat terjadi prosesi pernikahan putra atau putri Raja atau bangsawan saja.

Motif pamornya berbentuk anyaman bambu yang dalam bahasa Bugis disebut Gamecca'. Pamor ini termasuk sangat sulit dibuat dan menggunakan bahan pamor yang cukup banyak.

9. Sippa Sikadong, Massalo'/Mabbelesse, Bettu Cigerro', Sumpang Buaja, Mattellongi, Sumpang Salo'

Jenis pamor yang satu ini bisa dikatakan sangat istimewa. Badik yang memiliki pamor tersebut atau mungkin lebih banyak lagi sering disebut dengan Pamor Sukku' (Cukup). Tuahnya sangat bagus untuk kerejekian dan cocok dimiliki oleh para pedagang dan pengusaha.

Jika kesemua pamor tersebut terdapat pada sebilah Badik, maka pemiliknya akan dimudahkan dalam segala urusan, mulai dari urusan rejeki sampai urusan asmara.

Pamor Sukku' ini juga termasuk pamor yang sangat langka, bahkan pada jaman dahulu, maharnya sering menggunakan Tedong Siajoa (dua ekor kerbau jantan).

10. Pamor Sambang/Gareno

Jenis pamor Sambang (Makasar) atau Gareno (Bugis) adalah jenis pamor yang pernah menjadi sangat langka. Penyebabnya karena tehnik pembuatan pamor ini pernah hilang atau sempat tidak terwariskan.

Periode tersebut diperkirakan antara tahun 50-an hingga tahun 80-an. Barulah setelah tahun 90-an keatas tehnik tempa pamor Sambang ini mulai muncul lagi dan itupun hanya diketahui oleh beberapa Panre (Mpu) saja.


11. Pamor Mata Rakkapeng

Pamor Mata Rakkapeng juga termasuk pamor yang banyak diburu oleh para pecinta dan kolektor Badik. Bentuknya berupa 1/2 lingkaran (busur) pada mata Badik yang menampilkan warna berbeda dari warna baja lainnya. Terkadang bentuk pamor Mata Rakkapeng ini bersusun seperti bentuk pelangi, tapi ada juga yang tunggal.

Pamor ini termasuk pamor langka karena tidak bisa dibuat oleh sembarang Panre dan juga harus menggunakan material khusus. Material yang digunakan untuk membuat pamor ini adalah baja dengan kualitas terbaik.

Pamor ini disebut Mata Rakkapeng karena bentuk motifnya menyerupai mata Rakkapeng (alat kuno untuk menuai padi) yang sering digunakan oleh para petani pada jaman dahulu.

Jika alat Rakkapeng ini sering digunakan untuk memanen/memotong tangkai dalam jangka waktu yang lama, maka akan meninggalkan bekas yang berbentuk 1/2 lingkaran pada baja Rakkapeng ini.

Dari situlah kemudian muncul penyebutan pamor Mata Rakkapeng. Tuah pamor ini sangat  baik untuk kecukupan pangan atau kemakmuran seperti filosofi padi yang identik sebagai simbol kemakmuran.

12. Pamor Bonto Mate'ne

Pamor Bonto Mate'ne adalah jenis pamor yang juga termasuk langka dan banyak dicari. Bentuk pamor ini serupa dengan pamor Dato-Dato, hanya saja pada pamor Bonto Mate'ne motifnya timbul serta terdapat ciri khas pada bagian timpa' laja' yang bersusun antara besi baja dan pamor.

13. Pamor Bontoala

Pamor Bontoala juga merupakan salah satu jenis pamor Badik yang langka dan banyak dicari. Bentuk pamor ini memiliki ciri khas pada bentuknya yang menyerupai Balo Pakke' (Te'ba Jampu), tapi pamornya dibuat berlapis-lapis dan tipis.

Badik Bontoala juga memiliki ciri khas pada bentuk timpa laja. Pada jaman dulu, Badik ini diperuntukkan bagi kalangan Ulama.

Jenis-jenis pamor di atas tergolong pamor langka yang sulit dijumpai dan banyak dicari oleh para penggemar dan kolektor Badik. Penyebab kelangkanya bukan hanya karena sulit dibuat saja, tapi juga karena bahan pamornya yang sangat terbatas.

Jika kita tilik dari filosofinya, sejatinya semua jenis Badik adalah media simbolik. Badik hanya boleh dicabut dari sarungnya untuk menjaga diri dan kehormatan pemiliknya atau keluarganya, dan bukan sebagai alat untuk melakukan kejahatan atau menyakiti orang lain.

Badik adalah pelengkap dari Pappaseng (pesan-pesan leluhur yang baik) yang diwariskan kepada anak cucunya secara tersirat sebagai pendamping untuk menegakkannya.

Sejatinya, fungsi Badik adalah untuk menegakkan kebenaran dan menjaga kehormatan, lebih penting dari itu semua adalah kematangan dan kearifan orang yang memiliki Badik tersebut, karena Badik atau senjata apapun akan bermanfaat jika berada ditangan yang benar dan bisa membawa bencana jika berada ditangan yang salah.


Demikian sedikit informasi tentang jenis-jenis pamor Badik dan penjelasan tentang tuahnya yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar benda-benda pusaka, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Jenis-Jenis Pamor Badik dan Penjelasan Tentang Tuahnya"

UNTUK PEMESANAN BENDA PUSAKA: