Advertisement

Sejarah dan Asal-usul Sunan Gunung Jati

gambar sunan gunung jati / syarif hidayatullah
Sunan Gunung Jati

Hartalangit.com – Nama asli Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayatullah yang merupakan putera sulung dari Maulana Sultan Mahmud alias Syarif Abdullah bin Syekh Nurul Alim dan ibunya bernama Dewi Rara Santang yang merupakan puteri Raja Pajajaran, yaitu Prabu Siliwangi.

Kisah pertemuan antara Sultan Mahmud dan Nyimas Rara Santang bermula ketika pada suatu malam Nyimas Rara Santang bermimpi melihat tulisan “Muhammad” yang disinari cahaya sangat terang. Awalnya Nymas Rara Santang  tidak menghiraukan mimpinya itu, tapi karena mimpi yang sama terulang sampai tiga kali berturut-turut, maka hatinya menjadi gelisah dan selalu memikirkan tentang mimpinya itu.

Kemudian Nyima Rara Santang memutuskan berguru kepada seorang ulama Di daerah Gunung Jati Cirebon yang bernama Syekh Datuk Idlori atau lebih dikenal dengan panggilan Syekh Dzatul Kahfi.

Dengan ditemani kakaknya yang bernama Pangeran Cakrabuwana, ia pergi menemui guru agama tersebut walaupun mereka tidak direstui oleh Prabu Siliwangi.

Seteleh beberapa tahun berguru kepada Datuk Dzatul Kahfi, kemudian mereka pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji sekaligus untuk berguru kepada sejumlah ulama besar ditanah suci, sehingga ilmu pengetahuan agama mereka semakin matang.

Di Mekkah mereka tinggal di rumah Syekh Bayanullah, seorang ulama besar yang juga merupakan sahabat dekat Syekh Dzatul Kahfi.


Suatu hari Syekh Bayanullah kedatangan tamu dari Mesir bernama Syarif Abdullah atau lebih dikenal dengan sebutan Maulana Sultan Mahmud dalam rangka untuk menunaikan ibadah haji berasama rombongannya.

Di rumah Syekh Bayanullah inilah Maulana Sultan Mahmud bertemu dengan Dewi Rara Santang hingga akhirnya jatuh hati karena konon wajahnya sangat mirip dengan mendiang isterinya.

Sang Sultan kemudian memohon kepada Pangeran Cakrabuwana agar di izinkan untuk menikahi adiknya. Tapi Pangeran Cakrabuwana menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Nyimas Rara Santang.

Singkat cerita, Dewi Rara Santang menerima lamaran Sultan Mahmud dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Sang Sultan.

Adapun syarat-syarat tersebut adalah bahwa kelak jika dari hasil pernikahan keduanya memiliki anak pertama laki-laki, maka anak tersebut harus direlakan untuk mensyiarkan agama Islam di tanah kelahiran ibunya yaitu di tatar Pasundan (Sunda).

Selain itu, Dewi Rara Santang juga menginginkan agar janji kesanggupan Sultan Mahmud di ikrarkan di bukit Tursnia. Sang Sultan kemudian menyanggupinya dengan mengikrarkan janjinya dibukit Tursina dan disaksikan oleh Pangeran Cakrabuwana.


Pernikahaan Dewi Rara Santang dengan Maulana Sultan Mahmud dikarunia dua anak laki-laki, anak pertama diberi nama Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang akhirnya menjadi Raja di Cirebon dan anak keduanya diberi nama Syarif Nurullah.

Dalam usia yang begitu muda Syarif Hidayatullah ditinggal mati oleh ayahnya. Ia ditunjuk untuk menggantikan kedudukan ayahnya tapi tidak mau. Dia dan ibunya memilih pulang ke tanah Jawa untuk berdakwah di Jawa Barat. Akhirnya kedudukan ayahnya digantikan oleh adiknya, yaitu Syarif Nurullah.

Sewaktu berada di Mesir, Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa ulam besar didaratan Timur Tengah sehingga ketika pulang ke tanah Jawa beliau tidak kesulitan untuk melakukan dakwah.

Banyak yang menganggap bahwa Fatahillah dan Syarif Hidayatullah adalah satu orang yang sama, padahal sebetulnya Fatahillah dan Syarif Hidayatullah adalah dua orang yang berbeda.

Syarif Hidayatullah adalah cucu dari Raja Pajajaran yang menjadi penyebar agama Islam di Jawa Barat yang kemudian bergelar Sunan Gunung Jati. Sedangkan Fatahillah adalah seorang pemuda Pasai yang dikirim oleh Sultan Trenggana untuk membantu Sunan Gunung Jati berperang melawan Portugis.

Bukti bahwa Fatahillah bukanlah Sunan Gunung Jati bisa dilihat dimakam dekat Sunan Gunung Jati yang ada tulisan Tubagus Pasai adalah Fathullah / Fatahillah atau Faletehan menurut lidah orang Portugis.


Syarif Hidayatullah dan ibunya Syarifah Muda’im datang ke Negeri Caruban Larang Jawa Barat pada tahun 1475 sesudah singgah di Gujarat dan Pasai untuk menambah pengalaman. Kedatangan keduanya disambut gembira oleh Pangeran Cakrabuwana dan keluarganya.

Waktu itu Syekh Dzatul Kahfi yang merupakan guru dari Pangeran Cakrabuwana dan Dewi Rara Santang sudah wafat dan dimakamkan di Pasambangan. Dewi Rara Santang atau Syarifah Muda’im kemudian tinggal di Pasambangan atau Gunung Jati agar selalu dekat dengan makam gurunya.

Syarifah Muda’im dan puteranya Syarif Hidayatullah kemudian meneruskan perjuangan  Syekh Datuk Kahfi untuk menyebarkan agama Islam ditanah Sunda, sehingga kemudian Syarif Hidayatullah dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati akhirnya menikah dengan Nyi Pakungwati yang merupakan anak dari Pangeran Cakrabuwana. Dan pada tahun 1479 karena usianya sudah lanjut Pangeran Cakrabuwana menyerahkan kekuasaan Negeri Caruban kepada Syarif Hidayatullah dengan gelar Susuhan yaitu orang yang dijunjung tinggi.

Pada tahun pertama pemerintahannya, Syarif Hidayatullah berkunjung ke Pajajaran untuk mengunjungi kakeknya, yaitu Prabu Siliwangi. Kemudian Prabu Siliwangi di ajak untuk masuk Islam tetapi tetap tidak mau.

Tapi meskipun Prabu Siliwangi tidak mau masuk Islam, dia tidak menghalangi cucunya itu untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Pajajaran.


Syarif Hidayatullah kemudian melanjutkan perjalanannya ke Serang. Pada saat itu penduduk Serang sudah ada yang masuk Islam karena banyak saudagar dari Arab dan Gujarat yang sering singgah ke wilayah Serang.

Kedatangan Syarif Hidayatullah disambut baik oleh Adipati Banten, bahkan Syarif Hidayatullah kemudian dijodohkan dengan puteri Adipati Banten yang bernama Nyi Kawungten. Dari pernikahan tersebut Syarif Hidayatullah dikaruniai dua orang anak, yaitu Nyi Ratu Winaon dan Pangeran Sebakingking.

Dalam upayanya menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, Sunan Gunung Jati tidak berdakwah sendirian, beliau sering bermusyawarah dengan anggota Walisongo lainnya di Masjid Demak. Bahkan disebutkan bahwa Sunan Gunung jati juga ikut membantu berdirinya Masjid Demak.

Dari pergaulannya dengan Sultan Demak dan para Wali lainnya, akhirnya Sunan Gunung Jati memutuskan untuk mendirikan Kesultanan Pakungwati dan memploklamirkan diri sebagai Raja yang pertama dengan gelar Sultan.

Sejak berdirinya Kesultanan Pakungwati tersebut, Cirebon tidak lagi mengirim upeti kepada Pajajaran yang biasanya disalurkan melalui Kadipaten Galuh.


Dengan bergabungnya prajurit dan perwira pilihan ke Cirebon maka semakin bertambah besar pengaruh Kesultanan Pakungwati. Bahkan daerah-daerah lain seperti Surakanta, Japura, Wanagiri, Telaga dan wilayah-wilayah lainnya juga menyatakan diri untuk bergabung dengan Kesultanan Cirebon.

Terlebih lagi dengan diperluasnya Pelabuhan Muara Jati, maka semakin bertambah besarlah Kasultanan Cirebon karena semakin banyak pedagang besar dari Negeri asing datang dan menjalin persahabatan dengan Cirebon, salah satunya dari Negeri Tiongkok.

Bahkan ada salah seorang keluarga istana Cirebon yang menikah dengan pembesar dari Negeri China yang berkunjung ke Cirebon, yaitu Ma Huan sehingga semakin memepererat hubungan antara Cirebon dan Negeri China.

Sunan Gunung Jati juga pernah di undang ke Negeri China dan menikah dengan puteri Kaisar China yang bernama puteri Ong Tien. Kaisar China pada saat itu dari Dhinasti Ming juga beragama Islam. Setelah menikah dengan Sunan Gunung Jati, nama puteri Ong Tien diganti menjadi Nyi Ratu Rara Semanding.

Sang Kaisar membekali puterinya dengan harta benda yang cukup banyak ketika diboyong ke tanah Jawa dan sebagian besar barang-barang peninggalan puteri Ong Tien yang dibawa dari Negeri China sampai sekarang masih ada dan tersimpan ditempat yang aman. Bahkan istana dan Masjid Cirebon juga dihiasi dengan motif-motif hiasan dinding bernuansa China.

Masjid Agung Sang Ciptarasa dibangun atas prakarsa Nyi Ratu Pakungwati isteri Sunan Gunung Jati. Pembangunan Masjid itu juga melibatkan banyak pihak, diantaranya Wali Songo dan sejumlah tenaga ahli yang dikirim oleh Raden Patah.

Dalam pembangunan Masjid itu Sunan Kalijaga mendapat penghormatan untuk mendirikan Soko Tatal sebagai lambang persatuan umat.

Setelah selesai membangun Masjid, kemudian diteruskan dengan membangun jalan raya yang menhubungkan Cirebon dengan daerah-daerah Kadipaten lainnya untuk lebih memudahkan dalam penyebaran agama Islam diseluruh tanah Pasundan.


Demikian sedikit informasi tentang sejarah dan asal-usul Sunan Gunung Jati yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain sepurar sejarah dan budaya Nusantara, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Sejarah dan Asal-usul Sunan Gunung Jati"

UNTUK PEMESANAN BENDA PUSAKA: