Advertisement

Penyebab musnahnya tradisi Kejawen

gambar sesaji dalam tradisi kejawen
Ilustrasi

Hartalangit.com – Dalam perkembangannya, tradisi Kejawen secara nyata telah tergusur oleh tradisi-tradisi dari luar dan ditinggalkan oleh para pewarisnya yang malu mengakui kejawaannya.

Kehadiran kepercayaan baru disertai dengan upaya-upaya untuk membangun kesan buruk pada budaya Jawa yang sering dikatakan sebagai bentuk kesyirikan membuat tradisi Kejawen ditinggalkan.

Masyarakat Jawa lebih memililih mengikuti “kepercayaan baru” yang dianggap paling benar dan memberi jaminan kepastian masuk syurga. Upaya tersebut dilakukan secara sistematis dan mendapat dukungan dari kekuatan politik asing yang memiliki kepentingan besar di Negeri ini.

Selain itu, para pendatang yang memiliki kepentingan terus membangun image buruk terhadap kearifan-kearifan lokal dengan cara memberikan contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial,  pelanggaran kaidah Kejawen yang terjadi saat itu dan diklaim sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Kejawen tanpa mengetahui hakikatnya.


Tidak berhenti sampai disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan orang Jawa dengan cara memanipulasi atau memutar balikkan fakta sejarah masa lampau sehingga generasi-generasi muda Jawa tidak tahu tradisi aslinya karena memang sengaja dibelokkan dan dimusnahkan agar orang Jawa kehilangan jati dirinya.

Hal itu membuat generasi muda Jawa malu pada budayanya sendiri karena yang mereka tahu budaya Jawa adalah budaya yang salah dan sesat penuh dengan kesyirikan.

Bukti-bukti kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti luhur (Jawa) kuno (sebelum era kewalian) dibumi hanguskan oleh para “pendatang baru” tersebut.

Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, istilah-istilah Jawa yang dahulu memiliki makna baik dan luhur banyak dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif disesuaikan dengan kepentingan mereka yang tidak suka dengan tradisi kearifan lokal.

Akibatnya, istilah-istilah seperti Kejawen, klenik, mistis, tahyul mengalami degradasi makna dan berkonotasi negatif.

Istilah-istilah tersebut disamakan maknanya dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama, misalnya: kemusyrikan, gugon tuhon, budak setan, menyembah setan, dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian makna aslinya, sebaliknya istilah-istilah tersebut justru memiliki makna yang sangat religius, contohnya:

- Klenik

Merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab akibatyang berkaitan dengan kekuatan ghaib (metafisik) yang tidak lain bersumber dari Dzat tertinggi, yaitu TUHAN Yang Maha Suci. Didalam agama manapun unsur “klenik” ini selalu ada.

- Mistis

Adalah ruang atau wilayah ghaib yang dapat dirambah dan dipahami Manusia sebagai upayanya untuk memahami TUHAN Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya TUHAN dikenal dengan istilah tasawuf.

- Tahyul

Adalah kepercayaan akan hal-hal yang ghaib yang berhubungan dengan makhluk ghaib ciptaan TUHAN. Manusia Jawa sangat  mempercayai adanya kekuatan ghaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran TUHAN Sang Maha Pencipta. Kepercayaan kepada yang ghaib ini juga terdapat didalam rukun Islam.

- Tradisi

Dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan harapan doa dalam bentuk lambang atau simbol-simbol. Lambang dan simbol sering dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa.

Lambang dan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya Manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak TUHAN.

Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan TUHAN jika doa-doanya tidak hanya sekedar diucapkan dimulut saja, tapi akan diwujudkan juga dalam bentuk tumpeng, sesaji, dan lain sebagainya yang sejatinya memiliki makna tertentu sevagai bentuk pengharapan kepada TUHAN.

Dalam berdoa, masyarakat Jawa kuno akan melibatkan empat unsur tekad bulat, yaitu hati, pikiran, ucapan, dan tindakan.

Upacara-upacara tradisional yang dilakukan merupakan bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat Manusia maupun masyarakat ghaib yang sejatinya hidup berdampingan di alam semesta ini agar terjalin keselarasan dan keharmonisan dalam manembah kepada TUHAN.

Bagi masyarakat Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan sebagai bentuk ketulusan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat doa-doanya terkabul.

Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon/ela-elu, asal ngikut saja, sikap menghamburkan, dan bentuk kemubadziran.

- Kejawen

Kejawen berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur serta memuat tata cara Manusia dalam melakukan penyembahan kepada TUHAN Yang Maha Tunggal. Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh, maka dengan cara serampangan dan subyektif jauh dari kearifan dan budi pekerti luhur, para pendatang menganggap ajaran Kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran yang harus dimusnahkan.


Ironisnya, orang Jawa yang sudah “ilang Jawane” justru memiliki andil besar dalam upaya pemusnahan tradisi Kejawen. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli nenek moyangnya itulah yang pernah membawa bumi Nusantara ini mencapai masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi penerus tahta Kerajaan.

Ajaran Kejawen tentang budi pekerti untuk menggapai Manusia sejati:

Dalam khasanah kebudayaan Jawa dikenal berbagai literatur sastra yang memiliki gaya penulisan beragam dan unik, seperti: kitab, suluk, serat dan babad yang biasanya tidak hanya berupa kumpulan baris-baris kalimat, tetapi juga ditulis dengan seni kesusastraan yang tinggi berupa tembang yang disusun dalam bait-bait atau padha yang merupakan bagian dari tembang, misalnya: pupuh, sinom, pangkur, pucung, asmaradhana dan lain sebagainya.

Teks yang disusun memiliki kandungan unsur pesan moral yang di ajarkan oleh tokoh-tokoh utama atau penulisnya mewarnai seluruh isi teks.

Pendidikan moral budi pekerti menjadi pokok pelajaran yang diutamakan. Moral atau budi pekerti disini adalah kaidah-kaidah yang membedakan baik atau buruk, tata krama, aturan-aturan, larangan serta anjuran dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya.

Sumber dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai yang berkembang dimasyarakat yang bersangkutan. Kaidah tersebut akan tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan masyarakat.

Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas diharapkan dapat membuka wawasan dan hati nurani bangsa ini bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup Manusia.

Ancaman terbesar dalam kehidupan Manusia menurut ajaran Kejawen:

Dalam ajaran Kejawen terdapat dua bentuk ancaman besar kehidupan yang mendasari sikap kewaspadaan (eling lan waspada) karena dapat menghancurkan kaidah-kaidah kemanusiaan, yaitu: hawa nafsu dan pamrih.

Manusia harus mampu meredam hawa nafsunya atau nutupi babahan hawa sanga, yaitu mengontrol nafsu-nafsunya yang muncul dari sembilan unsur yang terdapat dalam diri Manusia dan melepas pamrihnya.

Dalam perspektif kaidah Jawa, nafsu merupakan perasaan kasar karena dapat menggagalkan kontrol diri, membelenggu, serta buta pada dunia lahir maupun batin.

Nafsu akan melemahkan Manusia karena menjadi sumber utama yang menghilangkan kekuatan batin. Menurut kaidah Jawa, nafsu akan lebih berbahaya karena mampu menutup akal budi sehingga Manusia yang menuruti hawa nafsu tidak lagi bisa menuruti akal budinya (budi pekerti).

Manusia yang demikian tidak akan dapat mengembangkan sisi-sisi halusnya sehingga akan semakin mengancam lingkungannya, menimbulkan konflik, ketegangan, dan merusak ketrentaman serta dapat mengganggu stabilitas kebangsaan.

Nafsu:

Hawa nafsu (lauwamah, amarah, supiyah) dalam ajaran Kejawen diungkapkan dalam bentuk akronim, yaitu apa yang disebut molimo (M5): madat, madon, maling, main, mabuk.

Untuk meredam hawa nafsu, orang Jawa akan melakukan laku tapa, seperti: tapa brata, tapa ngrame, tapa mendhem dan tapa ngeli.

Tapa Brata: Maknanya adalah membangun sikap perbuatan agar bisa menahan hawa nafsu yang berasal dari lima indra. Nafsu angkara yang buruk, yaitu lauwamah, amarah, supiyah.

Tapa ngrame: Maknanya adalah sikap untuk giat membantu, menolong sesama tanpa pamrih (Rame ing gawe sepi ing pamrih).

Tapa mendhem: Maknanya adalah mengubur nafsu riak, takabur, sombong, suka pamer dan pamrih. Semua sifat buruk harus dikubur dalam-dalam, termasuk “mengubur” amal kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain dari benak ingatan kita sendiri.

Manusia yang suci adalah mereka yang tidak ingat lagi apa saja amal kebaikan yang pernah dilakukan pada orang lain, tapi sebaliknya selalu ingat semua kejahatan yang pernah dilakukannya.

Tapa ngeli: Maknanya yaitu menghanyutkan diri ke dalam arus “aliran air sungai Dzat”, yakni mengikuti kehendak Gusti Maha Wisesa.

Seperti halnya air yang mengalir mengikuti irama alam menyusuri lekuk dan kelok sungai yang merupakan wujud bahasa kebijaksanaan alam, maka Manusia tersebut akan sampai pada muara samudra kabegjan atau keberuntungan.

Berbeda dengan aliran air bah, yang menuruti kehendak nafsu maka akan berakhir celaka, karena air bah menerjang wewaler kaidah tata krama, menerjang pepohonan dan apa saja yang ditemuinya.

Pamrih:

Pamrih merupakan ancaman ke dua bagi kehidupan Manusia. Bertindak karena pamrih berarti hanya mengutamakan kepentingan diri pribadi secara egois.

Secara sosiologis, pamrih akan mengacaukan karena tindakan yang didasari pamrih pasti tidak menghiraukan keselarasan sosial lingkungannya.

Pamrih juga akan menghancurkan diri pribadi dari dalam, kerana pamrih mengunggulkan secara mutlak keakuannya sendiri. Oleh karena itu, pamrih akan membatasi diri atau mengisolasi diri dari sumber kekuatan batin.

Dalam pandangan Kejawen, pamrih yang berasal dari nafsu ragawi akan mengalahkan nafsu sukmani (mutmainah) yang suci.

Pamrih selalu mengutamakan kepentingan-kepentingan duniawi. Dengan demikian, Manusia mengikat dirinya sendiri dengan dunia luar sehingga tidak akan mampu untuk memusatkan batin dalam dirinya sendiri.

Pamrih juga menjadi faktor penghalang bagi seseorang untuk mencapai “kemanunggalan” dengan TUHAN (Manunggaling kawulo Gusti).


Tidak semua orang dapat mengidentifikasi pamrih. Kadang orang dengan mudah mengartikan pamrih, tetapi secara tidak sadar terjebak oleh perspektif subyektif yang berangkat dari kepentingan dirinya sendiri untuk melakukan pembenaran atas segala tindakannya.

Dalam pandangan Kejawen, pamrih dibagi menjadi tiga jenis nafsu:

- Nafsu selalu ingin menjadi yang pertama: napsu golek menange dhewe (selalu ingin menang sendiri).

- Nafsu selalu menganggap dirinya paling benar: napsu golek benere dhewe.

- Nafsu selalu mementingkan kebutuhannya sendiri: napsu golek butuhe dhewe. Kelakuan buruk seperti ini disebut juga sebagai aji mumpung.

Untuk menjaga agar Manusia tetap teguh dalam menjaga kesucian jiwa dan raganya, dalam falsafah dan ajaran Jawa dikenal lakutama, atau perilaku hidup yang utama.

Sembah merupakan salah satu bentuk lakutama, yaitu sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa. Catur sembah ini senada dengan nafsul mutmainah dalam ajaran Islam yang digunakan untuk meraih makrifatullah (Nggayuh jumbuhing kawula Gusti).

Jika seseorang dapat menjalani catur sembah dengan baik, dari sembah raga sampai sembah rasa, niscaya akan mendapatkan anugerah agung menjadi Manusia linuwih atas kemurahan TUHAN Yang Maha Pengasih.


Demikian sedikit informasi tentang penyebab musnahnya tradisi Kejawen yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar dunia spiritual dan supranatural, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

0 Response to "Penyebab musnahnya tradisi Kejawen"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Untuk Pemesanan Benda Pusaka, Call/Sms: 0858-7027-7889 atau Chat via WA:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel