Advertisement

Tata Cara Mewarangi Keris

cara mutih keris yang benar
Bilah Keris yang sudah diputih dan siap diwarangi

Hartalangit.com - Dalam komunitas Tosan Aji, tentunya warangan sudah tidak asing lagi karena merupakan bahan utama untuk mewarangai Keris atau pusaka lainnya agar pamornya terlihat. Warangan adalah bahan mineral yang mengandung unsur arsenikum. Selain digunakan sebagai bahan racun tikus, warangan juga sering dipakai sebagai bahan untuk mewarangi Keris atau pusaka jenis lainnya.

Fungsi warangan dalam dunia perkerisan adalah untuk mengawetkan bilah Keris maupun Tombak agar tidak cepat rusak dan berkarat.

Mewarangi Keris juga tidak baik jika terlalu sering dilakukan, karena jika hal tersebut dilakukan maka bilah keris akan mudah keropos. Hal itu terjadi karena dalam larutan warangan juga mengandung zat asam yang berasal dari perasan air jeruk yang merupakan salah satu bahan campuran dalam membuat warangan.

Baca juga: Cara memperlakukan Keris Pusaka

Sebelum diwarangi, terlebih dulu Keris harus dibersihkan sampai benar-benar bersih dan terbebas dari semua kotoran serta karat, atau yang biasa disebut mutih.

Proses mutih Keris biasanya dilakukan antara 3 sampai 7 hari, tergantung dari kondisi bilah Keris yang dibersihkan. Jika bilah Keris sangat kotor dan berkarat maka proses mutih biasanya membutuhkan waktu lebih lama. Pada saat proses mutih, bahan yang umum digunakan adalah campuran air kelapa tua yang sudah basi dan perasan air jeruk nipis untuk merendam bilah Keris selama beberapa hari.

Kandungan zat asam pada kedua bahan tersebut bisa melarutkan kotoran-kotoran yang menempel pada permukaan bilah Keris, tapi tidak cukup hanya direndam saja untuk membersihkan permukaan bilah Kerisnya tapi juga harus disikat agar kotoran dan karatnya cepat rontok.

Sikat yang digunakan biasanya menggunakan sikat gigi yang berbulu lembut. Untuk jenis Keris yang sudah tua, larutan pembersih yang digunakan sebaiknya yang bersifat alami saja yaitu dari campuran air kelapa tua dan air perasan jeruk nipis saja seperti yang sudah disebutkan di atas tanpa campuran bahan lainnya.

Tapi untuk jenis Keris yang masih tergolong baru atau periode Kamardikan bisa juga menggunakan campuran sabun colek/detergent dengan perasan air jeruk nipis dengan ditambahkan abu gosok, atau bisa juga ditambahkan larutan sitrun (biasanya untuk campuran minuman ringan).

Kemudian campuran beberapa bahan tersebut disapukan atau dioleskan pada permukaan bilah Keris dan di diamkan beberapa saat, setelah itu baru dibersihkan dengan sikat gigi secara perlahan sampai semua karat dan kotoran hilang dan warna asli bilah Keris terlihat putih bersih keperakan.

Walaupun teknik tersebut sangat efektif dan cepat untuk membersihkan bilah Keris dari kotoran dan juga karat, tapi menurut pendapat para ahli perkerisan teknik tersebut sangat tidak dianjurkan, apalagi untuk Keris yang sudah berumur sangat tua (sepuh), karena bisa menyebabkan bilah Keris menjadi cepat rapuh dan keropos.

Baca juga: Cara menayuh Keris

Adapun campuran larutan warangan terdiri dari air perasan jeruk nipis yang sudah disuling, yaitu sekitar 5 Kg jeruk nipis diperas airnya, kemudian disaring menggunakan kain atau saringan yang lembut agar ampas jeruknya tidak ikut terbawa. Kemudian air perasan jeruk nipis yang telah disaring menggunakan kain tadi di diamkan dalam wadah selama satu minggu atau lebih.

Ketika di diamkan selama satu minggu, maka akan terjadi pengendapan pada air jeruk nipis tersebut. Dan yang digunakan sebagai campuran untuk membuat larutan warangan adalah air yang tidak mengendap, yaitu air jeruk nipis yang terlihat sangat jernih.

Takaran ideal untuk larutan warangan adalah 30 gram bahan warangan (serbuk warangan), dicampur dengan 1 liter perasan air jeruk nipis yang sudah dimurnikan. Setelah dicampur serbuk warangan, larutan kedua bahan tersebut akan berubah menjadi berwarna coklat gelap, dan siap digunakan untuk mewarangi Keris. 

Jika larutan warangan sudah disiapkan, langkah berikutnya adalah menyiapkan tempat atau wadah untuk mewarangi Keris. Pada jaman dulu wadah untuk mewarangi Keris biasanya menggunakan batang bambu yang dibelah menjadi dua bagian, tapi kalau untuk sekarang ini bisa diganti dengan menggunakan bahan yang lain, misalnya pipa paralon atau talang kotak yang terbuat dari plastik dengan ukuran yang pas untuk merendam bilah Keris didalamnya.

Setelah larutan warangan dituangkan pada wadah tersebut, Keris yang sudah bersih kemudian dimasukkan kedalam larutan warangan tersebut sampai terendam seluruhnya. Larutan warangan akan meresap kedalam pori-pori bilah Keris sehingga terjadi gelembung-gelembung udara. Setelah gelembung-gelembung udaranya hilang bilah Keris kemudian dibalik, dan setelah itu direndam lagi sekitar lima menit lalu ditiriskan. 

Cara meniriskan bilah Keris yaitu pangkal bilah Keris atau pada bagian pesi diletakkan pada bagian bawah dan ujung Keris pada bagian atas.

Setelah kering amati terlebih dulu, jika dirasa warna bilah Keris kurang hitam (masih kecoklatan), bilah Keris bisa dimasukkan lagi kedalam larutan warangan dengan cara yang sama pada proses awal tadi dan selanjutnya ditiriskan kembali hingga kering.

Jika tingkat kegelapan atau kehitaman bilah Keris dirasa sudah cukup dan pamor memiliki tingkat kekontrasan yang bagus, maka proses selanjutnya adalah mencuci bilah Keris yang baru selesai diwarangi tersebut dengan air yang mengalir.

Dan tahap terakhir adalah membersihkan sisa-sisa warangan yang tidak di inginkan pada bilah Keris dengan menggunakan potongan jeruk nipis (proses ini tidak boleh terlalu lama), setelah itu bilah Keris disiram lagi dengan air yang mengalir dan selanjutnya bilah Keris ditiriskan sampai kering. 

Proses mewarangi Keris yang paling baik dilakukan pada pagi menjelang siang hari ketika cuaca cerah, sehingga ada proses penyinaran Matahari yang bisa memaksimalkan hasil dari proses pewarangan.

Setelah bilah Keris benar-benar sudah kering langkah selanjutnya mengolesi bilah Keris yang baru selesai diwarangi tersebut dengan minyak untuk pengawet logam yang dicampur dengan minyak untuk pusaka seperti minyak cendana, minyak melati, atau minyak wangi lainnya.

Setelah diwarangi, maka bentuk atau motif pamor akan terlihat jelas karena menjadi sangat kontras dengan warna bilahnya yang sudah menjadi hitam legam, sedangkan bagian pamor sendiri masih tetap berwarna putih keperakan.

Jenis-jenis pamor:

• Batu Meteor

Pamor jenis ini memiliki ciri khas pada warna putih yang bercahaya/berkilauan dengan rabaan yang tajam.

• Besi Nikel

Pamor dengan bahan Nikel memiliki ciri khas pada warnanya yang tidak bercahaya putih, melainkan pudar kekuning-kuningan.

• Besi Penawang

Pamor besi penawang yaitu besi lunak yang berwarna putih, memiliki kesan rabaan yang halus dan berwana putih pudar.

Walaupun bahan pamor berbeda-beda jenisnya namun ada satu kesamaan yaitu bahwa ketiga jenis bahan tersebut tidak bisa berkarat dan tidak tidak terpengaruh oleh proses pewarangan serta memiliki tingkat warna yang berbeda dengan bahan besi atau baja sebagai bahan utama pembuatan Keris.

Dan bahan pamor terbaik adalah pamor dari batu meteor, karena mengandung unsur titanium yang sangat tinggi.

Baca juga: Proses panjang pembuatan sebilah Keris

Jenis-jenis warangan:

• Warangan alami

Warangan jenis ini berasal dari China, dan konon adalah yang paling bagus. Ciri khas warangan tersebut memiliki warna jingga kemerah-merahan, dan ada semacam alur-alur garis tipis dan lembut berwarna merah seperti urat pada kristalnya.

Jika digunakan sebagi bahan warangan maka akan menghasilkan tingkat kekontrasan yang sangat tinggi antara bahan pamor dengan bahan besi pada bilah Keris sehingga menghasilkan kesan yang cemerlang pada pamor Keris.

• Warangan atal

Warangan jenis ini berasal dari Thailand, dan kualitasnya kurang bagus. Warnanya kuning kotor, dengan beberapa bagian mendekati warna kuning delima atau coklat muda.

Jika digunakan sebagai bahan warangan akan menghasilkan tingkat kekontrasan yang rendah antara bahan pamor dengan bahan besi pada bilah Keris, sehingga pamor terkesan menjadi kurang cemerlang.

Walaupun umumnya proses pewarangan untuk mengawetkan bilah Keris agar tahan lama dan tidak berkarat, proses pewarangan juga bertujuan untuk membedakan antara bahan bilah Keris dan pamor yaitu warna bahan pamor dan warna besi bilah Keris. Sehingga dengan proses pewarangan motif pamor akan terlihat dengan jelas.

Namun pada jenis keris kelengan hal ini tidak berlaku, karena Keris kelengan adalah jenis Keris yang tidak memiliki motif pamor. Sehingga untuk jenis Keris kelengan, proses pewarangan semata-mata hanya untuk mengawetkan bilah Kerisnya saja.

Untuk pemesanan Keris pusaka dan benda-benda pusaka lainnya, dapat menghubungi kami via email/contact us dibagian paling bawah halaman ini. Kami jamin benda-benda pusaka koleksi kami adalah benda pusaka asli dan bertuah.

Baca juga: Manfaat khodam Keris pusaka

Demikian sedikit informasi tentang tata cara mewarangi Keris yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar benda-benda pusaka, dapat dibaca pada artikel Harta Langit yang lain.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Tata Cara Mewarangi Keris"

UNTUK PEMESANAN BENDA PUSAKA: