Advertisement

Legenda Pusaka Dewa Cupu Manik Astagina

sejarah cupu manik astagina
Ilustrasi

Hartalangit.com – Cupu Manik Astagina adalah pusaka berbentuk seperti cangkir/gelas bertutup (piala) yang konon memiliki tuah atau kesaktian yang sangat ampuh. Jika bagian tutupnya dibuka, maka seluruh kejadian didunia ini akan terlihat. Selain itu, Cupu Manik Astagina juga dapat memberikan apapun yang diminta oleh pemiliknya.

Cupu Manik Astagina adalah rahasia kehidupan jagat raya dan alam swargaloka sebagai pusaka Kadewatan yang awalnya digunakan untuk mensucikan alam para Dewata yang merupakan cinta Hyang Widhi Yang Maha Sempurna atas segala ciptaan-Nya.

Jika tutup Cupu Manik Astagina dibuka, maka pada mangkuk bagian dalamnya akan terlihat gambaran swargaloka sebagai tempat tinggal para Dewata yang serba menakjubkan dan penuh warna-warni yang sangat mempesona. 

Pada tutup bagian dalamnya dapat dilihat berbagai macam panorama menakjubkan yang ada di seluruh jagad raya ini dan akan menampakkan gambaran berganti-ganti dari satu pemandangan ke pemandangan lain bagaikan keadaan yang nyata, seolah siapa saja yang melihatnya sedang dibawa berkelana berkeliling mayapada menikmati keindahan alam dari ketinggian, memandang gunung-gunung, hutan menghijau, sungai berkelok, mega berarakan dan langit biru menyejukkan. Bahkan pusaka ini dapat memperlihatkan kejadian-kejadian yang sudah terjadi di masa lalu dan yang akan terjadi di masa depan.

Cupu Manik Astagina ternyata bersifat “Aja Wera”, benda ini tidak boleh dilihat atau dimiliki oleh Manusia biasa karena dapat membawa malapetaka. Cupu Manik Astagina adalah pusaka milik Dewi Indradi pemberian dari Bathara Surya.

Ketika memberikan Cupu Manik Astagina, Bhatara Surya mewanti-wanti agar jangan pernah sekalipun menunjukkan benda pusaka itu kepada orang lain, apalagi sampai diberikan kepada orang lain termasuk putranya sendiri. 

Jika pesan itu sampai dilanggar, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan karena Cupu Manik Astagina merupakan pusaka Kadewatan yang menurut ketentuan Dewata tidak boleh dilihat atau dimiliki oleh Manusia biasa.

Larangan itu bukan tanpa alasan karena selain memiliki kesaktian yang sangat luar biasa, Cupu Manik Astagina juga menyaimpan rahasia kehidupan alam nyata dan alam kasuwargan.

Baca juga: Perjalanan spiritual Kanjeng Sunan Kalijaga mencari guru sejati

Berikut ini kisah legenda Cupu Manik Astagina:

Alkisah, di suatu masa hidup seorang pertapa sakti bernama Resi Gotama yang tinggal dipertapaan Grastina dipuncak Gunung Sukendoro bersama istrinya Dewi Indradi dan tiga orang anak mereka, yaitu: Dewi Anjani, Guwarsa dan Guwarsi.

Resi Gotama adalah putra tunggal Resi Dewasana, putra sulung Bathara Dewanggana yang merupakan cucu buyut Bathara Surya. Resi Gotama bersaudara sepupu dengan Prabu Heriya, Raja dari Kerajaan Maespati yang merupakan kakek dari Prabu Arjunasasrabahu, dan Resi Wisanggeni dari pertapaan Ardi Sekar yang merupakan kakek dari Bambang Sumantri dan Ramaparasu (Ramabargawa).

Dewi Indradi adalah Bidadari Maniloka yang diturunkan ke Marcapada karena perilakunya yang tidak patut karena telah menjalin hubungan gelap dengan Bathara Surya hingga memiliki anak, yaitu Anjani. Sedangkan dari hubungannya dengan Bathara Bayu menghasilkan anak Guwarsi, dan hubungannya dengan Batara Indra menghasilkan anak Guwarsa.

Resi Gotama bersedia menerima Dewi Indradi dengan segala kesalahannya dan untuk menutup aib eyang-eyangnya para Dewa di Jonggringsaloka. Dia berusaha mencintai Dewi Indradi dan menuntunnya memasuki masa pertobatan agar kelak layak kembali ke surga sebagai Bidadari yang sudah bertobat.

Cinta kasihnya kepada Anjani, Guwarsa dan Guwarsi adalah kasih sayang seorang ayah yang bijaksana dan selalu membimbing dan merawat mereka seperti anak-anak kandungnya sendiri, sehingga anak-anak itu tumbuh hanya mengenal Gotama sebagai ayahnya walaupun sebenarnya ketiga anak tersebut bukanlah anak kandungnya.

Dewi Indradi merupakan seorang Bidadari yang sangat cantik rupawan keturunan Bathara Asmara. Dia memiliki pusaka Cupu Manik Astagina pemberian dari Bathara Surya sebagai tanda cintanya dan masih tetap disimpan oleh Dewi Indradi setelah menikah dengan Resi Gotama.

Pusaka Cupu Manik Astagina adalah sebuah pusaka yang dapat memperlihatkan segala keindahan dan kebahagiaan yang akan dirasakan oleh pemiliknya ketika menggunakannya. Pusaka Cupu Manik Astagina sebenarnya bukanlah pusaka yang baik untuk dimiliki karena seakan-akan dapat memberikan keindahan dan kebahagiaan namun sebenarnya semua itu hanya sebuah keindahan dan kebahagiaan yang semu, bahkan akan mengambil tumbal kebahagiaan dari orang-orang terdekat pemiliknya.

Dewi Indradi menyimpan Cupu Manik Astagina sebagai rahasia pribadinya sehingga dia sangat berhati-hati ketika menggunakan Cupu itu agar tidak ketahuan oleh orang lain termasuk suaminya, karena bagaimanapun juga Cupu itu membawa kenangan kisah masa lalunya yang kelam.

Pada suatu hari Dewi Indradi memainkan Pusaka Cupu Manik Astagina. Tanpa disadarinya, ternyata Anjani berdiri dibelakangnya sambil memperhatikan ibunya yang sedang memainkan Cupu Manik Astagina. Karena penasaran Anjani kemudian memohon kepada ibunya untuk meminjam Cupu sakti itu.

Dengan terpaksa Dewi Indradi meminjamkan Cupu Manik Astagina dengan syarat jangan sampai diketahui oleh adik-adiknya. Tapi akhirnya Anjani tidak tahan untuk tidak memamerkan Cupu sakti itu kepada kedua adiknya, Guwarsa dan Guwarsi (Sugriwa dan Subali).

Akibatnya Cupu Manik Astagina menjadi rebutan ketiga anak Dewi Indradi sehingga terjadi pertengkaran dan keributan diantara ketiga bersaudara itu. Anjani menangis dan melapor pada ibunya, sementara Guwarsa dan Guwarsi mengadu pada ayahnya. Bahkan Guwarsa dan Guwarsi menuduh ayahnya, Resi Gotama telah berbuat tidak adil karena menganak emaskan Anjani dengan memberikan hadiah yang mereka tidak dapatkan.

Tuduhan kedua putranya itu membuat Resi Gotama sedih dan prihatin sebab dirinya merasa tidak pernah membeda-bedakan ketiga anaknya. Segera saja Resi Gotama memanggil Anjani dan Dewi Indradi. Karena rasa takut dan hormat kepada ayahnya, Anjani menyerahkan Cupu Manik Astagina kepada ayahnya dan berterus terang jika benda itu dipinjam dari ibunya. 

Sementara Dewi Indradi diam membisu tidak mengatakan sepatah katapun. Sikap diam Dewi Indradi itu semakin membuat Resi Gotama marah karena menganggap Dewi Indradi tidak pernah tulus dengan pertobatannya karena masih menyimpan Cupu Manik Astagina yang merupakan pemberian Bathara Surya.

Resi Gotama yang marah besar kemudian bersupata bahwa sikap diam Dewi Indradi itu bagaikan sebuah patung batu. Karena Resi Gotama merupakan petapa sakti yang linuwih maka sabdanya langsung terjadi saat itu juga, dalam sekejap Dewi Indradi benar-benar berubah wujud menjadi batu sebesar tubuh Manusia yang mirip sebuah tugu. 

Kemudian Sang Resi mengangkat tugu batu itu lalu dilemparkannya sejauh mungkin, dan ternyata tugu batu itu jatuh di Taman Argasoka dekat Kerajaan Alengka. Kutukan Resi Gotama akan berakhir jika kelak tugu batu tersebut digunakan untuk membela kebenaran dengan dihantamkan ke kepala yaksa.

Demi keadilan, kemudian Resi Gotama melemparkan Cupu Manik Astagina ke udara untuk diperebutkan ketiga anaknya. Tutupnya terjatuh dan menjadi Telaga Nirmala di Ayodya dan Cupu yang berisi air jatuh dihutan belantara menjadi Telaga Sumala. 

Anjani, Guwarsa dan Guwarsi kemudian mengejar Cupu tersebut. Sesampainya di telaga, Guwarsa dan Guwarsi masuk menyelam ke dalam air dan berubahlah mereka manjadi kera. Dewi Anjani hanya berubah sebatas muka dan tangannya karena dia tidak menyelam kedalam telaga. Guwarsi dan Guwarsa berubah seluruh tubuhnya karena menyelam untuk memperebutkan Cupu Manik Astagina. Mereka berlari menangis sujud dihadapan Resi Gotama menyesali apa yang sudah terjadi.

Resi Gotama berkata kepada ketiga anaknya:

“Anak-anakku, inilah buah ketidak rukunan kalian yang memperebutkan sesuatu sampai melupakan kerukunan antara saudara, seperti tingkah laku kera yang selalu berebut. Guwarsi, dengan wujudmu yang seperti kera, mulai sekarang engkau akan dipanggil sebagai Subali, dan engkau Guwarsa, namamu sekarang adalah Sugriwa”

Dan untuk menebus kesalahannya agar bisa kembali menjadi Manusia, Resi Gotama menganjurkan ketiga putranya untuk melakukan tapa. Akhirnya mereka bertiga bertapa, Dewi Anjani bertapa nyantika (seperti katak) di telaga Madirda, Subali melakukan tapa ngalong (seperti kelelawar), dan Sugriwa melakukan tapa seperti kijang di hutan Sunyapringga. Ketiga anak itu menganggukkan kepala sebagai isyarat patuh pada sabda ayahnya.

Resi Gotama membekali mereka dengan nasehat:

“Anjani, dengan laku tapamu nanti engkau akan menemukan jodohmu dan memiliki anak darinya. Peganglah nasehatku: Tumraping wanita utama, anak kang dadi wohing among asih, mula putra wayah wulangen marang kautaman, predinen susileng tata, supaya gawe pepadhaning kaluwarga (Bagi wanita yang utama, anak itu buah cinta, maka didiklah anak cucu dengan budi pekerti, ahlak, dan moralnya agar menjadi kebanggaan keluarga). Subali, sedulur iku apik kabeh darba panjangka amrih rahayu, mapan sira nampa sing kosok wangsule sing dawa ususe. Sing sapa lali marang kabecikaning liyan, iku kaya kewan (Persaudaraan itu seharusnya baik, semua untuk kesejahteraan, jika engkau menemukan kebalikannya, maka yang sabar, siapa yang melupakan kebaikan orang lain, itu seperti hewan). Sugriwa, ojo leren lamun durung sayah, ojo mangan lamun durung luwe, ojo lali karo asale, jagat ora mung sagodhong kelor, kareben nggremet waton slamet (Jangan istirahat saat belum lelah, jangan makan saat belum lapar, jangan lupa dengan asal-usulmu, dunia tidak sedaun kelor (luas), hati-hatilah biar lambat asal selamat”

Setelah menerima nasehat dari Resi Gotama yang menyiratkan masa depan mereka masing-masing, ketiga bersaudara itu segera berpisah untuk bertapa menjalani penebusan dosa sebagaimana nasehat dari Resi Gotama.

Dari kisah tersebut kita bisa mengambil pelajaran bahwa keindahan dan kesenangan duniawi yang digambarkan sebagai Cupu Manik Astagina (surga dunia) sejatinya adalah keindahan dan kesenangan semu yang justru akan menjerumuskan Manusia kedalam jurang kenistaan. Menjadikan Manusia bagaikan hewan dan menjauhkannya dari surga yang sejati.

Baca juga:

Sejarah dan makna jimat Kalimasada

Sejarah Keris Empu Gandring dan berdirinya Kerajaan Singosari

Demikian sedikit informasi tentang legenda pusaka Dewa Cupu Manik Astagina yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar dunia spiritual dan supranatural, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat

Terima kasih

0 Response to "Legenda Pusaka Dewa Cupu Manik Astagina"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Untuk Pemesanan Benda Pusaka, Call/Sms: 0858-7027-7889 atau Chat via WA: