Advertisement

Jenis-jenis Kujang dan fungsinya

kujang ciung
Kujang

Hartalangit.com – Kujang adalah senjata tradisional khas Jawa Barat (Sunda) yang dibuat dengan tehnik tempa lipat seperti halnya Keris. Kujang dalam kaidah keilmuan termasuk ke dalam kategori Tosan Aji yang kedudukannya berada diatas senjata-senjata jenis lain dan perkakas. Tosan Aji mengandung pengertian sebagai besi yang berharga, dimuliakan, diagungkan atau disakralkan.

Kujang diciptakan oleh seorang Guru Teupa setingkat dengan seorang Mpu pembuat Keris. Dalam berbagai sumber dinyatakan bahwa ada beberapa nama Mpu dari zaman Pajajaran, seperti Mpu Windu Sarpa Dewa (Pajajaran Mangukuhan/Pajajaran Awal), Mpu Ni Mbok Sombro, Mpu Kuwung, Mpu Loning, dan lainnya. Selain membuat Keris, mereka juga membuat Kujang.

Dalam proses pembuatan Kujang, seorang Guru Teupa harus mengikuti aturan-aturan tertentu agar Kujang dapat terbentuk dengan sempurna, baik sisi fisik maupun sisi ghaibnya. Aturan-aturan tersebut diantaranya adalah mengenai waktu untuk memulai proses pembuatan Kujang yang dikaitkan dengan kemunculan bintang di langit atau bintang kerti.

Selama proses pembuatan Kujang, Guru Teupa harus dalam keadaan suci dengan cara melakukan olah tapa (puasa) agar terlepas dari hal-hal buruk yang dapat membuat Kujang yang dihasilkan menjadi tidak sempurna.

Seorang Guru Teupa harus memiliki kesaktian yang tinggi agar dapat menambah daya magis dari Kujang yang dibuatnya. Agar Kujang memiliki daya magis yang kuat, biasanya Guru Teupa akan mengisinya dengan kekuatan ghaib yang dapat bersifat buruk atau baik. Kekuatan ghaib yang bersifat buruk atau jahat biasanya berasal dari khodam jenis siluman seperti harimau, ular, dan lainnya. Sedangkan kekuatan ghaib yang bersifat baik biasanya berasal dari roh para leluhur atau guriyang.

Baca juga: Karakter/sifat Keris menurut sosok ghaib/khodamnya

Kujang dan berbagai jenis Tosan Aji lainnya memerlukan waktu yang lama dalam proses pembuatannya, bahkan ada yang sampai memakan waktu bertahun-tahun. Hal ini merupakan sebuah bukti bahwa Kujang tidak hanya berfungsi sebagai senjata saja tapi lebih berfungsi simbolis, dimana nilai-nilai luhur ditanamkan didalamnya seperti halnya Keris dan Tombak.

Kujang bagi orang Sunda merupakan piandel yang berfungsi menguatkan karakter atau jati diri, karena Kujang merupakan simbol dari kosmologi Sunda, yaitu mikrokosmos/jagat leutik dan makrokosmos/jagat gede atau sama dengan konsep Jawa “Manunggaling kawulo Gusti”.

Selain sebagai piandel, Kujang juga disebut gagaman atau sebuah perlambang bagi Manusia Sunda yang sudah memiliki ageman atau ilmu tertentu. Kujang berfungsi pula sebagai simbol dari etika/atikan Sunda dan estetika/anggitan Sunda.

Begitu pentingnya Kujang bagi masyarakat Sunda sehingga banyak dijadikan sebagai lambang berbagai lembaga, seperti: Pemerintahan Provinsi Jawa Barat, Pemda, Lembaga Pendidikan, Divisi Angkatan Darat dan berbagai lembaga dan organisasi lainnya. Tugu Kujang juga banyak didirikan diberbagai wilayah di Jawa Barat yang merupakan sebuah bukti bahwa Kujang berfungsi secara simbolis dan memiliki makna filosofis yang luhur bagi masyarakat Sunda.

Sisi tajam pada bilah Kujang merupakan perlambang dari “ketajaman ilmu” dan sama sekali tidak berfungsi secara aplikatif (sebagai alat tikam atau alat iris). Kujang diciptakan dengan latar belakang kearifan budaya Sunda yang secara umum sama dengan berbagai jenis Tosan Aji lainnya di Indonesia.

Penamaan dhapuran Kujang harus menjadi sebuah kesepakatan untuk sebutan akan sesuatu berdasarkan bentuk, jenis, fungsi, atau berbagai hal yang berkaitan erat dengan sejarah Kujang itu sendiri.

Dalam wacana dan khasanah kebudayaan Nusantara, Kujang diakui sebagai senjata tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) dan Kujang dikenal sebagai senjata yang memiliki nilai sakral dan dipercaya memiliki kekuatan magis.

Istilah Kujang berasal dari kata Kudihyang dengan akar kata Kudi dan Hyang. Kujang juga berasal dari kata Ujang, yang berarti Manusia atau Manusa. Manusia yang sakti sebagaimana Prabu Siliwangi, Manusia yang sempurna dihadapan TUHAN dan memiliki derajat yang tinggi.

Kudi diambil dari bahasa Sunda kuno yang artinya senjata yang memiliki kekuatan ghaib dan memiliki tuah sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh, menghindari bahaya atau menangkal hama dan wabah penyakit. Kujang juga sering disimpan sebagai pusaka untuk melindungi rumah dan penghuni rumah dari marabahaya dengan meletakkannya ditempat khusus didalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur.

Sedangkan Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, tapi bagi masyarakat Sunda, Hyang memiliki arti dan kedudukan yang lebih tinggi dari Dewa. Hal itu bisa dilihat dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.

Secara umum, Kujang merupakan benda pusaka yang memiliki kekuatan tertentu yang berasal dari para Dewa (Hyang) dan sebagai sebuah senjata. Sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati posisi yang sangat istimewa bagi masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan nilai-nilai filosofis yang terkandung didalamnya, Kujang digunakan sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi dan lembaga pemerintahan di Jawa Barat.

Pada masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun dalam cerita-cerita yang berkembang dalam tradisi masyarakat Sunda.

Seiring dengan perkembangan teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang juga mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, Kujang kemudian berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini yang diperkirakan dibuat antara abad 9 sampai abad 12.

Baca juga: Sejarah dan filosofi Kujang Pasundan

Kujang sebagai “gagaman” umumnya memiliki ciri-ciri khusus seperti halnya jenis Tosan Aji lainnya, yaitu dibuat dengan tehnik tempa lipat dari beberapa jenis logam berbeda sehingga menghasilkan motif yang disebut pamor.

Pamor adalah motif atau gambaran tertentu yang terdapat pada bilah Tosan Aji seperti Kujang, Keris dan Tombak. Kujang pusaka umumnya tidak digunakan secara langsung dalam sebuah pertarungan atau peperangan, tapi hanya digunakan sebagai piandel saat berperang (batur ludeung) atau sebagai senjata pamungkas.

Dalam Kamus Basa Sunda karangan Satjadibrata (1954:278) disebutkan bahwa pamor adalah “Ngaran-ngaran gurat-gurat nu jiga gambar (dina Keris atawa Tumbak) jeung dihartikeun oge cahaya”. Artinya: “Pamor adalah nama garis yang menyerupai gambar (baik yang terdapat pada Keris atau Tumbak) pamor juga dapat diartikan cahaya”.

Dalam bahasa Kawi, berarti campuran atau percampuran, dan dalam Enskilopedia Sunda, Alam, Manusia, dan Budaya (2000:400)disebutkan bahwa pamor adalah permukaan bilah Keris yang dipercaya memiliki khasiat baik atau khasiat buruk. Pamor yang berkhasiat/bertuah baik adalah pamor yang dapat memberi keselamatan kepada pemilik atau pemakainya, sedangkan pamor yang berhasiat/bertuah buruk adalah pamor yang di anggap membawa sial atau ingin membunuh musuh atau bahkan pemiliknya sendiri.

Selain itu, Ensiklopedia Sunda, Alam, Manusia, dan Budaya (2000:400) juga menyebutkan bahwa pamor berarti benda-benda yang berasal dari luar angkasa yang digunakan sebagai bahan pembuatan Kujang. Benda-benda luar angkasa tersebut dibedakan menjadi 3 jenis, antara lain:

1. Meteorit, yaitu benda yang mengandung besi dan nikel yang jika dijadikan Kujang akan berwarna putih keabu-abuan (pamor bodas). Pamor ini dipercaya memiliki tuah untuk keselamatan.

2. Siderit, yaitu benda yang hanya mengandung baja sehingga jika dijadikan Kujang akan berwarna hitam (pamor hideung). Pamor ini dipercaya memiliki tuah buruk dan membahayakan.

3. Aerolit, yaitu benda langit yang jika dijadikan kujang akan berwarna kuning (pamor kancana).

Pamor yang terdapat pada Kujang diperkirakan berjumlah sekitar 87 jenis, antara lain: kembang pala, saleunjeur nyere, kenong sarenteng, malati sarenteng, padaringan leber, hujan mas, kemban lo, batu demprak, ngulit samangka, kembang lempes, malati nyebar, simeut tungkul, sinom robyong, beas mawur, baralak ngantay, sagara hieum, nuju gunung, rambut keli, mayang ligar, kembang kopi, tunggul wulung, kembang angkrek, tundung, sungsum buron, simbar simbar, sangga braja, poleng, ombak sagara, pulo tirta, manggada, talaga ngeyembeng, keureut pandan, tambal wengkon, huntu cai, bawang sakeureut, cucuk wader, gunung guntur, gajih, sanak, ngarambut, raja di raja, janus sinebit, kota mesir, lintang kemukus, kembang tiwu, sisit sarebu, tunggak semi, oray ngaleor, pari sawuli, sumur sinaba, selo karang, lintang purba, sumber, prabawa, pangasih, raja kam kam, riajah, bala pandita, pancuran mas, sumur bandung, adeg tilu, tangkil, kendagan, buntel mayit, kembang pakis, dua warna, karabelang, manggar, pandhitamangun suka, borojol, bugis, gedur, tunggak semi, tambol, tumpuk, sekar susun, huntu simeut, raja temenang, pulo duyung, bulan lima, pupus aren, wulan wulan, ruab urab, singkir ros tiwu, dan rante.

Baca juga: Nama-nama pamor Keris lengkap dengan gambar dan penjelasan tentang tuahnya

Bentuk atau dhapuran Kujang juga bermacam-macam, antara lain:

1. Kujang Ciung, yaitu Kujang yang bentuknya menyerupai burung ciung.

2. Kujang Jago, yaitu Kujang yang bentuknya menyerupai ayam jago.

3. Kujang Kuntul, yaitu Kujang yang bentuknya menyerupai burung kuntul.

4. Kujang Bangkong, yaitu Kujang yang bentuknya menyerupai bangkong (kodok).

5. Kujang Naga, yaitu Kujang yang bentuknya menyerupai naga.

6. Kujang Badak, yaitu Kujang yang bentuknya menyerupai badak.

7. Kudi, yaitu Pakarang yang menyerupai Kujang.

Jika dilihat dari fungsinya, Kujang dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:

1. Kujang sebagai Pusaka yang merupakan lambang keagungan seorang Raja atau pejabat Kerajaan.

2. Kujang sebagai Pakarang yang berfungsi sebagai senjata untuk berperang.

3. Kujang sebagai Pangarak yang digunakan sebagai alat dalam upacara.

4. Kujang sebagai Pamangkas yang berfungsi sebagai alat dalam pertanian untuk memangkas, nyacar, dan menebang tanaman.

Kujang yang tergolong lengkap umumnya terdiri dari beberapa bagian, yaitu:

1. Pamatuk atau Congo, yaitu bagian ujung bilah yang runcing yang digunakan untuk menoreh atau mencungkil.

2. Eluk atau Siih, yaitu lekukan-lekukan pada bilah Kujang yang fungsinya untuk mencabik-cabik bagian tubuh lawan yang terkena tusukan.

3. Waruga, yaitu badan atau wilahan Kujang.

4. Mata, yaitu lubang-lubang kecil yang terdapat pada bilahan/bilah Kujang yang awalnya pada lubang-lubang tersebut ditutup/disumpal emas, perak, atau batu permata. Tetapi saat ini yang ditemukan kebanyakan hanya tersisa lubang-lubangnya saja. Lubang-lubang tersebut gunanya sebagai lambang untuk mewakili status sosial pemakainya. Jumlah lubang pada bilahan/bilah Kujang paling banyak ada 9 mata (lubang), dan paling sedikit 1 mata (lubang), tapi ada juga Kujang yang tidak bermata, yang disebut "Kujang Buta".

5. Tongtong, yaitu sisi tajam yang terdapat pada bagian punggung Kujang yang berfungsi untuk mengerat atau mengiris.

6. Beuteung, yaitu sisi tajam pada bagian perut Kujang yang fungsinya sama dengan bagian punggung Kujang.

7. Tadah, yaitu lengkung kecil pada bagian bawah perut Kujang, gunanya untuk menangkis dan melintir senjata musuh agar terpental dari genggaman.

8. Paksi, yaitu bagian ekor Kujang yang berbentuk lancip untuk dimasukkan ke dalam lubang pada gagang Kujang.

9. Selut, yaitu ring yang dipasang pada ujung gagang Kujang yang berguna untuk memperkokoh/memperkuat cengkraman gagang Kujang pada paksi.

10. Combong, yaitu lubang yang terdapat pada gagang Kujang sebagai tempat untuk menanam paksi (ekor Kujang).

11. Gonjo atau Landean adalah nama khas gagang/tangkai Kujang.

12. Kowak atau Sarung Kujang yang terbuat dari kayu Samida yang memiliki aroma khas dan dapat menambah daya magis Kujang.

13. Pamor, adalah pola/motif berupa garis-garis (sulangkar) atau bintik-bintik (tutul) yang terdapat pada bilahan/bilah Kujang atau disebut juga sebagai Sulangkar atau Tutul yang fungsinya untuk memperindah bilahan/bilah Kujang. Proses untuk menampakkan wujud pamor yaitu dengan menggunakan warangan (arsenik) yang juga merupakan racun untuk mematikan musuh dengan cepat.

Baca juga: Nama-nama dhapur Keris dan Tombak lengkap menurut pakem Jawa

Konon, pada zaman Kerajaan Pajajaran Kujang hanya boleh dimiliki oleh orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu berdasarkan status sosialnya, seperti: Raja, Prabu anom (putera mahkota), golongan pangiwa, golongan panengen, golongan agama, para puteri serta kaum wanita tertentu dan para kokolot. Sedangkan bagi rakyat biasa hanya boleh memiliki senjata tradisional atau pakakas, seperti golok, congkrang, sunduk, dan Kujang yang fungsinya hanya digunakan untuk bertani dan berladang.

Setiap orang atau golongan tersebut memiliki Kujang yang jenis, bentuk dan bahannya tidak boleh sama. Misalnya, Kujang Ciung yang bermata 9 buah hanya dimiliki oleh Raja, Kujang Ciung yang bermata 7 buah hanya dimiliki oleh Mantri Dangka dan Prabu Anom, dan Kujang Ciung yang bermata 5 buah hanya boleh dimiliki oleh Girang Seurat, Bupati Pamingkis serta Bupati Pakuan.

Selain oleh ketiga golongan tersebut, Kujang Ciung juga dimiliki oleh para tokoh Agama. Misalnya, Kujang Ciung bermata 7 hanya dimiliki oleh para Pandita atau ahli Agama, Kujang Ciung bermata 5 hanya dimiliki oleh para Geurang Puun, Kujang Ciung bermata 3 hanya dimiliki oleh para Guru Tangtu Agama, dan Kujang Ciung bermata 1 hanya dimiliki oleh Pangwereg Agama.

Sebagai catatan, para Pandita ini sebenarnya memiliki jenis Kujang khusus yang bertangkai panjang yang disebut Kujang Pangarak yang umumnya digunakan dalam upacara-upacara keagamaan, seperti upacara bakti arakan dan upacara kuwera bakti sebagai pusaka pengayom kesentosaan seluruh Negeri.

Begitu juga dengan jenis-jenis Kujang yang lain, seperti misalnya:

- Kujang Jago hanya boleh dimiliki oleh orang yang memiliki status setingkat Bupati, Lugulu, dan Sambilan.

- Kujang Kuntul hanya dipergunakan oleh para Patih (Patih Puri, Patih Taman, Patih Tangtu, Patih Jaba, dan Patih Palaju) dan Mantri (Mantri Majeuti, Mantri Paseban, Mantri Layar, Mantri Karang, dan Mantri Jero).

- Kujang Bangkong dipergunakan atau dibawa oleh Guru Sekar, Guru Tangtu, Guru Alas, dan Guru Cucuk.

- Kujang Naga dipergunakan oleh para Kanduru, Para Jaro (Jaro Awara, Jaro Tangtu, dan Jaro Gambangan).

- Kujang Badak dipergunakan oleh para Pangwereg, Pamatang, Panglongok, Palayang, Pangwelah, Baresan, Parajurit, Paratutup, Sarawarsa, dan Kokolot.

Sedangkan kepemilikan Kujang bagi kelompok wanita menak (bangsawan) dan golongan wanita yang memiliki tugas dan fungsi tertentu, misalnya Putri Raja, Putri Kabupatian, Ambu Sukla, Guru Sukla, Ambu Geurang, Guru Aes, dan para Sukla Mayang (Dayang Kabupatian) yang dipergunakan adalah Kujang Ciung dan Kujang Kuntul. Sedangkan untuk kaum perempuan yang bukan termasuk golongan bangsawan, biasanya mereka mempergunakan senjata yang disebut Kudi yang berbahan besi baja dengan bentuk kedua sisinya sama, bergerigi dan ukurannya sama dengan Kujang Bikang (Kujang yang dipergunakan wanita) dengan ukuran panjang kira-kira satu jengkal (termasuk tangkainya).

Cara membawa Kujang:

Sebagai senjata yang dianggap sakral dan memiliki kekuatan magis, Kujang tidak boleh dibawa secara sembarangan. Ada cara-cara tertentu jika ingin pergi dengan membawa Kujang, diantaranya adalah:

- Disoren, yaitu digantungkan pada pinggang sebelah kiri dengan menggunakan sabuk atau tali pengikat yang di lilitkan dipinggang. Kujang-Kujang yang dibawa dengan cara disoren biasanya adalah Kujang yang bentuknya lebar (Kujang Galabag), seperti: Kujang Naga atau Kujang Badak.

- Ditogel, yaitu dibawa dengan cara diselipkan pada sabuk bagian depan perut tanpa menggunakan tali pengikat. Kujang-Kujang yang dibawa dengan cara demikian biasanya adalah Kujang yang bentuknya ramping (Kujang Bangking), seperti Kujang Ciung, Kujang Kuntul, Kujang Bangkong, dan Kujang Jago.

- Dipundak, yaitu dibawa dengan cara dipikul tangkaian di atas pundak seperti memikul Tumbak. Kujang yang dibawa dengan cara demikian adalah Kujang Pangarak karena memiliki tangkai yang cukup panjang.

- Dijinjing, yaitu membawa Kujang dengan cara ditenteng atau dipegang tangkainya. Kujang yang dibawa dengan cara seperti ini biasanya adalah Kujang Pamangkas atau Kujang yang tidak memiliki Kowak atau Warangka.

Baca juga: Cara dan etika menghunus Keris dari warangkanya

Demikian sedikit informasi tentang Jenis-jenis Kujang Pasundan dan fungsinya yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar benda-benda pusaka, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat

Terima kasih

0 Response to "Jenis-jenis Kujang dan fungsinya"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Untuk Pemesanan Benda Pusaka, Call/Sms: 0858-7027-7889 atau Chat via WA: