Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Advertisement

Pemahaman tentang tuah pada Keris pusaka

tuah keris pusaka
Keris Sengkelat

Hartalangit.com - Keris dan Tombak merupakan piandel dan juga sebuah tuntunan hidup jika kita mendalami dan memahami makna atau pesan didalamnya. Piandel adalah sebuah keyakinan dan kepercayaan yang termanifestasi dalam wujud benda-benda pusaka yang syarat akan lambang yang harus didalami dan dimengerti dengan baik, benar dan mendalam agar tidak salah pemahaman.

Kepercayaan tersebut bukan tentang sesuatu yang pantas disembah dan dipuja, tetapi sebuah media yang berwujud benda yang berisi do'a, harapan dan tuntunan hidup (filosofi hidup) yang termaktub dalam "Sangkan parang dumadi, sangkan paraning pambudi, dan manunggaling kawula Gusti". Piwulang-piweling tersebut terformulasi dalam sebuah benda yang disebut Keris pusaka atau Tombak pusaka.


Memaknai Keris sama halnya dengan memaknai Wayang. Keleluasaan pemahaman dan pengertiannya tergantung pada luasnya cakrawala dan pengalaman hidup orang tersebut terhadap hidup dan kehidupan. Jadi, cara pandangnya tergantung pada "Kadhewasaning Jiwo Jawi" atau kedewasaan orang dalam berfikir dan bersikap secara arif dan bijaksana. Semakin orang itu kaya pengalaman rohani, maka semakin dia mampu menjabarkan apa yang menjadi pesan dari sebilah Keris.

Pada mulanya, ketika orang Jawa masih pada masa peradaban berburu, Keris merupakan alat untuk berburu (mencari hidup). Kemudian ketika Manusia mulai menetap dan bersosialisasi dengan sesamanya, kemudian Keris menjadi alat untuk berperang (mempertahankan hidup). Dan setelah tidak lagi diperlukan untuk berperang dan Manusia mulai berbudaya, maka Keris berubah fungsi menjadi senjata kehidupan (tuntunan hidup), yaitu senjata untuk mengasah diri menjadi orang yang lebih religius hingga dapat mencapai penyatuan diri dengan SANG PENCIPTA (Manunggaling Kawulo Gusti). Hal ini sangat nyata ditunjukkan dalam simbol-simbol pada dhapur dan ricikan Keris yang semuanya penuh makna spiritual dan bahkan jika dipahami tidak ada unsur kleniknya sama sekali.

Ilmu Keris adalah ilmu lambang. Mengerti dan memahami bahasa lambang perlu mengandalkan kedalaman rasa, bukan hanya kemampuan intelektual saja.

Jadi sangat keliru jika memahami Keris secara dangkal sebagai sebuah benda yang memiliki kekuatan magis yang dapat mengangkat harkat dan martabat Manusia. Keris di anggap sebagai pusaka karena makna lambang-lambangnya yang di anggap mampu menuntun pemiliknya untuk hidup secara benar, baik dan seimbang dalam kehidupannya.

Bagi orang Jawa, hidup ini penuh perlambang yang masih samar-samar dan perlu diterjemahkan melalui berbagai laku tirakat maupun dalam berbagai aktivitas sehari-hari, baik itu pada makanan, bangunan, dan benda-benda lainnya termasuk pada Keris dan Tombak.


Pada benda-benda tersebut tersembunyi sebuah misteri berupa pesan dan piwulang yang diperlukan Manusia untuk mengarungi kehidupan hingga kembali bersatu dengan SANG PENCIPTA.

Dalam tradisi budaya Jawa ada sebuah pemahaman "Bapa (wong tuwa) tapa, anak nampa, putu nemu, buyut katut, canggah kesrambah, mareng kegandeng, uthek-uthek gantung siwur misuwur". Artinya, "Jika orang tua berlaku tirakat maka hasilnya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri dan anak-anaknya saja, tapi bisa dirasakan juga oleh semua keturunannya". Demikian juga sebaliknya, jika orang tua berbuat buruk, maka karmanya juga akan dirasakan oleh keturunannya. Oleh karena itu, Manusia Jawa selalu di ajarkan untuk hidup prihatin, hidup "eling lan waspada", hidup penuh laku dan berharap.

Siratan-siratan laku, tirakat, do'a, harapan, cita-cita, restu, sekaligus tuntunan itu diwujudkan oleh para leluhur Jawa dalam wujud sebuah senjata. Senjata bukan dilihat hanya sebagai wadag senjata (Tosan Aji), melainkan dengan pemahaman supaya Manusia sadar bahwa senjata hidup dan kehidupan adalah sebuah kearifan untuk selalu mengasah diri dalam olah hidup batin.

Oleh karena itu, orang Jawa menyebut Keris sebagai Piandel (sipat kandel) karena Keris memanifestasikan do'a, harapan, cita-cita dan tuntunan hidup melalui dhapur, ricikan, pamor, besi, dan baja yang dibuat oleh para Empu dalam laku tapa, prihatin, puasa, do'a dan harapan yang dipanjatkan kepada TUHAN.

Jadi, tuah pada Keris dan Tombak pusaka ada karena do'a-do'a yang dipanjatkan oleh Empu pembuatnya kepada TUHAN agar harapan dan cita-cita pemilik Keris bisa tercapai.

Harapan dan do'a-do'a yang tertanam dalam lipatan-lipatan besi, baja dan pamor tersebut akan menjadi energi positif yang bisa mempengaruhi karakter pemiliknya. Jika pemilik Keris bisa selaras dengan makna dan pesan dari Kerisnya, maka dia bisa merasakan tuah dari Kerisnya dan itu semua karena perilakunya sendiri.

"Niat ingsun nyebar gondo arum, tyas manis kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama". Artinya: "Tekadku menyebarkan keharuman nama berlandaskan hati yang pantas, berbicara dengan baik, enak didengar, dan menjalankan laku keutamaan".

Meski demikian Keris tetaplah benda mati. Orang Jawa tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru tentang pusaka. Peringatan para leluhur tentang hal ini adalah: "Janjine dudu jimat kemat, ananging agunging GUSTI kang pinuji". Yang artinya: "Janjinya bukan jimat, tapi keagungan TUHAN-lah yang dipuji".

"Nora kepengin misuwur karana peparinge leluhur, ananging tumindak luhur karana piwulange leluhur". Artinya: "Tidak ingin terkenal lantaran warisan leluhur, tapi bertindak luhur karena melaksanakan ajaran para leluhur". Oleh karena itu, jika dipahami lebih mendalam, Keris bukanlah sebuah jimat, tapi lebih sebagai piandel sebagai sarana berbuat kebajikan dan memuji keagungan TUHAN.


Demikian sedikit informasi tentang pemahaman tentang tuah pada Keris pusaka yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar benda-benda pusaka, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a comment for "Pemahaman tentang tuah pada Keris pusaka"

Untuk Pemesanan Benda Pusaka, Call/Sms: 0858-7027-7889 atau Chat via WA: