Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Advertisement

Makna simbol-simbol pada Keris Omyang Jimbe

keris omyang jimbe
Ilustrasi Keris Omyang Jimbe

Hartalangit.com - Keris Omyang Jimbe memiliki ciri khas berupa ukiran sepasang Puthut/Cantrik pada gandhik dan wadidangnya. Selain itu juga terdapat beberapa ukiran pada bilahnya seperti Aksara Jawa, Kapas dan Padi, Pohon Beringin, dan Payung Tertutup.

Simbol-simbol yang terdapat pada bilah Keris Omyang Jimbe tentunya bukan hanya sebagai penghias bilah Keris saja, tapi masing-masing dari simbol-simbol tersebut memiliki makna tersirat yang merupakan pesan atau ajaran sebagai tuntunan hidup.

Baca juga: Mengupas makna dhapur Keris Puthut Kembar/Omyang Jimbe

Makna dari simbol-simbol tersebut adalah:

• Relief Puthut Kembar

Bentuk Puthut tersebut konon berasal dari sebuah cerita legenda tentang Cantrik yang diminta/ditugaskan untuk menjaga sebuah pusaka oleh gurunya. Puthut/Cantrik tersebut ditugaskan untuk berjaga sambil terus berdo'a dan memohon pertolongan serta kekuatan dari Yang Maha Kuasa yang disimbolkan dengan ukiran bentuk Puthut yang sedang duduk bersimpuh sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas seperti sedang berdo'a.

Bentuk Puthut laki-laki dan perempuan melambangkan keseimbangan dan juga perpaduan, bahwa semua yang ada di Dunia ini diciptakan berpasang-pasangan, seperti laki-laki dan perempuan, siang dan malam, gelap dan terang, hitam dan putih, sedih dan gembira, baik dan jahat, dan lainnya.

Pada keris dhapur Puthut Kembar bisa kita amati bahwa bentuk wajah Puthut tersebut adalah seorang laki-laki dibagian depan (gandhik) dan seorang perempuan dibagian belakang (wadidang). Dan keduanya tampak sama-sama mengenakan gelungan ikat kepala dengan posisi duduk dengan bersimpuh (sikap duduk bertapa) dengan menengadahkan tangan ke atas seperti posisi sedang berdo'a.

Sebagai seorang murid yang sedang menimba ilmu, untuk mencapai tingkat tertentu dari suatu ilmu, maka harus menjalaninya dengan proses tirakat dan semedi untuk mencapai keheningan, ketenangan batin, tawakal, dan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa.

Jika hati dan jiwa kita bersih, maka kita akan dengan mudah menyerap dan menguasai ilmu yang sedang kita pelajari. Maka sebagai seorang murid, atau orang yang sedang belajar kita harus bisa menjauhkan diri dari sifat sombong, congkak atau sifat merasa tahu/sok tahu (rumongso biso). Seperti pepatah Jawa yang mengatakan "Ojo rumongso biso tapi kudu biso rumongso". (Jangan merasa bisa tapi harus bisa merasa).

Seorang murid perlu membuka wawasannya, harus bisa mawas diri, harus rendah hati, sederhana, andhap asor, dan mau belajar dari orang lain. Itulah laku yang harus dijalankan oleh seorang murid/santri/cantrik dari jaman dulu, kemarin, sekarang, sampai pada jaman yang akan datang, karena itulah hakikat seorang murid.

• Kapas dan Padi

Kapas dan padi melambangkan sandang dan pangan, yaitu kebutuhan lahiriah dalam kehidupan Manusia. Sandang lebih di dahulukan, sedangkan pangan di nomor duakan.

Hal itu mengandung ajaran filosofis bahwa sandang berhubungan dengan kesusilaan, karena itu lebih diutamakan, sedangkan pangan berhubungan dengan lahiriah sehingga di nomor duakan.

Oleh karena itu, Manusia hendaknya harus lebih mengutamakan kesusilaan daripada masalah pangan/materi. Kehidupan Manusia di Dunis memang tidak dapat lepas dari kebutuhan-kebutuhan Duniawi. Simbol Kapas dan Padi juga melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Dan diharapkan dengan memiliki Keris Omyang tersebut dapat membawa kemakmuran bagi pemiliknya.

• Pohon Beringin

Pohon Beringin adalah lambang kesuburan dan perlindungan. Rindangnya cabang dan daun pohon Beringin seolah mengayomi dan membuat orang merasa betah dan terlindungi ketika berteduh dibawahnya.

Pohon Beringin juga dipandang sebagai simbol pemelihara kehidupan (lingkungan). Karena dengan adanya pohon Beringin dipercaya dapat menjaga ketersediaan air di lingkungan sekitar pohon tersebut tumbuh.

Pohon Beringin memiliki kemampuan untuk menyimpan banyak air, maka tidak heran jika pohon Beringin cukup berperan terhadap kelestarian lingkungan. Karena itu, manfaat dari adanya pohon Beringin tersebut menjadi dasar yang menyatakan bahwa pohon Beringin adalah simbol pengayoman.

Di Pulau Bali banyak terdapat pohon Beringin yang berukuran besar dan sudah berusia ratusan tahun dan biasanya selalu dibalut dengan kain bercorak kotak-kotak dengan warna hitam putih.

Beringin bagi orang Hindu di Bali memiliki arti yang penting, karena selain bisa memberikan keteduhan, pada jaman Kerajaan Bali dahulu, pohon Beringin merupakan tempat khusus untuk menunggu dan berteduh bagi seseorang yang belum mendapatkan ijin untuk menghadap Raja.

Bagi umat Hindu di Bali, peranan pohon Beringin sangat penting dalam upacara "Memukur" yang biasanya diselenggarakan pada 42 hari setelah upacara Ngaben.

Jiwa orang yang telah meninggal dunia dan telah dibebaskan dari raganya (di Ngaben), untuk sementara waktu tinggal diantara daun dan cabang-cabang pohon Beringin. Selama upacara "Memukur",  jiwa tersebut dibawa turun dari pohon Beringin dan kemudian di larung ke laut sehingga menjadi murni dan kemudian di disemayamkan di tempat suci keluarga "Merajan".

Mereka dipercaya telah menjadi Betara dan Betari (leluhur yang telah disucikan), yang akan memberikan tuntunan kepada keturunannya di Dunia.

Pohon Beringin juga melambangkan wibawa karena kerap mengisyaratkan "Keangkeran/Kesungkeran" dari suatu tempat yang ada pohon Beringinnya. Hal itu karena pengaruh tradisi/budaya pada masa animisme. Pohon dianggap sebagai representasi budaya animisme nenek moyang dan dipercaya memiliki kekuatan ghaib.

Karena ketergantungan pada alam yang begitu besar, Manusia merasa wajib menghormati dan menjaga keseimbangan alam, dan pemujaan terhadap pohon pun menjadi perwujudannya.

Tapi untuk Manusia modern, hal itu terkesan berlebihan. Padahal sejatinya, menghormati dan memelihara alam merupakan suatu keharusan jika Manusia ingin selamat dan terhindar dari murka alam/bencana alam.

Pohon memiliki konteks sosial dan menjadi entitas Manusia prasejarah, yang seharusnya juga tetap menjadi keprihatinan Manusia modern untuk memeliharanya. Tidak mengherankan jika ada beberapa jenis pohon yang dikeramatkan sampai saat ini, termasuk yang sering dikeramatkan adalah pohon Beringin.

• Payung tertutup

Payung adalah alat perlindungan dari hujan dan terik Matahari. Payung sejak dulu memang dikaitkan dengan simbol kepemimpinan yang mengayomi dan sebagai simbol kehormatan serta kekuasaan. Karena hanya keluarga Kerajaan atau pejabat tinggi Kerajaan yang boleh memakai payung pada saat itu.

Simbol payung tertutup pada Keris Omyang Jimbe bisa dikatakan sebagai simbol kesiap siagaan/selalu berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang akan datang seperti panas dan hujan serta merupakan simbol kepemimpinan, kekuasaan, dan kehormatan. "Sedia payung sebelum hujan", mungkin itu ungkapan yang tepat atas simbol payung tersebut.

• Aksara Jawa

Ukiran aksara Jawa pada bilah Keris Omyang adalah tanda/identitas dari Keris tersebut yang merupakan susunan kata yang terbaca "Humyang Jimbe".

Baca juga:

Misteri dan keampuhan Keris Setan Kober

Karakter dan sifat Keris menurut sosok khodamnya

Demikian sedikit informasi tentang makna simbol-simbol pada Keris Omyang Jimbe yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar benda-benda pusaka, dapat dibaca pada artikel Harta Langit yang lain.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Makna simbol-simbol pada Keris Omyang Jimbe"

Untuk Pemesanan Benda Pusaka, Call/Sms: 0858-7027-7889 atau Chat via WA: