Advertisement

Ritual Pesugihan Kembang Sore Tulungagung

giri bolo tulungagung jawa timur
Giri Bolo - Tulungagung

Hartalangit.com – Ritual Pesugihan Kembang Sore di Tulungagung cukup terkenal dan menjadi salah satu tempat Pesugihan yang banyak didatangi oleh orang-orang yang mencari Pesugihan dari berbagai daerah di Indonesia.

Lokasi Pesugihan Kembang Sore terletak di Bukit Bolo, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Di tempat tersebut terdapat makam kuno yang sering di kunjungi para peziarah dari berbagai daerah dengan tujuan untuk ngalap berkah, dan ada juga yang terang-terangan datang untuk mencari pesugihan.


Sebelum melakukan ritual Pesugihan ditempat tersebut, biasanya para peziarah akan menemui juru kunci (kuncen) makam Nyi Roro Kembang Sore untuk menanyakan persyaratan yang harus disiapkan dan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan untuk melakukan ritual Pesugihan Kembang Sore.

Para pencari pesugihan biasanya diharuskan untuk meyiapkan persyaratan khusus yang disebut dengan istilah sekul anget (nasi gurih panggang ayam) dan sekul wangi (kembang telon, minyak wangi dan kemenyan). Sepulang dari melakukan ritual, pelaku Pesugihan tidak boleh berhenti di kawasan Gunung Bolo.

Jika pelaku Pesugihan berhasil mendapatkan apa yang di inginkan, maka dia harus menyembelih kambing pada hari jumat pon di makam Nyi Roro Kembagsore. Setelah itu, semua uborampe dikendurikan di makam tersebut oleh juru kunci.

Yang menarik dan menjadi ciri khas dari Pesugihan Kembang Sore, yaitu jika ingin cepat berhasil maka para pelaku Pesugihan harus melakukan hubungan terlarang dengan orang lain yang bukan pasangan resminya.

Karena adanya kepercayaan tentang ritual terlarang itulah yang menyebabkan maraknya praktek protitusi terselubung ditempat tersebut untuk membantu memudahkan para pelaku Pesugihan untuk melaksanakan persyaratan dari ritual Pesugihan yang dijalaninya.

Selain itu, para peziarah juga tidak boleh datang bersama istri atau suaminya, karena mitosnya jika datang ke tempat tersebut bersama suami/istrinya maka rumah tangganya tidak akan bertahan lama.

Mitos tersebut sudah menjadi cerita turun-temurun dan dipercaya oleh masyarakat setempat serta orang-orang yang datang ke makam Nyi Roro Kembang Sore.

Kemungkinan mitos tersebut berkaitan dengan kisah tentang Nyi Roro Kembang Sore yang tidak pernah menikah sampai akhir hidupnya. Konon Nyi Roro Kembang Sore tidak suka jika ada pasangan suami istri yang datang ke tempat tersebut.


lokasi tempat pesugihan kembang sore tulungagung
Makam Nyi Roro Kembang Sore

Menurut cerita legenda, Roro Kebang Sore adalah seorang putri cantik jelita yang merupakan anak dari Adipati Bedalem  dari Kadipaten Bonorowo.

Konon Roro Kembang Sore tidak pernah menikah sampai akhir hidupnya. Sebetulnya banyak para Pangeran dan Bupati yang melamarnya, tapi dia menolaknya secara halus agar tidak melukai perasaan mereka, hingga pada akhirnya Roro Kembang Sore jatuh cinta pada seorang sudra (rakyat biasa) yang bernama Joko Budheg.

Lamaran Joko Budheg tidak serta merta di terima begitu saja, tapi dengan syarat yang cukup berat. Roro Kembang Sore mau menerima lamaran Joko Budeg asalkan dia sanggup bertapa selama 40 hari 40 malam di sebuah bukit dengan beralaskan batu dan memakai tutup kepala “cikrak” (peralatan untuk membuang sampah) sambil menghadap ke laut kidul (laut selatan).


Joko Budeg menerima persyaratan tersebut dan melakukan apa yang diminta oleh Roro Kembang Sore. Setelah beberapa lama sampai waktu yang telah di tentukan, Roro Kembang Sore yang pada dasarnya memang memiliki perasaan cinta kepada Joko Budeg berharap agar pujaan hatinya itu segera datang kepadanya.

Tapi ternyata Joko Budheg tidak kunjung datang hingga akhirnya Roro Kembang Sore memutuskan untuk menyusul Joko Budheg ketempat pertapaanya.

Sesampainya disana, Roro Kembang Sore mendapati Joko Budheg masih bertapa. Kemudian dia berusaha untuk membangunkan Joko Budeg dari pertapaanya, tapi Joko Budheg tidak kunjung bangun.

Karena merasa jengkel, akhirnya keluar kata-kata dari mulut Roro Kembang Sore: “ditangekke kok mung jegideg wae koyo watu”, yang artinya: “dibangunkan kok tidak bangun-bangun seperti batu”. dan seketika itu terjadi sebuah keajaiban, tubuh Joko Budheg yang sedang duduk bertapa tiba-tiba berubah wujud menjadi batu.

Bukit yang konon dulu digunakan oleh Joko Budeg untuk bertapa dikenal dengan nama “Gunung Budheg” dan batu Joko Budeg bertapa juga masih untuh sampai sekarang.

Dengan perasaan kecewa Roro Kembang Sore kembali ke rumahnya dan dia bersumpah tidak akan menikah sampai ajal menjemputnya.

Untuk melaksanakan sumpahnya, Roro Kembang Sore akhirnya bertapa di suatu tempat sampai meninggal dunia dan dikuburkan di tepat itu juga.

Saat ini tempat pemakaman Nyi Roro Kembang Sore dikenal sebagai Pemakaman Gunung Bolo yang sangat terkenal di Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.


Demikian sedikit informasi tentang ritual Pesugihan Kembang Sore di Tulungagung yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar dunia spiritual dan supranatural, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya.

Semoga bermanfaat
Terima kasih

Post a Comment for "Ritual Pesugihan Kembang Sore Tulungagung"

UNTUK PEMESANAN BENDA PUSAKA: